BLITAR KAWENTAR – Fenomena silent mode semakin populer di kalangan Generasi Z (Gen Z) sebagai salah satu cara menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi dan tingginya tekanan sosial.
Tidak hanya diterapkan dengan mengurangi aktivitas di media sosial, tren ini juga diwujudkan melalui pembatasan interaksi digital untuk memberi ruang bagi diri sendiri beristirahat secara emosional dan kognitif.
Fenomena silent mode menjadi perhatian karena banyak anak muda mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kesehatan mental.
Di tengah notifikasi yang terus berdatangan, tuntutan untuk selalu aktif, serta paparan informasi tanpa henti, sebagian Gen Z memilih mengambil jeda untuk memulihkan energi mental mereka.
Menurut Psikolog Cika Humaira, M.Psi, silent mode dapat menjadi strategi yang positif selama dilakukan secara sadar dan memiliki tujuan yang jelas.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk menghindari kehidupan sosial, melainkan upaya memberikan waktu bagi otak dan emosi untuk beristirahat.
Cika menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami kelelahan emosional maupun kognitif membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.
Dalam kondisi tersebut, membatasi paparan informasi dan aktivitas digital dapat membantu mengurangi beban mental yang dirasakan.
Menurutnya, silent mode memberi kesempatan bagi individu untuk menenangkan pikiran dari berbagai stimulus yang datang secara terus-menerus. Dengan berkurangnya tekanan tersebut, seseorang dapat kembali fokus dan lebih siap menghadapi aktivitas sehari-hari.
“Silent mode bisa menjadi cara untuk memulihkan energi mental ketika seseorang merasa lelah secara emosional maupun kognitif. Yang penting dilakukan secara sadar dan tetap memiliki tujuan untuk kembali terhubung dengan lingkungan,” jelasnya.
Ia menilai banyak anak muda saat ini menghadapi tantangan berupa banjir informasi dari berbagai platform digital. Kondisi tersebut sering kali membuat otak bekerja tanpa jeda sehingga memicu kelelahan, stres, hingga menurunnya konsentrasi.
Salah satu manfaat utama silent mode adalah memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari paparan informasi yang berlebihan.
Selama masa jeda tersebut, individu dapat mengalihkan perhatian pada aktivitas yang lebih bermanfaat dan produktif.
Aktivitas seperti membaca buku, berolahraga, menulis jurnal, hingga menekuni hobi yang selama ini tertunda dinilai mampu memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Selain membantu mengurangi stres, kegiatan tersebut juga dapat meningkatkan kualitas fokus dan daya ingat.
Menurut Cika, ketika seseorang tidak terus-menerus terpapar notifikasi dan konten digital, kapasitas memori kerja dapat bekerja lebih optimal.
Baca Juga: Pemkab Blitar Kejar Izin Kelola 600 Hektare Pesisir Selatan, PAD Pariwisata Terancam Terus Menurun
Hal ini memungkinkan individu menyelesaikan tugas dengan lebih baik dan mengurangi rasa kewalahan akibat banyaknya informasi yang diterima setiap hari.
Selain itu, aktivitas fisik maupun kegiatan kreatif juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan emosional sehingga seseorang merasa lebih tenang dan nyaman.
Manfaat lain dari penerapan silent mode adalah membantu mengurangi ketergantungan terhadap gawai.
Dalam kehidupan modern, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial tanpa disadari.
Ketika kebiasaan tersebut dikurangi dan dialihkan pada interaksi langsung maupun aktivitas fisik, tubuh akan merespons secara positif.
Cika menjelaskan bahwa aktivitas tersebut dapat merangsang produksi hormon kebahagiaan alami seperti serotonin dan endorfin yang berperan dalam meningkatkan suasana hati.
Dengan demikian, silent mode tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga membantu menciptakan pola hidup yang lebih seimbang. Individu memiliki kesempatan untuk kembali menikmati aktivitas nyata yang sering terabaikan karena terlalu fokus pada dunia digital.
Meski memiliki banyak manfaat, Cika mengingatkan bahwa silent mode tidak boleh dipahami sebagai bentuk pelarian dari kehidupan sosial.
Menurutnya, tren tersebut sebaiknya hanya menjadi jeda sementara untuk memulihkan kondisi psikologis sebelum kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ia menegaskan bahwa manusia tetap membutuhkan hubungan sosial yang sehat sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, tujuan utama silent mode bukan menjauh dari orang lain, melainkan menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan hubungan sosial.
“Dengan penerapan yang tepat, silent mode dapat menjadi salah satu cara Gen Z menjaga kesehatan mental di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi,” pungkasnya.
Fenomena ini menunjukkan semakin tingginya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesehatan mental. Di tengah era digital yang serba cepat, kemampuan untuk mengambil jeda dan mengelola paparan informasi menjadi keterampilan penting guna menjaga kesejahteraan psikologis.(sub/c1)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari