BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM – Krisis RAM bikin harga HP makin mahal dan diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Lonjakan permintaan komponen memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) membuat industri smartphone ikut terdampak sehingga harga perangkat terus mengalami kenaikan sepanjang 2026.
Tidak hanya smartphone kelas flagship, perangkat entry-level hingga kelas menengah juga mulai mengalami penyesuaian harga. Bahkan, beberapa model terbaru hadir dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda dari pendahulunya meski dijual lebih mahal.
Di balik kondisi tersebut, banyak pihak mulai mempertanyakan kapan harga smartphone bisa kembali normal. Meski belum ada jawaban pasti, terdapat beberapa skenario yang dinilai berpotensi mengakhiri krisis komponen global.
Permintaan AI Jadi Pemicu Utama
Meningkatnya pembangunan pusat data (data center) untuk kebutuhan AI menjadi penyebab utama melonjaknya permintaan RAM dan storage.
Perusahaan teknologi terus membeli chip memori dalam jumlah besar untuk menopang perkembangan layanan berbasis AI. Akibatnya, pasokan komponen yang sebelumnya digunakan industri smartphone kini lebih banyak dialihkan ke sektor tersebut.
Kondisi ini membuat harga RAM dan storage meningkat tajam sehingga biaya produksi smartphone ikut terdongkrak.
Lima Skenario Harga HP Bisa Turun
Meski situasi saat ini masih sulit diprediksi, terdapat lima kemungkinan yang dinilai dapat membuat harga smartphone kembali stabil.
Skenario pertama adalah melambatnya pertumbuhan industri AI. Jika pembangunan data center mulai berkurang, kebutuhan chip memori otomatis ikut menurun sehingga pasokan untuk industri smartphone kembali meningkat.
Skenario kedua ialah hadirnya lebih banyak pabrik semikonduktor baru. Bertambahnya kapasitas produksi diyakini mampu menyeimbangkan antara permintaan dan suplai komponen.
Kemungkinan ketiga adalah ditemukannya teknologi baru yang mampu menggantikan fungsi RAM saat ini sehingga tekanan terhadap industri memori menjadi berkurang.
Skenario berikutnya muncul apabila minat masyarakat terhadap AI mulai menurun. Jika penggunaan AI hanya sebatas kebutuhan produktivitas dan tidak lagi berkembang secara masif, permintaan komponen diperkirakan ikut melambat.
Terakhir, pemerintah di berbagai negara dapat menerapkan regulasi yang memperlambat perkembangan AI apabila dinilai berpotensi menimbulkan risiko keamanan maupun sosial.
Pernah Terjadi Saat Demam Kripto
Fenomena kenaikan harga komponen sebenarnya bukan pertama kali terjadi di industri teknologi.
Beberapa tahun lalu, harga kartu grafis (GPU) sempat melonjak tajam akibat tingginya permintaan dari penambang mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum.
Saat itu, stok GPU di pasaran sangat terbatas karena sebagian besar dibeli untuk membangun rig mining. Namun setelah keuntungan dari aktivitas tersebut menurun, banyak penambang menjual perangkatnya sehingga harga GPU perlahan kembali normal.
Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa lonjakan harga komponen pada akhirnya bisa mereda ketika permintaan pasar mulai menurun.
Baca Juga: Bantuan Rastrada Kota Blitar 2026 Turun 50 Persen, KPM Kini Terima Rp195 Ribu per Triwulan
Konsumen Disarankan Lebih Bijak
Di tengah situasi saat ini, konsumen disarankan membeli smartphone baru hanya jika memang benar-benar diperlukan.
Jika perangkat lama masih berfungsi dengan baik, menunda pembelian bisa menjadi pilihan sambil menunggu perkembangan harga dalam beberapa tahun mendatang.
Namun bagi pengguna yang sudah mengalami kendala performa atau membutuhkan perangkat baru untuk bekerja, membeli smartphone sekarang dinilai lebih masuk akal dibanding menunggu penurunan harga yang belum memiliki kepastian.
Selain itu, konsumen juga bisa mempertimbangkan smartphone generasi sebelumnya atau perangkat bekas berkondisi baik yang masih menawarkan spesifikasi kompetitif dengan harga lebih terjangkau.
Meski krisis komponen diperkirakan masih berlangsung, sejarah menunjukkan bahwa kondisi serupa tidak akan berlangsung selamanya. Seiring meningkatnya kapasitas produksi atau melambatnya permintaan AI, peluang harga smartphone kembali stabil tetap terbuka di masa depan.
Editor : M. Helmi Nurhisam