Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Diet Tanpa Olahraga Bisa Turunkan Berat Badan? Begini Penjelasan Lengkap soal Defisit Kalori dan Risikonya

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 1 Juli 2026 | 15:20 WIB
Diet tanpa olahraga memang bisa menurunkan berat badan melalui defisit kalori. Namun, olahraga tetap penting agar hasil diet lebih optimal dan mudah konsisten.(pinterest)
Diet tanpa olahraga memang bisa menurunkan berat badan melalui defisit kalori. Namun, olahraga tetap penting agar hasil diet lebih optimal dan mudah konsisten.(pinterest)

BLITAR KAWENTAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COMDiet tanpa olahraga sering menjadi pilihan bagi banyak orang yang ingin menurunkan berat badan tanpa harus melakukan aktivitas fisik. Tak sedikit pula yang mencari cara tercepat agar berat badan turun hanya dengan mengatur pola makan.

Namun, apakah diet tanpa olahraga benar-benar efektif? Seorang kreator konten kesehatan menjelaskan bahwa secara teori, berat badan memang bisa turun meski seseorang tidak berolahraga. Kuncinya tetap sama, yaitu tubuh harus berada dalam kondisi defisit kalori.

Defisit kalori terjadi ketika jumlah kalori yang dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan kalori yang dibakar tubuh setiap hari. Dalam kondisi tersebut, tubuh akan menggunakan cadangan energi, termasuk lemak, sehingga berat badan perlahan menurun.

Berat Badan Bisa Turun Tanpa Olahraga

Menurutnya, olahraga bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan diet. Selama seseorang mampu mempertahankan defisit kalori, penurunan berat badan tetap dapat terjadi.

Baca Juga: Dokter Beberkan Fakta Intermittent Fasting, Diet Populer yang Diklaim Ampuh Turunkan Berat Badan

Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan orang yang mengalami kelaparan dalam waktu lama. Meski tidak berolahraga, berat badan mereka tetap turun karena tubuh terus membakar cadangan energi akibat minimnya asupan makanan.

Contoh tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa defisit kalori merupakan prinsip dasar dalam proses penurunan berat badan.

"Kalau benar-benar defisit kalori, berat badan pasti turun," jelasnya.

Tantangan Diet Tanpa Aktivitas Fisik

Meski memungkinkan, diet tanpa olahraga dinilai memiliki tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan jika disertai aktivitas fisik.

Berdasarkan pengalamannya menangani pelanggan katering sehat, sebagian besar orang yang ingin menurunkan berat badan ternyata jarang berolahraga. Bahkan, mayoritas hanya berolahraga satu hingga dua kali dalam seminggu atau tidak sama sekali.

Baca Juga: Intermittent Fasting Bukan Sekadar Diet Viral, Dokter Ungkap Manfaat hingga Risiko yang Wajib Diketahui

Akibatnya, kebutuhan kalori harian mereka menjadi lebih rendah karena aktivitas fisik yang minim. Kondisi ini membuat ruang untuk mengurangi kalori menjadi semakin sempit.

Jika defisit kalori dibuat terlalu besar, asupan energi bisa turun hingga berada di bawah kebutuhan metabolisme dasar atau basal metabolic rate (BMR), yang berisiko mengganggu fungsi tubuh.

Penurunan Berat Badan Cenderung Lebih Lambat

Dengan kebutuhan kalori yang rendah, seseorang hanya bisa membuat defisit dalam jumlah terbatas agar tetap aman.

Akibatnya, penurunan berat badan berlangsung lebih lambat. Dalam kondisi tertentu, defisit sekitar 250 kalori per hari diperkirakan hanya menghasilkan penurunan berat badan sekitar satu kilogram per bulan.

Selain itu, porsi makan harus diawasi dengan lebih ketat. Sedikit saja kelebihan kalori dapat membuat tubuh kembali mengalami surplus energi sehingga proses penurunan berat badan menjadi terhambat.

Risiko Sulit Konsisten Menjalani Diet

Keterbatasan jumlah kalori juga membuat seseorang harus lebih selektif memilih makanan.

Dengan jatah kalori yang sedikit, makanan bergizi harus menjadi prioritas agar kebutuhan vitamin, mineral, protein, dan zat gizi lainnya tetap terpenuhi.

Jika terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah nutrisi, ruang untuk makanan sehat menjadi semakin sedikit.

Kondisi tersebut membuat diet terasa lebih berat karena rasa lapar lebih mudah muncul, pilihan makanan semakin terbatas, dan proses penurunan berat badan berlangsung lebih lambat. Hal inilah yang dinilai menjadi penyebab banyak orang gagal mempertahankan pola diet dalam jangka panjang.

Olahraga Membuat Diet Lebih Fleksibel

Menurutnya, olahraga tetap memiliki peran penting meski bukan syarat utama untuk menurunkan berat badan.

Aktivitas fisik dapat meningkatkan jumlah kalori yang dibakar setiap hari sehingga seseorang memiliki ruang makan yang lebih besar tanpa mengganggu proses defisit kalori.

Ia juga menyarankan latihan kekuatan atau strength training karena dapat membantu meningkatkan massa otot. Semakin banyak massa otot yang dimiliki, metabolisme tubuh juga akan meningkat sehingga pembakaran energi menjadi lebih optimal.

Karena itu, menggabungkan pola makan sehat dengan olahraga dinilai menjadi strategi terbaik untuk menurunkan berat badan secara sehat, lebih nyaman, dan lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#menurunkan berat badan #defisit kalori #diet tanpa olahraga #Olahraga #metabolisme tubuh