BLITAR KAWENTAR – Harga BBM non subsidi resmi mengalami kenaikan sejak 18 April, memicu dampak langsung terhadap pasar otomotif nasional, khususnya segmen mobil diesel bekas. Lonjakan harga Pertamina Dex dan Dexlite membuat biaya operasional kendaraan diesel meningkat, sehingga harga mobil diesel bekas mulai mengalami koreksi.
Kenaikan harga BBM non subsidi menjadi perhatian pelaku usaha kendaraan bekas karena memengaruhi minat konsumen terhadap mobil bermesin diesel. Selain harga bahan bakar yang semakin mahal, muncul kekhawatiran bahwa akses terhadap solar subsidi akan semakin diperketat sehingga beban penggunaan kendaraan diesel menjadi lebih tinggi.
Di sisi lain, harga mobil diesel bekas diperkirakan masih akan terus mengalami penyesuaian dalam beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh perubahan perilaku konsumen yang kini lebih mempertimbangkan biaya operasional dibanding sekadar performa kendaraan.
Harga Pertamina Dex dan Dexlite Melonjak
Mulai 18 April, harga Pertamina Dex naik menjadi sekitar Rp23.900 per liter dari sebelumnya berkisar Rp14.500 per liter. Sementara itu, Dexlite juga mengalami kenaikan menjadi sekitar Rp23.600 per liter dari sebelumnya sekitar Rp14.200 per liter.
Kenaikan yang cukup tajam tersebut membuat selisih biaya pengisian bahan bakar kendaraan diesel meningkat signifikan. Kondisi ini secara otomatis mengurangi daya tarik mobil diesel yang selama ini dikenal irit untuk perjalanan jarak jauh.
Harga Mobil Diesel Bekas Mulai Terkoreksi
Dampak kenaikan harga BBM langsung terasa di pasar mobil bekas. Harga kendaraan diesel mulai mengalami penyesuaian karena permintaan mulai menurun.
Menurut pelaku usaha showroom mobil bekas di kawasan MGK Kemayoran, koreksi harga sudah mulai terlihat pada tingkat pembelian antar pedagang. Meski demikian, penurunan harga di tingkat konsumen belum sepenuhnya terjadi karena pasar masih berada dalam tahap penyesuaian.
Pelaku usaha memperkirakan tren penurunan harga akan semakin terlihat dalam satu hingga dua minggu ke depan apabila kondisi pasar tidak mengalami perubahan.
Kebijakan Biosolar Jadi Faktor Penentu
Selain kenaikan harga BBM non subsidi, kebijakan penggunaan Biosolar juga menjadi perhatian pelaku pasar.
Saat ini masih terdapat pengguna kendaraan diesel pribadi yang dapat memperoleh Biosolar melalui sistem barcode. Namun apabila pemerintah memperketat penyaluran solar subsidi hanya kepada kendaraan yang benar-benar berhak, maka biaya operasional mobil diesel diperkirakan akan semakin tinggi.
Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, solar subsidi hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu seperti angkutan umum, kendaraan pelayanan publik, nelayan, petani, serta pelaku usaha mikro.
Jika aturan tersebut diterapkan secara lebih ketat, akses masyarakat terhadap bahan bakar bersubsidi akan semakin terbatas. Kondisi tersebut diperkirakan dapat semakin menekan permintaan mobil diesel bekas di pasar.
Konsumen Lebih Selektif
Kenaikan biaya penggunaan kendaraan membuat konsumen kini semakin selektif sebelum membeli mobil diesel. Selain mempertimbangkan harga kendaraan, calon pembeli juga menghitung biaya operasional bulanan yang harus dikeluarkan.
Situasi ini membuat sebagian masyarakat mulai melirik mobil bensin yang lebih hemat biaya penggunaan atau kendaraan hybrid yang menawarkan efisiensi bahan bakar lebih baik.
Meski demikian, mobil diesel masih memiliki keunggulan berupa torsi besar, efisiensi untuk perjalanan jarak jauh, dan ketangguhan saat melintasi medan berat. Karena itu, kendaraan diesel diperkirakan tetap memiliki pasar tersendiri, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.
Namun dalam jangka pendek, kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan akan terus memberikan tekanan terhadap harga mobil diesel bekas. Pelaku usaha otomotif pun memilih lebih berhati-hati dalam menambah stok hingga kondisi pasar kembali stabil.
Editor : Gita Dwi Nuraini