BLITAR KAWENTAR– Dinamika pasar kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia kembali mengalami pergeseran yang cukup ekstrem. Penurunan harga dan strategi diskon masif yang diterapkan oleh produsen mobil baru ternyata membawa dampak domino yang signifikan terhadap ekosistem pasar mobil bekas. Salah satu model yang paling terdampak secara nyata dalam fenomena penyusutan harga ini adalah Wuling Air EV, kendaraan listrik kompak yang sempat mendominasi jalanan perkotaan dalam beberapa tahun terakhir.
Sinyal kejatuhan harga ini sejatinya mulai terendus sejak pergelaran ajang pameran otomotif bergengsi Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 lalu. Pada ajang tersebut, sejumlah tenaga penjual diler resmi Wuling gencar menawarkan potongan harga atau diskon besar-besaran untuk unit baru Wuling Air EV. Strategi tersebut memangkas banderol harga jual unit barunya hingga menyentuh angka Rp160 jutaan. Langkah agresif pabrikan dalam memotong harga unit baru ini tak pelak langsung memicu kepanikan dan menyeret jatuh harga unit seken di tingkat pedagang showroom.
Menurut penuturan sejumlah pelaku usaha atau pedagang mobil bekas, nilai jual kembali Wuling Air EV seken saat ini mengalami penurunan yang sangat tajam. Tidak tanggung-tanggung, tingkat depresiasi atau penyusutan nilai kendaraan elektrik kompak ini tercatat menembus angka 30 hingga 35 persen per tahun. Tren penurunan harga yang terjadi secara drastis dalam kurun waktu singkat ini dinilai tidak hanya menggerus margin keuntungan pedagang, tetapi juga merusak reputasi nilai jual kembali (resale value) mobil listrik di mata konsumen luas.
Hukum Pasar: Efek Domino Strategi Pabrikan terhadap Pedagang
Daniel Libianto, pemilik diler mobil bekas Victory 88 yang berlokasi di pusat otomotif MGK Kemayoran, Jakarta Pusat, membenarkan adanya fenomena tersebut. Menurutnya, kondisi jatuhnya harga seken murni dipicu oleh keputusan strategis dari pihak pabrikan sendiri. Ketika produsen menurunkan harga mobil baru secara signifikan dan ditambah dengan guyuran diskon besar-besaran di pameran, maka secara otomatis harga pasaran unit bekas di pasar sekunder akan langsung ikut terseret jatuh demi menjaga daya saing.
Dampak konkret dari penurunan harga ini juga dirasakan langsung oleh Andi, pemilik showroom mobil bekas Jordi Motor. Ia mengungkapkan bahwa sebelum harga pasaran terjun bebas seperti saat ini, para pedagang masih berani menyerap atau membeli unit Wuling Air EV bekas dari tangan konsumen di angka Rp135 jutaan.
"Sekarang situasinya sudah berubah total. Untuk tipe tertinggi (Long Range) keluaran tahun 2022, pedagang maksimal hanya berani menawar di angka Rp100 juta. Sementara untuk tipe terendah (Standard Range/Lite) di tahun yang sama, harganya jatuh lebih dalam hingga ke kisaran Rp70 jutaan saja," ujar Andi menjelaskan kondisi riil di pasar sekunder.
Peluang bagi Konsumen, Tekanan bagi Pelaku Usaha
Bagi para calon pembeli atau konsumen umum, fenomena anjloknya harga ini tentu dipandang sebagai sebuah peluang emas yang sangat menguntungkan. Kondisi ini memungkinkan masyarakat untuk bermigrasi dan memiliki sebuah mobil listrik harian yang ramah kantong dengan budget yang jauh lebih terjangkau di bawah Rp100 juta.
Sebaliknya, bagi para pelaku usaha mobil bekas, tren penurunan yang berjalan sangat cepat ini menjadi tekanan yang menakutkan. Para pedagang kini dituntut untuk bergerak ekstra cepat dalam memutar ekosistem stok unit mereka. Menahan stok mobil listrik terlalu lama di dalam showroom saat ini dinilai memiliki risiko finansial yang sangat tinggi, sehingga jalan satu-satunya adalah langsung melepas unit ke pasar dengan keuntungan tipis—atau bahkan merugi—daripada harus menanggung kerugian yang jauh lebih besar di kemudian hari.
Berdasarkan penelusuran berkala di sejumlah platform situs jual beli mobil bekas daring, harga penawaran untuk Wuling Air EV seken kini memang sangat bervariasi. Nilai jual unit tersebut sangat bergantung pada tahun perakitan, kondisi kesehatan fisik baterai, jarak tempuh pada odometer, serta kelengkapan dokumen legalitas kendaraan.