BLITAR KAWENTAR– Pasar kendaraan listrik berbasis baterai murni berukuran ringkas (Micro EV) di Indonesia kini tidak lagi hanya didominasi oleh satu nama populer. Setelah sempat mencuri perhatian pada ajang GIIAS sebelumnya, PT Sokonindo Automation kini secara agresif mulai menerjunkan unit tes DFSK Seres E1 untuk membuktikan tajinya secara langsung di jalanan tanah air.
Hadir dalam dua varian, mobil listrik mungil ini dipasarkan dengan harga yang kompetitif di kisaran Rp100-200 jutaan. Untuk varian tertinggi yang diuji kali ini, yaitu Seres E1 L-Type (Long Range), unit ini menggendong baterai berkapasitas lebih besar yang diklaim sanggup menempuh jarak hingga 220 km dalam kondisi penuh, dengan estimasi jarak aman harian di angka 200 km. Lantas, apa saja nilai jual dan catatan unik yang dibawa oleh penantang Wuling Air EV ini?
Fitur Hiburan Unik: Sensasi "Tesla Versi Ekonomis"
Salah satu kejutan terbesar yang ditemukan pada interior Seres E1 L-Type berada di dalam sistem layarnya. DFSK menyematkan aplikasi hiburan bawaan bernama Car Auto yang memungkinkan pengguna untuk bermain video game jadul (seperti Captain Commando atau Street Fighter) langsung di layar utama mobil.
"Sistemnya tergolong unik. Pengguna cukup memindai QR Code untuk mengunduh aplikasi di ponsel, lalu menghubungkannya menggunakan kabel USB ke mobil. Ponsel pintar Anda secara otomatis akan berubah fungsi menjadi controller atau stik PS untuk memainkan game di layar dasbor. Pendekatan ini terasa seperti versi ekonomis dari fitur gaming yang ada pada mobil-mobil Tesla," tulis tim penguji dalam ulasannya.
Detail Eksterior dan Komponen Penggerak
Secara visual, Seres E1 membawa pendekatan desain yang atraktif. Pada sektor pencahayaan, lampu utama dan lampu belakang memang masih mengandalkan bohlam halogen biasa, namun sudah dikombinasikan dengan sentuhan lampu LED. Menariknya, lampu untuk plat nomor di area belakang justru sudah sepenuhnya mengadopsi teknologi LED.
Beralih ke balik kap depan, ruang tersebut murni diisi oleh komponen elektrikal mobil dan bukan berfungsi sebagai bagasi tambahan. Di area kaki-kaki, Seres E1 L-Type menonjolkan keunggulan mutlak dibanding beberapa varian base-model kompetitornya berkat pengaplikasian rem cakram (disc brake) di keempat rodanya, yang memberikan daya pengereman lebih solid.
Kenyamanan Kabin dan Desain Tanpa Central Door Lock
Masuk ke dalam kabin, Seres E1 menyajikan keselarasan estetika lewat permainan warna interior (seperti panel dasbor dan trim) yang senada dengan warna eksterior bodinya. Dari segi kenyamanan, kualitas audio mobil ini sedikit lebih unggul dibanding varian low-spec rivalnya berkat kehadiran konfigurasi dua buah speaker di pintu kanan dan kiri. Kabinnya juga dilengkapi dengan fitur kenyamanan Cruise Control konvensional untuk membantu pengendaraan di jalan bebas hambatan.
Namun, posisi berkendara (driving position) mobil ini dinilai kurang ergonomis. Desain joknya kurang menopang paha pengemudi secara maksimal, ditambah dengan setir yang bersifat paten alias tidak bisa diatur maju-mundur (reach) maupun naik-turun (tilt). Pengendara dengan postur tubuh tertentu wajib melakukan penyesuaian posisi duduk terlebih dahulu sebelum membeli.
Satu detail teknis yang sangat unik adalah absennya tombol fisik maupun digital untuk Central Door Lock di dalam kabin maupun di layar menu. Sebagai gantinya, DFSK menerapkan sistem keselamatan otomatis:
-
Pintu akan mengunci otomatis secara elektrik (auto lock) ketika mobil melaju di atas kecepatan 20 km/jam.
-
Untuk membuka kunci dari dalam, penumpang atau pengemudi cukup menarik tuas handle pintu bagian dalam, dan pintu akan otomatis terbuka.
-
Catatan Penting: Karakteristik ini memerlukan perhatian ekstra dan peringatan tegas, terutama jika Anda sering membawa anak kecil di baris kedua, agar mereka tidak menarik tuas pintu sembarangan saat mobil sedang berjalan.
Impresi Berkendara: Raja Komuter Kota yang "Walless"
Di atas kertas, Seres E1 dipersenjatai motor listrik yang dipasang di poros roda belakang (penggerak Rear-Wheel Drive / RWD). Karakteristik pengendaliannya dirancang sangat ramah untuk penggunaan di dalam kota (urban commuter):
-
Kemudahan Manuver: Dimensinya yang sangat ringkas membuat mobil ini dinilai sebagai "juara" untuk membelah jalanan sempit, masuk ke gang kecil yang biasanya hanya dilewati sepeda motor, hingga parkir di ruang yang nanggung. Radius putarnya sangat kecil sehingga putar balik terasa sangat mudah.
-
Karakter Setir: Setir berdiameter kecil ini terasa sangat ringan diputarkan pada kecepatan rendah. Saat diuji di jalan tol pada kecepatan 60–70 km/jam, bobot setir akan otomatis memberat secara mekanis untuk faktor keamanan, meski belum sepenuhnya memberikan rasa percaya diri (confident-inspiring) yang tinggi karena karakternya yang cenderung minim umpan balik (no feel).
-
Kekedapan Kabin: Peredaman suara tergolong standar di kelasnya. Pada kecepatan 40 km/jam, suara dari area kolong, gesekan ban, hingga gemuruh suara kendaraan lain masih sayup-sayup menyusup ke dalam kabin. Mengingat absennya suara mesin, pengemudi akan mendengarkan dua suara natural EV yang cukup dominan, yaitu dengungan kompresor AC dan desingan halus dari motor listrik belakang.
Untuk sektor performa, DFSK tampaknya sengaja merancang kurva tenaga Seres E1 agar terasa sangat aman (safe & secure), terutama bagi konsumen yang baru pertama kali bermigrasi ke kendaraan listrik. Imbasnya, respons injakan pedal gas dari posisi diam terasa memiliki jeda (delay) sebelum mobil bergerak maju, menyerupai karakter transmisi CVT pada mobil konvensional. Jeda ini akan sedikit berkurang ketika mobil berakselerasi dalam kondisi rolling (sudah berjalan).
Meskipun menyediakan dua mode berkendara (Eco dan Sport), perbedaan performa di antara keduanya dirasakan nyaris tidak ada. Kedua mode tersebut sama-sama menyajikan karakter tarikan yang sangat halus dan santai (walless). Karakter pedal remnya pun membutuhkan pembiasaan, di mana gigitan rem baru akan terasa pakem setelah pedal diinjak cukup dalam.
Manajemen Energi, Pengisian Daya, dan Keunggulan Slot Type 2
Sistem Regenerative Braking pada Seres E1 memiliki manajemen komputer yang pintar namun unik. Saat baterai mobil terisi penuh 100%, sistem regeneratif otomatis dinonaktifkan (tidak ada efek deselerasi pengisian daya) untuk mencegah kelebihan pasokan daya ke baterai yang sudah penuh. Sistem regenerative braking baru akan aktif kembali secara bertahap setelah kapasitas baterai menyusut ke angka 95%–96%. Kendati demikian, daya tahan cengkeraman regeneratifnya tidak terlalu kuat, sehingga mobil ini belum mendukung pengendaraan penuh satu pedal (one-pedal driving).
Untuk urusan efisiensi energi, layar MID Seres E1 mampu mencatatkan rekor konsumsi yang impresif di rentang 8 hingga 12 km per kWh. Salah satu keunggulan mutlak mobil ini dibanding kompetitor terdekatnya adalah penggunaan lubang colokan pengisian daya berstandar internasional tipe Type 2 (bukan standar G_BT asal Tiongkok yang sering dijumpai pada beberapa Micro EV lain). Kehadiran standar Type 2 ini membuat pemilik Seres E1 dapat langsung melakukan pengisian daya di SPKLU umum di Indonesia tanpa perlu repot membawa atau membeli adaptor tambahan. Saat diuji mengisi daya dari kapasitas 15% hingga 100%, mobil ini membutuhkan durasi sekitar 3 hingga 4 jam.
ACBaca Juga: Review DFSK Seres E1: Micro EV Paling Compact dengan Harga Paling Terjangkau di Kelasnya, Solusi Cerdas Komuter Perkotaan!
Catatan Pengendalian dan Kontrol
Walau memiliki titik berat (center of gravity) yang baik berkat penempatan baterai di bawah lantai, struktur bodi yang tinggi dan ringkas membuat Seres E1 terasa cukup limbung saat dipaksa melakukan manuver menikung (cornering) secara agresif. Karakternya suspensinya pun terasa sedikit lebih kaku dalam meredam kontur jalan bergelombang jika dibandingkan dengan rival utamanya.Di sisi lain, tata letak kontrol AC digital pada mobil ini menggunakan panel sentuh (touch panel). Panel ini tidak terintegrasi ke dalam layar hiburan tengah, yang sebenarnya menjadi nilai positif bagi pengemudi. Sayangnya, visualisasi informasi penting seperti kecepatan kipas (fan speed) dan temperatur AC justru dimunculkan di layar panel instrumen spidometer (di depan pengemudi), sehingga penumpang di sebelah kiri tidak dapat memantau setelan AC yang sedang diubah.
Tantangan Terbesar: Reputasi Branding di Indonesia
Secara fungsionalitas produk, DFSK Seres E1 merupakan sebuah Micro EV yang fungsional, standar, dan memiliki beberapa poin keunggulan yang esensial. Namun, rintangan terbesar mobil ini di pasar otomotif tanah air disinyalir murni datang dari faktor brand awareness.
Meskipun DFSK merupakan salah satu pabrikan raksasa di negara asalnya—bahkan memiliki jajaran lini produk teknologi tinggi hingga unit niaga listrik yang dipercaya oleh pabrikan besar sekelas Toyota sebagai armada operasional di Bali—di Indonesia nama DFSK masih harus bekerja ekstra keras membangun reputasi image kendaraan penumpang mereka agar mampu bersaing secara sejajar dengan dominasi merek Tiongkok lainnya yang bergerak lebih masif dalam beberapa tahun terakhir.