BLITAR KAWENTAR - Buka TikTok 5 menit, balas pesan teman, lalu melihat satu video lagi. Tanpa sadar, 1 jam berlalu begitu saja.
Fenomena tersebut dikenal sebagai digital dopamine, yakni kondisi ketika seseorang terus mencari kesenangan instan dari konten-konten singkat yang muncul di media sosial. Kini menjadi pemandangan yang jamak ditemui.
Dimas Laksana, pelajar SMK, mengaku pernah mengalami kondisi tersebut.
Awalnya hanya berniat membuka media sosial untuk mengisi waktu luang, namun tanpa disadari durasinya jauh lebih lama dari yang direncanakan.
”Kadang niatnya cuma sebentar, lihat satu video, lalu muncul video lain yang menarik. Tahu-tahu sudah lama dan lupa waktu,” ujarnya.
Menurut Dimas, kemudahan akses terhadap berbagai jenis konten membuat anak muda sulit berhenti.
Baca Juga: Jasad Santri Hanyut di Pantai Pangi Blitar Ditemukan Meninggal Dunia, Tim SAR Resmi Tutup Pencarian
Apalagi, algoritma media sosial terus menampilkan konten yang sesuai dengan minat pengguna sehingga memicu rasa penasaran.
Pelajar SMA lain, Ahmad Irul, menilai kebiasaan tersebut perlahan memengaruhi pola perilaku generasi muda.
Konten yang serbacepat membuat banyak orang terbiasa memperoleh hiburan secara instan.
”Sekarang informasi datang begitu cepat. Akibatnya, banyak anak muda yang terbiasa dengan sesuatu yang instan dan mudah bosan ketika harus menikmati konten yang lebih panjang atau membutuhkan konsentrasi,” katanya.
Media sosial sebenarnya tidak selalu berdampak buruk.
Namun, penggunaan yang berlebihan dapat mengurangi produktivitas hingga mengganggu kemampuan fokus seseorang dalam belajar maupun bekerja.
”Maka itu penting untuk mengatur waktu penggunaan gawai. Intinya harus bijak dan terkontrol,” pungkasnya.(bud/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari