Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Fenomena Silent Mode di Kalangan Gen Z Makin Marak, Pilih Batasi Interaksi Sosial demi Kurangi Tekanan Psikologis

Fajar Rahmad Ali Wardana • Kamis, 25 Juni 2026 | 12:52 WIB
Gen Z mulai menerapkan silent mode dengan lebih selektif berinteraksi dan tidak lagi mencari validasi sosial.
Gen Z mulai menerapkan silent mode dengan lebih selektif berinteraksi dan tidak lagi mencari validasi sosial.

BLITAR KAWENTAR – Fenomena silent mode semakin banyak dibicarakan di kalangan Generasi Z (Gen Z). Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk membatasi interaksi sosial yang dianggap berpotensi memicu tekanan psikologis dan kelelahan emosional.

 Salah satu bentuk yang paling sering dilakukan adalah mengurangi intensitas menghadiri acara keluarga besar maupun pertemuan sosial yang dinilai tidak memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.

Fenomena silent mode di kalangan Gen Z ini muncul seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga keseimbangan emosional.

Baca Juga: PNM Dukung Festival Penyu Jolosutro 2026 di Blitar, Perkuat Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir 

 Mereka cenderung lebih selektif dalam memilih lingkungan sosial dan jenis interaksi yang dijalani sehari-hari.

Bagi sebagian Gen Z, menjaga jarak dari situasi tertentu bukan berarti anti-sosial. Sebaliknya, langkah tersebut dianggap sebagai upaya untuk menghindari tekanan yang muncul akibat pertanyaan atau komentar yang dianggap terlalu personal.

Salah satu Gen Z yang menerapkan pola tersebut adalah Ika Putri Wahyu Ning Tyas. Perempuan berusia 23 tahun itu mengaku memilih mengurangi intensitas pertemuan dengan orang-orang yang berpotensi memunculkan tekanan emosional.

Baca Juga: Perpustakaan Keliling Kabupaten Blitar Makin Diminati, Layani 1.358 Pengunjung dalam Tiga Bulan, Jangkauan Lokasi Bertambah

Menurut Ika, bertambahnya usia membuat dirinya lebih menyadari bahwa tidak semua interaksi sosial memberikan energi positif.

 Dalam beberapa kesempatan, pertemuan dengan banyak orang justru terasa melelahkan, terutama ketika pembicaraan mulai mengarah pada pencapaian hidup pribadi.

“Semakin bertambah usia, kadang bertemu banyak orang justru terasa membuang energi. Apalagi kalau mulai muncul pertanyaan seperti kapan menikah atau membandingkan pekerjaan dan pencapaian hidup,” ujarnya.

Baca Juga: Blitar Booming Kasus Penyakit Menular! Dinkes Gercep Edukasi Pangan Aman di Kepanjenkidul Guna Putus Rantai Diare dan Tifus Melalui STBM Pilar 3

Pertanyaan seputar status pernikahan, karier, hingga pencapaian hidup menjadi topik yang sering muncul dalam berbagai acara keluarga maupun pertemuan sosial.

 Meski bagi sebagian orang dianggap biasa, bagi sebagian Gen Z hal tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan tekanan psikologis.

Ika menilai setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Karena itu, membandingkan pencapaian seseorang dengan orang lain bukanlah hal yang tepat dilakukan.

Baca Juga: Lagi, 3 Napi Tersangka Jaringan Pengedar Pil Koplo dari Balik Lapas Blitar, Polisi Buru Bandar Utama yang Kabur

Meski memilih membatasi interaksi tertentu, Ika menegaskan dirinya tidak sepenuhnya menutup diri dari lingkungan sosial. Ia masih menjalin hubungan dengan teman-teman dan tetap berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sosial yang dirasa nyaman.

Selain itu, ia juga masih aktif menggunakan media sosial. Hanya saja, intensitas berbagi aktivitas pribadi tidak sebanyak sebelumnya.

“Kalau soal media sosial, saya masih posting, tetapi tidak terlalu sering. Tidak sampai mencari validasi dari orang lain,” jelasnya.

Baca Juga: Rastrada Kota Blitar Ditarget Cair Bulan Ini, Wali Kota Mas Ibin Pastikan Penyaluran Beras Tepat Sasaran dan Berkualitas

Sikap tersebut mencerminkan perubahan pola pikir yang kini banyak ditemui pada Gen Z. Media sosial tidak lagi semata-mata digunakan untuk menunjukkan kehidupan pribadi, melainkan sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi sesuai kebutuhan.

Kecenderungan ini juga menjadi bagian dari tren menjaga kesehatan mental yang semakin mendapat perhatian di kalangan generasi muda.

Mereka berusaha mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu stres, termasuk paparan komentar negatif maupun tekanan sosial di dunia digital.

Baca Juga: Pemkab Blitar Kejar Izin Kelola 600 Hektare Pesisir Selatan, PAD Pariwisata Terancam Terus Menurun

Di balik keputusan menerapkan silent mode, Ika menyadari terdapat sejumlah konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Salah satunya adalah berkurangnya kesempatan untuk memperluas relasi dan mengenal karakter orang lain.

Menurutnya, interaksi sosial tetap memiliki manfaat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Geger! Temuan Kasus HIV Blitar Melonjak Lagi di Tahun 2026, Ternyata Mayoritas Pengidapnya Berasal dari Kelompok Tak Terduga Ini!

Melalui pertemuan dengan banyak orang, seseorang dapat memperluas jaringan pertemanan, mendapatkan pengalaman baru, hingga membuka peluang yang mungkin tidak ditemukan sebelumnya.

Karena itu, ia berusaha menjaga keseimbangan antara kebutuhan menjaga kenyamanan diri dan tetap menjalin hubungan sosial yang sehat.

“Kalau bertemu banyak orang sebenarnya saya senang-senang saja. Jadi bukan karena menjaga mental secara berlebihan, lebih karena kadang merasa kesal kalau mendapat pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman,” pungkasnya.

Baca Juga: Cerita Asna Rosida, Sukses Digitalisasi Enting-Enting Geti Karangsari dari Dapur Rumahan hingga Tembus Pasar Nasional

Fenomena silent mode menunjukkan adanya perubahan cara Gen Z memandang hubungan sosial. Mereka tidak sepenuhnya menghindari interaksi, tetapi lebih memilih membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai batasan pribadi, dan bebas dari tekanan sosial yang berlebihan. 

Tren ini diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.(jar/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#Silent Mode Gen Z #Tekanan Psikologis #interaksi sosial #generasi z #kesehatan mental