Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Intermittent Fasting Efektif Turunkan Berat Badan? Dokter Ungkap Manfaat, Cara Aman, dan Siapa yang Sebaiknya Menghindari

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:45 WIB
Intermittent fasting efektif membantu menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan, tetapi tidak cocok untuk semua orang. Simak manfaat dan tips amannya.(pinterest)
Intermittent fasting efektif membantu menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan, tetapi tidak cocok untuk semua orang. Simak manfaat dan tips amannya.(pinterest)

 

BLITAR KAWENTAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COMIntermittent fasting masih menjadi salah satu metode diet yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa ini dipercaya mampu membantu menurunkan berat badan sekaligus memberikan berbagai manfaat kesehatan apabila dilakukan dengan benar.

Meski demikian, intermittent fasting bukanlah solusi instan untuk mendapatkan tubuh ideal. Menurut seorang dokter spesialis gizi, metode ini hanya akan memberikan hasil optimal jika dijalankan secara konsisten, disertai pola makan sehat, serta disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Popularitas intermittent fasting terus meningkat karena dinilai lebih fleksibel dibandingkan diet ketat. Namun, sebelum mencobanya, masyarakat perlu memahami mekanisme kerja, manfaat, hingga kelompok yang tidak disarankan menjalani pola makan ini.

Mengenal Intermittent Fasting

Intermittent fasting merupakan pola makan yang berfokus pada pengaturan waktu makan, bukan sekadar membatasi jenis makanan. Ada beberapa metode yang umum diterapkan, seperti puasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu delapan jam (16:8), hingga pola yang lebih ketat seperti puasa 20 jam dan makan hanya empat jam.

Baca Juga: Mediterranean Diet Disebut Pola Makan Paling Sehat, Ini Daftar Makanan, Manfaat, dan Aturan yang Perlu Diketahui

Selain itu, ada pula metode 5:2, yakni seseorang makan seperti biasa selama lima hari, kemudian membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.

Saat tubuh tidak menerima asupan makanan dalam beberapa jam, kadar hormon insulin akan menurun. Kondisi ini membuat tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi utama sehingga proses pembakaran lemak menjadi lebih optimal.

Manfaat Intermittent Fasting Bagi Kesehatan

Selain membantu menurunkan berat badan, intermittent fasting juga disebut memiliki sejumlah manfaat lain bagi kesehatan.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2. Tidak hanya itu, intermittent fasting juga mampu mengurangi peradangan dalam tubuh yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronis.

Manfaat lainnya adalah membantu menjaga kesehatan jantung. Hal ini terjadi karena pola makan tersebut berpotensi menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar kolesterol, serta mendukung metabolisme tubuh yang lebih baik.

Meski demikian, hasil yang diperoleh setiap orang tidak selalu sama. Ada yang merasakan tubuh lebih bugar setelah menjalani intermittent fasting, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.

Efek Samping di Awal Diet

Pada satu hingga dua minggu pertama menjalani intermittent fasting, tubuh umumnya masih dalam tahap adaptasi. Tidak sedikit orang yang mengeluhkan tubuh terasa lebih lemas, mudah lapar, sulit mengendalikan keinginan makan, hingga suasana hati menjadi lebih sensitif.

Kondisi tersebut dianggap sebagai respons normal selama tubuh menyesuaikan diri terhadap pola makan yang baru. Namun, apabila keluhan berlangsung lama atau semakin berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Tidak Cocok untuk Semua Orang

Meski menawarkan banyak manfaat, intermittent fasting tidak dianjurkan untuk semua orang.

Penderita diabetes, misalnya, perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjalani pola makan ini. Penyesuaian jadwal makan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan penggunaan obat agar tidak memicu penurunan gula darah yang berbahaya.

Selain itu, metode ini tidak disarankan bagi anak-anak, remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, ibu hamil, maupun ibu menyusui karena kebutuhan nutrisi mereka lebih tinggi.

Orang yang memiliki riwayat penyakit lambung atau maag juga perlu berhati-hati. Puasa dalam waktu lama berpotensi meningkatkan produksi asam lambung yang dapat memperburuk gejala.

Tips Menjalani Intermittent Fasting dengan Aman

Bagi masyarakat yang ingin mencoba intermittent fasting, para ahli menyarankan untuk memulainya secara bertahap. Misalnya dengan jendela makan selama 10 jam terlebih dahulu, kemudian secara perlahan dipersingkat menjadi delapan jam hingga enam jam jika tubuh sudah mampu beradaptasi.

Selama jendela makan, tetap pilih makanan bergizi seimbang dan hindari anggapan bahwa semua jenis makanan boleh dikonsumsi tanpa batas. Penelitian menunjukkan kualitas makanan tetap berpengaruh besar terhadap keberhasilan diet.

Selain itu, pastikan kebutuhan cairan tetap tercukupi dengan memperbanyak minum air putih. Tidur yang cukup dan rutin berolahraga ringan juga menjadi faktor penting untuk mendukung keberhasilan penurunan berat badan.

Pada akhirnya, intermittent fasting bukanlah jalan pintas menuju tubuh ideal. Metode ini hanyalah salah satu pilihan pola makan yang dapat mendukung gaya hidup sehat apabila dilakukan secara tepat, konsisten, dan sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#intermittent fasting #diet intermittent fasting #menurunkan berat badan #pola hidup sehat #diet sehat