Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Rahasia Diet Defisit Kalori agar Berat Badan Turun, Ahli Tegaskan Jangan Sampai Otot Ikut Menyusut

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:35 WIB
Diet defisit kalori efektif menurunkan berat badan, tetapi ahli mengingatkan massa otot harus tetap dijaga agar metabolisme tubuh tetap optimal.(pinterest)
Diet defisit kalori efektif menurunkan berat badan, tetapi ahli mengingatkan massa otot harus tetap dijaga agar metabolisme tubuh tetap optimal.(pinterest)

BLITAR KAWENTAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COMDiet defisit kalori masih menjadi metode yang paling banyak direkomendasikan oleh para ahli untuk membantu menurunkan berat badan. Meski begitu, keberhasilan diet bukan hanya ditentukan oleh seberapa sedikit seseorang makan, melainkan bagaimana pola makan tersebut dapat diterapkan sebagai gaya hidup dalam jangka panjang.

Banyak orang masih menganggap diet hanyalah program sementara yang dijalankan selama satu hingga enam bulan. Padahal, konsep diet defisit kalori yang benar adalah mengubah kebiasaan hidup agar tetap sehat sekaligus menjaga berat badan tetap ideal.

Ahli gizi menekankan bahwa pola makan saat menjalani diet harus tetap memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Yang dikurangi hanyalah jumlah kalorinya, bukan kualitas makanan yang dikonsumsi.

Defisit Kalori Harus Disesuaikan Kebutuhan Tubuh

Pada dasarnya setiap orang memiliki kebutuhan kalori harian yang berbeda. Besarnya kebutuhan tersebut dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, hingga aktivitas fisik sehari-hari.

Baca Juga: Mediterranean Diet Disebut Pola Makan Paling Sehat, Ini Daftar Makanan, Manfaat, dan Aturan yang Perlu Diketahui

Agar berat badan menurun, asupan kalori yang dikonsumsi harus lebih rendah dibandingkan kalori yang dibutuhkan tubuh. Selisih inilah yang disebut sebagai defisit kalori.

Saat kondisi tersebut terjadi secara konsisten, tubuh akan mulai menggunakan cadangan energi yang tersimpan, terutama lemak tubuh. Proses inilah yang kemudian membuat berat badan perlahan mengalami penurunan.

Namun, defisit kalori tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Pengurangan kalori yang terlalu ekstrem justru bisa memberikan dampak negatif terhadap kesehatan.

Fokus Mengurangi Lemak, Bukan Berat Badan Semata

Menurut ahli, banyak orang keliru ketika hanya berpatokan pada angka timbangan. Pasalnya, berat badan terdiri atas berbagai komponen seperti lemak, otot, cairan tubuh, organ, hingga darah.

Target utama dalam program penurunan berat badan seharusnya adalah mengurangi massa lemak. Sementara itu, massa otot justru harus dipertahankan karena memiliki fungsi penting bagi tubuh.

Massa otot berperan dalam menjaga metabolisme tetap aktif. Semakin baik massa otot seseorang, semakin besar pula kemampuan tubuh membakar energi sepanjang hari.

Karena itu, program diet yang sehat perlu diimbangi dengan konsumsi protein yang cukup serta olahraga rutin, terutama latihan kekuatan, agar massa otot tidak ikut berkurang.

Diet Ekstrem Justru Bisa Membahayakan

Masih banyak orang memilih cara instan untuk menurunkan berat badan, seperti tidak makan dalam waktu lama atau mengurangi porsi makan secara drastis.

Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat menyebabkan tubuh kehilangan massa otot lebih cepat dibandingkan lemak. Jika kondisi ini terus berlangsung, metabolisme tubuh akan melambat sehingga proses pembakaran kalori menjadi kurang optimal.

Selain membuat tubuh lebih mudah lelah, kehilangan massa otot juga meningkatkan risiko berat badan kembali naik setelah program diet dihentikan. Kondisi ini sering dikenal sebagai efek yo-yo yang kerap dialami pelaku diet ekstrem.

Oleh sebab itu, para ahli mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergoda dengan metode diet instan yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat.

Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Kebiasaan

Alih-alih mengejar hasil cepat, perubahan gaya hidup menjadi kunci utama dalam menjaga berat badan tetap ideal. Pola makan bergizi seimbang, pengaturan defisit kalori sesuai kebutuhan, aktivitas fisik secara rutin, serta menjaga massa otot merupakan kombinasi terbaik untuk memperoleh tubuh yang lebih sehat.

Dengan cara tersebut, penurunan berat badan berlangsung lebih aman sekaligus membantu menurunkan risiko berbagai penyakit akibat kelebihan berat badan, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.

Para ahli pun menegaskan bahwa diet bukan sekadar mengurangi makan, melainkan membangun kebiasaan hidup sehat yang dapat dilakukan seumur hidup. Ketika pola tersebut dijalankan secara konsisten, hasilnya tidak hanya terlihat dari angka timbangan, tetapi juga dari meningkatnya kualitas kesehatan secara menyeluruh.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#diet defisit kalori #massa otot #gizi seimbang #berat badan #metabolisme tubuh