BLITAR KAWENTAR– Era elektrifikasi di pasar otomotif tanah air kian menunjukkan keseriusan yang nyata. Setelah sukses memperkenalkan lini kendaraan listrik murni lewat Hyundai Ioniq Electric (sedan liftback) yang juga menjadi basis armada taksi daring Grab, PT Hyundai Motor Indonesia (HMID) dikabarkan bakal memperluas pasarnya dengan bersiap meluncurkan generasi terbaru dari Hyundai Kona Elektrik. Di tengah riuhnya isu bahwa mobil listrik itu "ribet" dan kompleks untuk operasional harian, sebuah sesi pengujian jangka panjang (long-term test) justru membuktikan hal yang sebaliknya. Mobil ramah lingkungan ini terbukti sangat menyenangkan, efisien, dan ramah kantong.
Bagi pengemudi pemula, tata letak konsol tengah Hyundai Ioniq Electric mungkin terlihat tidak biasa karena tidak lagi menggunakan tuas mekanis atau joystick, melainkan beralih menggunakan tombol Shift-by-Wire (P, R, N, D). Rangkaian tombol ini sempat memicu kekhawatiran mengenai risiko salah pencet secara tidak sengaja saat mobil melaju kencang. Namun, melalui pengujian langsung pada kecepatan 40 km/jam, sistem komputerisasi mobil terbukti memiliki sensor proteksi yang sangat aman. Ketika tombol 'R' (Mundur) atau 'P' (Parkir) ditekan saat bergerak, roda tidak akan mendadak mengunci atau berjalan mundur, melainkan muncul notifikasi "Condition Not Meet" atau "Shift after Stopping", yang mewajibkan pengemudi menginjak rem dan menghentikan mobil sepenuhnya terlebih dahulu.
Performa Instan Layaknya "Odading" dan Efisiensi Energi yang Menakjubkan
Urusan performa menjadi menu utama yang paling memikat dari mobil ini. Dibekali motor listrik berkekuatan 100 kW yang setara dengan 136 Horsepower (DK) serta letupan torsi instan mencapai 295 Nm, akselerasi kendaraan ini terasa sangat responsif dari kecepatan menengah.
"Rasanya itu mantap banget, instan kayak lagi makan odading. Ketika pedal akselerasi diinjak di mode Normal saja, mobil langsung meluncur cepat," ungkap penguji dalam ulasannya.
Berdasarkan data pengetesan, akselerasi dari 0 hingga 100 km/jam dapat dituntaskan dalam waktu 9,3 detik. Angka ini memang tidak sefantastis beberapa sedan sport mewah, namun karakter penyaluran dayanya jauh lebih efisien untuk kebutuhan harian.
Dalam rute dalam kota dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam, tingkat konsumsi energinya mampu menyentuh angka 10,4 km/kWh. Sementara pada rute bebas hambatan (jalan tol) dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam, konsumsinya berada di angka 8,2 km/kWh. Jika dikonversi dengan harga bahan bakar mobil konvensional (asumsi bensin Rp9.000 per liter) dan tarif listrik rumahan (kisaran Rp1.300 hingga Rp1.500 per kWh), efisiensi biaya operasional Hyundai Ioniq Electric ini setara dengan mobil bensin yang mampu menempuh jarak luar biasa irit, yakni 60 kilometer per liter.
Simulasi Pengisian Daya (Charging) dan Manajemen Baterai
Hyundai Ioniq Electric dipasarkan dengan kapasitas baterai murni sebesar 38,3 kWh (secara hitungan kasar dibulatkan menjadi 40 kWh). Melalui indikator di layar monitor, pengemudi dapat memantau estimasi jarak tempuh serta durasi pengisian daya dari berbagai jenis soket dispenser listrik:
-
AC Portable (Rumahan): Membutuhkan waktu pengisian sekitar 9 jam 10 menit dari kondisi kosong hingga penuh. Sarana cas di rumah membutuhkan kapasitas daya minimal di atas 3.000 VA hingga 5.000 VA agar tidak memicu kendala mati lampu akibat kelebihan beban elektronik rumah tangga.
-
AC Charging (Normal/Wall Charger 7 kW): Pengisian daya dari posisi 50% hingga penuh membutuhkan waktu sekitar 3 jam 10 menit.
-
DC Fast Charging (20 kW): Pengisian daya dari 50% hingga penuh membutuhkan waktu 1 jam 16 menit, di mana untuk pengisian dari 0 hingga 80% hanya memakan waktu sekitar 30 menitan saja.
-
Ultra Fast Charging (150 kW): Hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari posisi kosong hingga terisi penuh.
Untuk memaksimalkan daya jelajah baterai, mobil ini juga dilengkapi dengan empat mode berkendara (Sport, Normal, Eco, dan Eco Plus). Pada mode ekstrem Eco Plus, kecepatan maksimal mobil akan dibatasi otomatis pada angka 90 km/jam dan sistem AC akan dinonaktifkan demi menghemat sisa daya listrik saat indikator baterai mulai kritis di bawah 30%. Pengemudi juga dapat mengatur tingkat kekuatan rem regeneratif (Regenerative Braking) melalui tuas paddle shift di balik setir dari Level 0 (efek gliding lancar) hingga Level 3 (efek pengereman kuat yang otomatis mengisi ulang daya listrik kembali ke baterai).
Kenyamanan Kabin Kedap dan Beban Pajak Setara Mobil LCGC
Beralih ke sektor kenyamanan, karakter bantingan suspensi Hyundai Ioniq Electric dinilai lebih condong mirip dengan Honda Civic hatchback yang sedikit empuk, berbeda dengan Mazda 3 yang cenderung kaku. Kekedapan kabinnya patut diacungi jempol karena mampu mereduksi suara gemuruh ban (road noise) secara masif berkat absennya suara getaran mesin bensin (zero engine noise).
Fitur penunjang kenyamanan yang sangat cerdas di dalam kabin adalah tombol "Drive Only" pada panel AC digital. Jika diaktifkan saat berkendara sendirian, hembusan hawa dingin AC hanya akan dipusatkan pada area pengemudi saja, sementara kisi-kisi AC penumpang lainnya akan ditutup otomatis. Fitur ini sangat efektif memangkas konsumsi daya listrik harian. Ada pula fitur keselamatan aktif berupa Blind Spot Monitor yang akan memberikan bunyi peringatan beep-beep di spion jika terdeteksi ada objek tak terlihat saat pengemudi menyalakan lampu sein untuk berpindah lajur.
Faktor pamungkas yang membuat mobil listrik seken ini semakin layak dipertimbangkan adalah nilai ekonomis pajaknya. Karena adanya dukungan insentif regulasi pajak kendaraan listrik baru dari pemerintah DKI Jakarta, nilai Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan untuk Hyundai Ioniq Electric ini tergolong sangat murah. Biaya pajaknya tidak sampai menyentuh angka Rp3 juta, alias hanya berada di kisaran Rp1,3 juta hingga Rp3 juta kecil, yang mana nilai tersebut setara dengan beban pajak tahunan mobil kompak konvensional kelas LCGC.