BLITAR KAWENTAR – Mobil listrik bekas mulai menjadi pilihan menarik bagi konsumen Indonesia seiring turunnya harga di pasar mobil second. Salah satu model yang kini banyak dilirik adalah MG4 EV bekas, yang menawarkan harga jauh lebih murah dibanding unit baru, tetapi tetap dibekali teknologi modern, performa bertenaga, dan biaya operasional yang sangat rendah.
Harga MG4 EV bekas saat ini bahkan sudah berada di kisaran Rp280 jutaan untuk varian Magnify i-Smart tahun 2024. Angka tersebut dinilai cukup menarik mengingat harga baru mobil listrik hatchback tersebut sebelumnya berada di kisaran Rp400 jutaan.
Namun, membeli mobil listrik bekas tentu tidak bisa dilakukan sembarangan. Selain memeriksa kondisi fisik kendaraan seperti mobil konvensional, calon pembeli juga perlu memastikan kondisi baterai, riwayat penggunaan, hingga kelengkapan perangkat pengisian daya.
Harga Turun, Value Justru Meningkat
Dalam pengalaman seorang pengguna yang baru membeli MG4 EV bekas, unit yang didapat baru menempuh jarak sekitar 9.000 kilometer sehingga kondisinya masih tergolong sangat baru.
Meski terdapat sedikit lecet pada bagian lips bumper depan akibat gesekan saat digunakan pemilik sebelumnya, kondisi bodi secara keseluruhan disebut masih orisinal tanpa bekas tabrakan maupun perbaikan besar.
Dengan harga Rp280 juta secara tunai, pembeli mengaku mendapatkan nilai lebih karena kendaraan masih memiliki garansi baterai yang panjang. Mengingat usia mobil baru sekitar satu tahun, garansi baterai delapan tahun masih tersisa sekitar tujuh tahun lagi.
Keuntungan lainnya adalah bonus wall charger dari pemilik sebelumnya. Perangkat tersebut memiliki nilai jutaan rupiah apabila harus dibeli secara terpisah, sehingga membuat transaksi mobil bekas terasa semakin menguntungkan.
Biaya Operasional Jadi Daya Tarik
Salah satu alasan utama masyarakat mulai beralih ke mobil listrik bekas adalah efisiensi biaya penggunaan sehari-hari.
Pemilik MG4 EV tersebut mengaku hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp43 ribu untuk sekali pengisian daya di stasiun pengisian kendaraan listrik umum. Selama hampir satu minggu penggunaan, mobil hanya membutuhkan satu kali pengisian baterai.
Angka tersebut jauh lebih hemat dibanding mobil berbahan bakar bensin yang biasanya membutuhkan biaya bahan bakar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu setiap pekan.
Selain itu, pajak tahunan kendaraan juga tergolong ringan. Pajak MG4 EV yang dimiliki hanya sekitar Rp143 ribu per tahun sehingga semakin menekan biaya kepemilikan kendaraan.
Sensasi Berkendara Jadi Nilai Plus
Selain hemat, MG4 EV juga menawarkan karakter berkendara yang berbeda dibanding banyak mobil listrik lain di kelasnya.
Mobil ini menggunakan sistem penggerak roda belakang atau rear wheel drive dengan posisi baterai berada di lantai kendaraan. Kombinasi tersebut membuat distribusi bobot lebih seimbang sehingga menghasilkan handling yang lebih stabil ketika bermanuver.
Posisi duduk pengemudi yang rendah juga memberikan sensasi berkendara layaknya hatchback sporty. Pengaturan setir tilt dan telescopic turut memudahkan pengemudi mendapatkan posisi berkendara yang ideal.
Di sektor kabin belakang, ruang kaki masih terasa lega sehingga tetap nyaman digunakan untuk perjalanan luar kota bersama keluarga.
Tetap Ada Kekurangan
Meski menawarkan banyak kelebihan, MG4 EV bekas tetap memiliki sejumlah catatan.
Kabin belakang belum dilengkapi ventilasi AC sehingga distribusi udara dingin terasa kurang maksimal ketika cuaca sangat panas.
Selain itu, mobil ini juga belum memiliki sunroof maupun rear seat entertainment yang mulai banyak ditemukan pada sejumlah mobil listrik terbaru di kelas harga serupa.
Dari sisi tampilan, pemilik juga berencana mengganti desain velg bawaan agar tampilannya terlihat lebih sporty.
Meski demikian, kekurangan tersebut dianggap tidak terlalu memengaruhi kenyamanan maupun nilai ekonomis kendaraan secara keseluruhan.
Tips Membeli Mobil Listrik Bekas
Calon pembeli mobil listrik bekas disarankan tetap melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum melakukan transaksi.
Pemeriksaan pertama adalah memastikan kendaraan tidak memiliki riwayat tabrakan berat maupun bekas banjir. Kondisi bodi, panel, hingga interior perlu dicek secara detail.
Selanjutnya, odometer juga menjadi indikator penting. Untuk kendaraan berusia sekitar satu tahun dengan jarak tempuh sekitar 9.000 kilometer, kondisi tersebut masih tergolong normal.
Apabila usia kendaraan masih relatif muda dan garansi baterai masih panjang, pemeriksaan kesehatan baterai secara mendalam dinilai tidak selalu menjadi keharusan. Namun, untuk mobil dengan usia lebih tua atau jarak tempuh tinggi, pengecekan battery health menggunakan alat khusus tetap disarankan.
Dengan penurunan harga yang cukup signifikan, biaya operasional yang jauh lebih hemat, serta garansi baterai yang masih panjang, mobil listrik bekas seperti MG4 EV kini menjadi alternatif menarik bagi masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan listrik tanpa harus mengeluarkan dana besar untuk membeli unit baru.
Editor : Gita Dwi Nuraini