Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Curhat Pemilik Wuling Air EV Lite Jadi Kendaraan Pertama: Menggemaskan tapi Repot Harus Bolak-Balik SPKLU Tanpa Home Charging!

Cholifatun Nisak • Minggu, 14 Juni 2026 | 17:55 WIB
Suka duka pakai Wuling Air EV Lite  untuk harian tanpa home charging. Intip drama antre SPKLU AC hingga konektor yang dicabut paksa!
Suka duka pakai Wuling Air EV Lite  untuk harian tanpa home charging. Intip drama antre SPKLU AC hingga konektor yang dicabut paksa!

BLITAR KAWENTAR– Tren kepemilikan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di kalangan generasi muda atau Gen Z kini kian meningkat pesat. Jika sebagian besar masyarakat menjadikan mobil listrik sebagai mobil kedua atau ketiga untuk sekadar operasional jarak pendek, cerita berbeda justru datang dari seorang konsumen muda bernama Eca. Melalui segmen Owner Talk (OTR), ia membagikan pengalaman uniknya dalam mengandalkan mobil listrik mungil Wuling Air EV Lite lansiran tahun 2025 sebagai mobil pertama dan satu-satunya untuk menunjang mobilitas harian.

Eca mengungkapkan ada tiga alasan utama yang membuatnya mantap menjatuhkan pilihan pada mobil kompak berkonfigurasi dua pintu ini. Alasan tersebut meliputi dimensinya yang ringkas untuk membelah kemacetan, kecocokan harga dengan anggaran pribadinya, serta kehadiran varian warna hitam (starlight black) yang memiliki kombinasi warna interior sangat menggemaskan. Sebagai pekerja urban, ia menggunakan mobil berpelat nomor insentif ini untuk rute harian menuju kantor hingga pergi berolahraga tenis dengan jarak tempuh sekitar 20 hingga 30 kilometer per hari.

Meski dibekali kapasitas baterai yang diklaim pabrikan mampu menempuh jarak maksimal hingga 300 kilometer, status Eca yang tinggal di sebuah rumah kos memicu tantangan tersendiri. Akibat tidak adanya fasilitas alat pengisian daya mandiri di kos (home charging), ia terpaksa harus menggantungkan kebutuhan daya mobilnya 100 persen pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di area publik.

Baca Juga: Analisis Tren Otomotif: Menilik Akar Masalah Anjloknya Harga Wuling Air EV Bekas di Fase Pasar Elektrik yang Kian Kompetitif

Tantangan Pengisian Daya AC Tanpa Fitur Fast Charging

Kondisi tersebut melahirkan dilema operasional yang cukup menyita waktu. Mengingat varian Wuling Air EV Lite belum dibekali dengan fitur pengisian daya cepat (Fast Charging/DC Charging), mobil ini hanya bisa menerima asupan listrik melalui arus bolak-balik (AC Charging). Konsekuensinya, proses pengisian daya dari posisi kosong hingga penuh membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa memakan waktu hingga lebih dari 5 jam.

Tidak hanya durasi pengisian yang lama, keterbatasan infrastruktur SPKLU jenis AC dan perilaku pengguna jalan lain di area pengisian daya juga kerap memicu kekesalan. Masalah teknis lain muncul pada bagian soket pengisian. Meski unit barunya sudah menggunakan standar soket CCS, pengguna tipe Lite tetap diwajibkan menggunakan alat adaptor konektor tambahan saat mencolokkan kabel ke dispenser SPKLU.

"Yang menyebalkan itu kalau kita tinggal mobil di SPKLU, konektor tambahannya itu tidak ikut terkunci otomatis meskipun pintu mobil sudah di-lock. Saya pernah ditinggal ngecas selama 10 jam dengan harapan bisa penuh. Ternyata baru berjalan 5 jam, konektornya dicabut paksa oleh orang lain yang mau mengantre. Alhasil baterai baru terisi sekitar 20 sampai 30 persen saja," keluh Eca menceritakan pengalamannya.

Akibat seringnya drama perebutan colokan di SPKLU, ia kini jarang melakukan pengisian daya hingga menyentuh angka 100 persen penuh. Dalam satu minggu, ia rata-rata mengunjungi SPKLU sebanyak dua hingga tiga kali. Menariknya, ia juga tergolong berani dalam mengemudi dengan sering kali menyisakan daya baterai di indikator panel instrumen hingga menyentuh angka kritis 15 persen (indikator baterai berwarna merah) sebelum akhirnya memutuskan pergi ke tempat pengisian daya.

Catatan Kenyamanan Suspensi dan Layanan Aftersales

Dari segi impresi berkendara, mobil kompak yang menggunakan ukuran velg mini 12 inci ini dinilai lincah untuk bermanuver di jalanan padat. Namun, terdapat catatan minor pada sektor kenyamanan suspensinya. Pengguna merasakan gejala bantingan roda belakang yang cenderung memantul atau membuang ke samping (oversteer minor) saat mobil melintasi polisi tidur (bumpy road) di area perkotaan seperti BSD, meskipun dilalui dalam kecepatan rendah antara 20 hingga 30 km/jam.

Terlepas dari kekurangan pada suspensi dan durasi cas, sektor layanan purnajual (aftersales) dari Wuling Motors dinilai sangat memuaskan dan responsif. Berdasarkan panduan buku manual, servis berkala rutin dilakukan pada kelipatan 5.000 km dan 10.000 km, di mana seluruh biaya jasa dan suku cadang untuk tahun pertama pemakaian masih digratiskan sepenuhnya oleh pihak diler resmi.

Kendati demikian, fluktuasi strategi harga dan diskon besar-besaran yang terjadi pada ajang pameran GIIAS pertengahan tahun lalu sempat membuat Eca merasa kecewa. Pasalnya, hanya berselang dua bulan setelah ia membeli unit Air EV Lite miliknya, harga pasaran untuk model di atasnya yakni Wuling BinguoEV justru mengalami pemotongan harga yang cukup drastis di lantai pameran. Hal ini membuatnya memiliki rencana jangka panjang untuk segera melakukan upgrade kendaraan dan beralih ke model BinguoEV hitam yang memiliki kabin lebih luas serta sistem pengisian daya yang lebih akomodatif di masa mendatang.

Baca Juga: Analisis Tren Otomotif: Menilik Akar Masalah Anjloknya Harga Wuling Air EV Bekas di Fase Pasar Elektrik yang Kian Kompetitif

Editor : Cholifatun Nisak
#Wuling Air ev Lite #Review Wuling Air EV #Masalah Charger Mobil Listrik #SPKLU AC #Pengalaman Pakai Mobil Listrik