Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Intermittent Fasting Bukan Sekadar Diet Viral, Dokter Ungkap Manfaat hingga Risiko yang Wajib Diketahui

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:55 WIB
Intermittent fasting dipercaya efektif menurunkan berat badan. Dokter menjelaskan manfaat, cara kerja, risiko, serta siapa yang sebaiknya tidak menjalani diet ini.(pinterest)
Intermittent fasting dipercaya efektif menurunkan berat badan. Dokter menjelaskan manfaat, cara kerja, risiko, serta siapa yang sebaiknya tidak menjalani diet ini.(pinterest)

BLITAR KAWENTAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COMIntermittent fasting atau diet dengan mengatur waktu makan masih menjadi salah satu pola hidup sehat yang banyak diminati. Metode ini dipercaya efektif membantu menurunkan berat badan, bahkan disebut mampu menekan risiko sejumlah penyakit metabolik apabila dijalankan dengan benar.

Namun, di balik popularitasnya, intermittent fasting bukanlah diet yang bisa dilakukan secara sembarangan. Dokter mengingatkan bahwa metode ini memiliki aturan, manfaat, hingga risiko yang perlu dipahami sebelum diterapkan.

Banyak orang tertarik menjalani intermittent fasting karena dianggap lebih mudah dibandingkan diet yang mengharuskan seseorang menghitung setiap kalori makanan. Padahal, keberhasilan metode ini tetap bergantung pada kualitas makanan, gaya hidup, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Mengatur Waktu Makan, Bukan Sekadar Menahan Lapar

Berbeda dengan diet pada umumnya, intermittent fasting lebih berfokus pada pengaturan jadwal makan. Selama periode puasa, seseorang tidak mengonsumsi makanan berkalori sehingga tubuh memiliki kesempatan untuk menggunakan cadangan energi yang tersimpan.

Baca Juga: Rahasia Diet Defisit Kalori agar Berat Badan Turun, Ahli Tegaskan Jangan Sampai Otot Ikut Menyusut

Beberapa pola yang paling sering diterapkan adalah metode 16:8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan makan dalam waktu delapan jam. Ada pula metode 20:4 yang lebih ketat, serta pola 5:2 dengan pembatasan kalori pada dua hari dalam seminggu.

Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan selama beberapa jam, kadar insulin akan menurun. Kondisi tersebut memicu tubuh memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi sehingga proses pembakaran lemak meningkat dan berat badan perlahan menurun.

Memberikan Beragam Manfaat Kesehatan

Selain mendukung penurunan berat badan, intermittent fasting juga dikaitkan dengan peningkatan sensitivitas insulin. Kondisi ini membantu tubuh mengontrol kadar gula darah sehingga risiko diabetes tipe 2 dapat berkurang.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa metode ini mampu menekan proses peradangan di dalam tubuh yang selama ini menjadi salah satu pemicu berbagai penyakit kronis.

Tak hanya itu, kesehatan jantung juga disebut dapat memperoleh manfaat dari intermittent fasting. Pola makan yang teratur berpotensi membantu menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kadar kolesterol sehingga risiko penyakit kardiovaskular ikut menurun.

Meski demikian, hasil yang diperoleh tidak selalu sama. Respons tubuh terhadap pola makan ini berbeda-beda tergantung kondisi fisik, aktivitas, hingga kebiasaan makan setiap orang.

Adaptasi di Awal Menjalani Diet

Pada awal menjalani intermittent fasting, tubuh biasanya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Selama satu hingga dua minggu pertama, sebagian orang dapat merasakan tubuh lebih lemas, mudah lapar, sulit berkonsentrasi, hingga suasana hati yang berubah.

Menurut dokter, kondisi tersebut masih tergolong normal karena tubuh sedang belajar beralih dari menggunakan glukosa menjadi lemak sebagai sumber energi utama.

Apabila dilakukan secara bertahap dan konsisten, keluhan tersebut umumnya akan berkurang seiring tubuh mulai beradaptasi.

Tidak Semua Orang Boleh Menjalankannya

Dokter menegaskan bahwa intermittent fasting bukan pilihan yang tepat bagi semua orang. Penderita diabetes, misalnya, harus berkonsultasi terlebih dahulu agar jadwal makan dapat disesuaikan dengan obat maupun kondisi gula darah.

Selain itu, anak-anak, remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, ibu hamil, serta ibu menyusui tidak disarankan menjalani metode ini karena membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar.

Orang dengan riwayat penyakit lambung juga perlu berhati-hati. Puasa terlalu lama dapat memicu peningkatan asam lambung sehingga memperparah gejala maag pada sebagian orang.

Jangan Abaikan Pola Hidup Sehat

Dokter mengingatkan bahwa keberhasilan intermittent fasting tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu puasa. Pemilihan makanan bergizi tetap menjadi faktor utama yang menentukan hasil diet.

Mengonsumsi makanan seimbang, memperbanyak air putih, tidur yang cukup, serta rutin berolahraga menjadi kombinasi penting agar manfaat intermittent fasting dapat dirasakan secara maksimal.

Karena itu, intermittent fasting sebaiknya dipandang sebagai bagian dari perubahan gaya hidup sehat, bukan sekadar mengikuti tren diet yang sedang populer. Dengan pendampingan tenaga kesehatan dan penerapan yang tepat, metode ini dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai berat badan ideal sekaligus menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#intermittent fasting #menurunkan berat badan #diet sehat #kesehatan tubuh #pola makan