BLITAR KAWENTAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Intermittent fasting menjadi salah satu metode diet yang terus digemari masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Pola makan yang mengatur waktu antara makan dan puasa ini dinilai mampu membantu menurunkan berat badan sekaligus memberikan manfaat bagi kesehatan metabolisme tubuh.
Meski popularitasnya terus meningkat, intermittent fasting bukan berarti cocok diterapkan oleh semua orang. Dokter spesialis gizi mengingatkan bahwa keberhasilan metode ini sangat bergantung pada konsistensi, pola makan yang sehat, dan kondisi kesehatan setiap individu.
Tak sedikit orang menganggap intermittent fasting sebagai cara cepat mendapatkan tubuh ideal. Padahal, metode ini bukan sekadar mengurangi frekuensi makan, melainkan mengubah pola hidup agar tubuh mampu memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi.
Cara Kerja Intermittent Fasting
Intermittent fasting merupakan pola makan yang mengatur kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa. Salah satu metode yang paling populer adalah pola 16:8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu delapan jam.
Selain itu, terdapat pola 20:4 yang membatasi waktu makan hanya empat jam dalam sehari. Ada pula metode 5:2, yakni makan seperti biasa selama lima hari dan membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.
Saat tubuh tidak mendapatkan makanan dalam beberapa jam, kadar insulin akan menurun. Penurunan hormon tersebut membuat tubuh mulai memanfaatkan cadangan lemak sebagai bahan bakar utama sehingga proses pembakaran lemak berlangsung lebih efektif.
Tak Hanya Menurunkan Berat Badan
Selain membantu menurunkan berat badan, intermittent fasting juga disebut memiliki manfaat lain yang telah didukung sejumlah penelitian.
Pola makan ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga membantu menekan risiko diabetes tipe 2. Di sisi lain, intermittent fasting juga diketahui mampu mengurangi proses peradangan dalam tubuh yang sering dikaitkan dengan berbagai penyakit kronis.
Manfaat berikutnya adalah menjaga kesehatan jantung. Dengan pola makan yang lebih teratur, tekanan darah dan kadar kolesterol berpotensi ikut membaik sehingga risiko penyakit kardiovaskular dapat ditekan.
Namun demikian, manfaat tersebut tidak selalu dirasakan sama oleh setiap orang. Respons tubuh terhadap intermittent fasting sangat dipengaruhi kondisi kesehatan, aktivitas harian, hingga pola makan yang dijalani.
Tubuh Butuh Waktu Beradaptasi
Bagi pemula, minggu pertama hingga kedua biasanya menjadi fase yang cukup menantang. Tubuh masih beradaptasi dengan perubahan pola makan sehingga muncul berbagai keluhan seperti mudah lapar, tubuh terasa lemas, sulit berkonsentrasi, hingga suasana hati yang lebih sensitif.
Kondisi tersebut masih tergolong normal selama tidak berlangsung berkepanjangan. Seiring waktu, tubuh akan mulai terbiasa menggunakan lemak sebagai sumber energi sehingga keluhan perlahan berkurang.
Ada Kelompok yang Tidak Dianjurkan
Meski menawarkan berbagai manfaat, dokter mengingatkan bahwa intermittent fasting tidak bisa diterapkan secara sembarangan.
Penderita diabetes harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum menjalankan metode ini. Pengaturan waktu makan harus disesuaikan dengan obat maupun kondisi gula darah agar tidak memicu komplikasi.
Selain itu, intermittent fasting tidak dianjurkan bagi anak-anak, remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, ibu hamil, serta ibu menyusui karena kebutuhan nutrisi mereka jauh lebih tinggi.
Orang yang memiliki gangguan lambung atau maag juga perlu berhati-hati. Puasa dalam waktu lama berpotensi meningkatkan produksi asam lambung sehingga dapat memperparah keluhan yang sudah ada.
Tips Aman Memulai Intermittent Fasting
Dokter menyarankan agar intermittent fasting dimulai secara bertahap. Misalnya dengan memberikan jendela makan selama 10 jam sebelum beralih ke delapan jam atau enam jam setelah tubuh benar-benar beradaptasi.
Selama periode makan, masyarakat tetap dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi makanan tinggi gula dan lemak, serta memastikan kebutuhan protein, serat, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi.
Selain itu, jangan lupakan konsumsi air putih yang cukup, tidur berkualitas, dan olahraga ringan secara rutin. Kombinasi ketiga hal tersebut akan membantu proses penurunan berat badan berlangsung lebih optimal.
Pada akhirnya, intermittent fasting bukanlah diet ajaib yang langsung memberikan hasil instan. Metode ini hanya akan efektif apabila dijalankan secara disiplin dan dibarengi gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Editor : Maylanni Diana Fitri