BLITAR KAWENTAR— Memasuki pertengahan tahun 2026, dinamika pasar ponsel pintar kelas menengah di Indonesia kian tidak menentu akibat kondisi ekonomi global yang tidak stabil serta melonjaknya harga komponen RAM. Di tengah situasi tersebut, jajaran gawai rilisan setahun lalu kembali menjadi incaran alternatif bagi para pemburu performa ekonomis. Salah satu perangkat yang paling memicu rasa penasaran publik adalah Infinix GT30 Pro. Setelah genap satu tahun mengarungi ketatnya persaingan pasar, gawai gaming andalan Infinix ini terbukti memiliki fluktuasi harga yang sangat awet, di mana harga unitnya saat ini terpantau hanya mengalami penurunan sekitar Rp 500.000 hingga Rp 600.000 dari harga rilis perdananya dan masih bertahan kokoh di rentang harga Rp 3 jutaan.
Pertanyaan krusial yang kini membayang-bayang di benak para gamer adalah terkait isu degradasi performa (performance degradation). Apakah kombinasi komponen internal Infinix GT30 Pro masih sanggup melahap jajaran gim generasi baru yang rutin mendapatkan pembaruan (update) masif setiap harinya? Melalui pengujian intensif terbaru di tahun 2026, ketangguhan dapur pacu MediaTek Dimensity 8350 Ultimate yang dipadukan dengan media penyimpanan internal berstandar premium UFS 4.1 terbukti masih mampu menyuguhkan performa harian yang luar biasa responsif layaknya sebuah ponsel kelas atas (flagship).
Meskipun secara visual konstruksi bodinya didominasi oleh material plastik yang terasa kurang premium saat digenggam, rancangan punggung berkonsep futuristik ala gawai Nothing Phone miliknya dinilai masih sangat solid dan modis. Begitu pula dengan sektor panel visual bagian depannya. Infinix GT30 Pro masih mempertahankan reputasi terbaiknya lewat panel AMOLED teran dan jernih yang mendukung laju penyegaran (refresh rate) hingga 144 Hz. Kontras warna yang disajikan saat menikmati konten multimedia pun terasa sangat nyaman di mata berkat sertifikasi Widevine L1 dan dukungan True HDR10 Plus yang tertanam sempurna di dalam sistem.
Uji Game Baru Wuthering Waves dan Arknights: Endfield
Saat diajak berakselerasi menjalankan gim aksi RPG modern yang terkenal berat, tantangan nyata baru mulai terlihat. Pada pengujian gim Wuthering Waves, performa gawai ini mulai tampak kewalahan jika dipaksa menggunakan setelan grafis tertinggi (rata kanan). Angka kelancaran gambar (frame rate) yang semula stabil di kisaran 60 fps terpaksa turun drastis ke angka 30 fps pada area pertempuran yang ramai, sehingga pengguna sangat disarankan untuk menurunkan setelan ke kualitas menengah (Medium). Masalah suhu panas juga masih menjadi momok menakutkan, di mana bodi ponsel dapat melonjak hingga menyentuh angka 48 hingga 49 derajat Celcius jika dimainkan lebih dari 30 menit tanpa bantuan kipas pendingin (cooler) eksternal.
Kondisi sebaliknya justru ditunjukkan saat gawai ini menguji gim strategi teranyar, Arknights: Endfield. Pada setelan grafis kombinasi Very High dan Medium, Infinix GT30 Pro mampu mengamankan rata-rata performa di kisaran 35 fps dengan sangat stabil tanpa adanya kendala patah-patah (stuttering), dengan suhu bodi yang jauh lebih terjaga di angka 43 derajat Celcius. Kejutan terbesar juga dirasakan oleh para pencinta gim ritme kompetitif seperti Project SEKAI COLORFUL STAGE!. Berkat sensitivitas layar yang luar biasa responsif tanpa adanya gejala touch delay, gawai ini mampu mengeksekusi mode 120 Hz dengan sangat mulus di kecepatan 90 fps, menyaingi kenyamanan layar ponsel premium seharga belasan juta rupiah.
Bug Volume dan Sistem Pembatas FPS yang Menyebalkan
Di samping performa mesinnya yang masih tergolong monster untuk kelas Rp 3 jutaan di tahun 2026, gawai ini rupanya masih mengemas beberapa cacat perangkat lunak (software bug) lawas yang belum kunjung diselesaikan oleh pihak Infinix. Masalah pertama muncul dari sektor audio speaker stereo JBL miliknya. Saat digunakan di luar aktivitas bermain gim, kualitas suaranya terdengar sangat lantang dengan detail bas yang rapi. Namun, saat dipakai bermain gim, volume suaranya tiba-tiba mengecil dan kualitas kedalaman ruang (sound stage) menurun drastis. Ditambah lagi, terdapat lompatan tingkat kekerasan audio yang sangat mengganggu dari posisi volume 95 persen ke 100 persen.
Kendala Fitur Game Mode: Gangguan paling krusial yang sering dikeluhkan oleh para pengguna Infinix GT30 Pro berada pada sistem optimasi bawaan di aplikasi X Arena. Ketika fitur Game Mode diaktifkan, sistem secara sepihak akan mengunci batas kemampuan bermain gawai (cap FPS) mentok di angka 45 fps saja, baik pada mode hemat daya maupun performa. Imbasnya, pengguna terpaksa harus menonaktifkan fitur tersebut agar bisa menikmati performa tinggi di atas 60 fps, yang sekaligus mengorbankan fungsionalitas fitur pengisian daya bypass (Bypass Charging).
Melirik pada aspek daya, baterai berkapasitas 5.500 mAh miliknya memang terasa sedikit boros saat digempur aktivitas gaming berat harian, di mana konsumsi dayanya dapat merosot hingga 12 persen hanya dalam waktu 14 menit. Namun, untuk skenario penggunaan kasual non-gaming, baterai ini masih sangat andal bertahan hingga satu hari penuh dengan manajemen daya standby malam hari yang sangat hemat. Sektor videografi juga masih menjadi salah satu yang terbaik di kelas tiga jutaan berkat kemampuan kamera utama 108 megapikselnya dalam memproduksi rekaman video berformat 4K pada kecepatan 60 fps secara jernih untuk kebutuhan pembuatan konten kreatif. Berjalan pada sistem operasi Android 15 dengan antarmuka XOS yang bersih, Infinix GT30 Pro terbukti masih kokoh berdiri sebagai rajanya ponsel gaming murah yang belum memiliki kompetitor tanding sepadan di tahun ini.