Perjalanan Hidup Soekarno, dari Kusno Sosrodihardjo hingga Presiden Pertama RI: Kisah Perjuangan, Kontroversi, dan Warisan Sejarah

Fadhilah Salsa Bella • Dipublikasikan Selasa, 30 Juni 2026 | 19:24 WIB
Perjalanan hidup Soekarno dari masa kecil, perjuangan kemerdekaan, kontroversi, hingga akhir hayat Presiden pertama Republik Indonesia (Pinterest).
Perjalanan hidup Soekarno dari masa kecil, perjuangan kemerdekaan, kontroversi, hingga akhir hayat Presiden pertama Republik Indonesia (Pinterest).

BLITAR KAWENTAR – Soekarno dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia sekaligus Proklamator Kemerdekaan. Namun, perjalanan hidup Soekarno tidak hanya dipenuhi kisah perjuangan, tetapi juga berbagai kontroversi yang mewarnai perjalanan politik maupun kehidupan pribadinya. Dari masa kecil hingga akhir hayatnya, sosok Bung Karno tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901, Soekarno awalnya diberi nama Kusno Sosrodihardjo. Ia merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Karena sering sakit saat kecil, Kusno sempat diasuh oleh sang kakek di Tulungagung sebelum kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Nama Kusno kemudian diubah menjadi Soekarno dengan harapan membawa kehidupan yang lebih baik.

Perjalanan pendidikan Soekarno menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan pemikirannya. Setelah menempuh pendidikan di Tulungagung dan Mojokerto, ia melanjutkan sekolah di HBS Surabaya. Di kota inilah Soekarno tinggal bersama tokoh Sarekat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto, yang memperkenalkannya pada dunia politik dan pergerakan nasional.

Pendidikan dan Awal Karier Soekarno

Selama tinggal di rumah Tjokroaminoto, Soekarno aktif berdiskusi dengan berbagai tokoh nasional seperti Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, hingga dr. Cipto Mangunkusumo. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan orasi sekaligus pemikiran politiknya.

Setelah lulus HBS, Soekarno melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengambil jurusan Teknik Sipil dan lulus sebagai insinyur pada 1926.

Selain dikenal sebagai politikus, Soekarno juga memiliki latar belakang sebagai arsitek. Sejumlah proyek nasional, seperti Monumen Nasional (Monas), Hotel Indonesia, hingga kawasan Gelora Bung Karno, disebut mendapat pengaruh dari gagasan arsitekturalnya.

Baca Juga: OPPO Reno 14 Bikin Geger! Baru Setengah Tahun dari Reno 13, Ini Perubahan Desain, Kamera Telefoto, dan Baterai 6000 mAh yang Mengejutkan

Kiprah Politik dan Perjuangan Kemerdekaan

Pada 1927, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan tujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Aktivitas politiknya membuat ia beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah kolonial sebelum akhirnya diasingkan ke Ende, Flores, dan kemudian Bengkulu.

Di Bengkulu, Soekarno bertemu Fatmawati yang kelak menjadi istri sekaligus Ibu Negara pertama Indonesia. Fatmawati juga dikenal sebagai sosok yang menjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Bersama Mohammad Hatta, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan diangkat sebagai Presiden pertama Republik Indonesia.

Kehidupan Pribadi yang Sarat Sorotan

Selain kiprah politiknya, kehidupan pribadi Soekarno juga menjadi perhatian publik. Ia diketahui beberapa kali menikah sepanjang hidupnya.

Di antaranya dengan Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, hingga Heldy Djafar. Dari sejumlah pernikahan tersebut, Soekarno dikaruniai beberapa anak, termasuk Megawati Soekarnoputri yang kemudian menjadi Presiden kelima Republik Indonesia.

Meski demikian, kisah rumah tangga Soekarno kerap memunculkan berbagai pandangan dan perdebatan di tengah masyarakat.

Baca Juga: OPPO Reno 14 Bikin Geger! Baru Setengah Tahun dari Reno 13, Ini Perubahan Desain, Kamera Telefoto, dan Baterai 6000 mAh yang Mengejutkan

Masa Akhir Kekuasaan

Memasuki pertengahan 1960-an, situasi politik Indonesia semakin memanas. Puncaknya terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang mengubah arah politik nasional.

Gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat menuntut perubahan pemerintahan. Pada 1966, Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keamanan.

Setahun kemudian, MPRS mencabut mandat Soekarno sebagai Presiden dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden. Sejak saat itu, Soekarno menjalani masa tahanan rumah di Wisma Yaso dengan kondisi kesehatan yang terus menurun.

Akhir Hayat dan Warisan Sejarah

Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 69 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

Hingga kini, sosok Soekarno tetap dikenang sebagai proklamator, pemimpin revolusi, sekaligus tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Di balik berbagai kontroversi yang menyertai perjalanan hidupnya, semangat perjuangan, kemampuan diplomasi, dan gagasan kebangsaan yang diwariskannya masih menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.

Baca Juga: OPPO Reno 14 Dipakai 2 Minggu Jadi Daily Driver! Ini Jujur Kelebihan dan Kekurangan dari Kamera Telefoto, Gaming, hingga Baterai 6000 mAh

Editor : Fadhilah Salsa Bella
Sumber : pinterest
biografi soekarno Bung Karno soekarno presiden pertama indonesia sejarah indonesia