BLITAR KAWENTAR– Peralihan tren otomotif dari kendaraan bermesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) menuju era elektrifikasi kini semakin masif dirasakan di tanah air. Bagi para penggiat otomotif maupun konsumen yang ingin beralih ke moda transportasi ramah lingkungan, pertimbangan finansial tentu menjadi faktor paling krusial. Di tengah melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), efisiensi yang ditawarkan oleh mobil listrik memang sangat menggoda. Namun, muncul satu dilema besar yang wajib dipertimbangkan secara matang: lebih menguntungkan membeli mobil listrik baru atau justru meminang mobil listrik bekas?
Jika orientasinya adalah nilai fungsionalitas dan efisiensi pengeluaran harian, pasar mobil listrik bekas saat ini menawarkan harga yang sangat seksi dan menggiurkan. Berdasarkan data terbaru dari bursa inspeksi Otospektor pada pertengahan tahun 2026 ini, depresiasi nilai jual kendaraan elektrik seken sukses membuat para pengamat geleng-geleng kepala. Penurunan harga yang terjadi dinilai tidak wajar jika dibandingkan dengan sejarah penyusutan harga mobil berbahan bakar bensin maupun diesel di tahun-tahun sebelumnya.
Faktor utama yang menjadi momok jatuhnya harga jual kembali (resale value) mobil listrik secara drastis bukanlah karena kualitas unitnya yang buruk, melainkan sikap skeptis masyarakat terhadap daya tahan atau durability baterai. Calon pembeli mobil listrik bekas umumnya sangat khawatir terhadap unit seken berusia 2 hingga 4 tahun yang memiliki catatan jarak tempuh tinggi mendekati 100.000 kilometer. Durasi pemakaian yang padat memicu kekhawatiran bahwa kesehatan baterai (Battery Health) sudah terkuras habis, sehingga harga bekasnya di pasaran langsung jomplang dan terjun bebas.
Fenomena Penyusutan Harga: Wuling Air EV hingga Hyundai Ioniq 5
Penyusutan harga yang paling ekstrem saat ini dapat dilihat pada segmen city car elektrik yang menjadi primadona kaum urban, salah satunya adalah Wuling Air EV. Mobil listrik mungil yang telah terjual belasan ribu unit sejak peluncurannya pada tahun 2022 lalu tersebut kini harga sekennya berada di titik terendah. Untuk Wuling Air EV varian Standard Range lansiran 2022, harga bekasnya kini dibanderol di bawah Rp100 juta, tepatnya di kisaran Rp95 juta saja. Sementara untuk varian Long Range berada di angka Rp125 jutaan, alias sudah menyusut hingga separuh dari harga barunya terdahulu.
Depresiasi masif ini tidak hanya menyerang segmen mobil kompak, melainkan juga menghantam lini mobil listrik premium. Ambil contoh Hyundai Ioniq 5 varian Signature Long Range keluaran tahun 2022. Pada awal kemunculannya, mobil rakitan Korea Selatan ini dipasarkan dengan harga fantastis menembus angka Rp800 jutaan. Namun, memasuki tahun 2026, unit sekennya sudah bisa dibawa pulang dengan rentang harga Rp379 juta hingga Rp400 juta saja. Penurunan sebesar 50 persen dalam kurun waktu empat tahun ini mengindikasikan terjadinya penyusutan nilai aset sekitar Rp100 juta setiap tahunnya.
Hal serupa juga menimpa lini kendaraan keluarga elektrik yang baru berumur jagung seperti BYD M6. Varian BYD M6 Superior lansiran tahun 2024 yang harga barunya sempat menyentuh Rp423 juta, kini di bursa mobil bekas 2026 sudah marak ditawarkan di angka Rp329 juta saja. Penurunan hingga Rp100 juta dalam kurun waktu kurang dari dua tahun menjadi bukti nyata bahwa nilai depresiasi mobil listrik baru masih tergolong sangat tinggi di pasar domestik.
Strategi Cerdas untuk Para Konsumen Oportunis
Melihat dinamika pasar yang unik ini, para pecinta kecepatan yang ingin berhemat dari jeratan harga BBM mahal disarankan untuk menjadi konsumen yang oportunis. Daripada memaksakan diri membeli mobil listrik baru yang nilainya akan langsung merosot tajam begitu keluar dari diler, meminang mobil listrik bekas berkualitas dinilai sebagai langkah yang jauh lebih cerdas dan minim risiko finansial.
Konsumen tidak perlu terlalu cemas mengenai garansi, karena mayoritas pabrikan besar saat ini memberikan jaminan atau garansi baterai yang sangat panjang, rata-rata hingga 8 tahun pemakaian. Artinya, jika Anda membeli unit seken lansiran tahun 2022 atau 2024, sisa masa garansi resmi baterai dari pabrikan masih melekat erat hingga beberapa tahun ke depan. Untuk mobilitas harian seperti rute rumah menuju kantor atau tempat usaha, memilih varian dengan jarak tempuh pendek (Short Range) berharga murah sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan harian Anda tanpa harus menguras kantong.