Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Cantik Tak Harus Putih, Pengamat Sosial Ungkap Percaya Diri Jadi Kunci Lawan Standar Kecantikan yang Keliru

M. Luki Azhari • Kamis, 9 Juli 2026 | 13:18 WIB
Novitasari menegaskan bahwa definisi cantik berkulit putih lahir dari kesepakatan sosial, bukan sesuatu yang bersifat alami.
Novitasari menegaskan bahwa definisi cantik berkulit putih lahir dari kesepakatan sosial, bukan sesuatu yang bersifat alami.

 

BLITAR KAWENTAR– Fenomena penggunaan produk skincare pemutih di kalangan remaja masih menjadi sorotan.

Di balik maraknya tren tersebut, muncul anggapan bahwa kulit putih merupakan standar utama kecantikan.

Padahal, pandangan tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat alami, melainkan hasil konstruksi sosial yang terus dibentuk dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Koleksi Buku Disesuaikan dengan Minat Masyarakat, Dispussip Kabupaten Blitar Sulap Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif

Pengamat Sosial Novitasari menilai persepsi bahwa cantik harus putih telah lama dibangun melalui berbagai saluran, mulai dari media sosial, iklan produk kecantikan, hingga lingkungan pergaulan sehari-hari.

 Akibatnya, banyak remaja perempuan merasa harus memiliki kulit cerah agar dianggap menarik dan diterima oleh lingkungan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat penggunaan skincare pemutih tidak lagi sekadar menjadi pilihan perawatan kulit, tetapi berubah menjadi bentuk penyesuaian terhadap tekanan sosial yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga: Koleksi Buku Disesuaikan dengan Minat Masyarakat, Dispussip Kabupaten Blitar Sulap Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif

Novitasari menjelaskan, fenomena tersebut dapat dipahami melalui teori konstruksi sosial yang dikemukakan Peter L.

 Berger dan Thomas Luckmann. Dalam teori itu dijelaskan bahwa berbagai nilai yang dianggap normal oleh masyarakat sebenarnya lahir dari kesepakatan sosial yang terus diproduksi dan diwariskan.

Artinya, definisi perempuan cantik berkulit putih bukanlah ketentuan yang bersifat kodrati, melainkan hasil konstruksi yang diperkuat oleh berbagai pihak, termasuk industri kecantikan.

"Dulu saat saya SMA sekitar tahun 2016, kalau ada teman memakai produk pemutih, yang lain pasti langsung ikut-ikutan.

Di situ ada tekanan sosial atau social pressure di mana seseorang merasa terdorong mengikuti standar itu agar bisa diterima oleh lingkungan sekitar," ungkap Novitasari.

Ia mengatakan, pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana seseorang sering kali membeli atau menggunakan produk tertentu bukan semata karena kebutuhan, melainkan demi memperoleh pengakuan dari lingkungan.

Baca Juga: Sertifikat Tanah Terbitan 1961–1997 Berisiko Tinggi Diserobot, ATR/BPN Dorong Segera Beralih ke Sertifikat Elektronik

Belakangan ini memang mulai banyak kampanye mengenai self-love dan skin positivity yang mengajak masyarakat menerima warna kulit apa adanya.

 Berbagai konten di media sosial juga semakin sering menampilkan keberagaman warna kulit sebagai bentuk kecantikan yang setara.

Namun, menurut Novitasari, gerakan tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi kuatnya promosi industri kecantikan yang masih menempatkan kulit putih sebagai simbol kecantikan ideal.

Baca Juga: Guncangan Hebat Tangsel Warriors! Pelatih Jan Olde Riekerink Resmi Hengkang dari Dewa United Terbaru

Iklan produk pemutih, konten influencer, hingga berbagai promosi di platform digital masih banyak menampilkan citra perempuan berkulit cerah sebagai representasi sosok yang menarik, sukses, dan percaya diri.

Paparan yang terus berulang inilah yang kemudian memperkuat persepsi masyarakat, khususnya kalangan remaja.

Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang merasa kurang percaya diri ketika memiliki warna kulit yang berbeda dengan standar tersebut.

Baca Juga: Dewa United Terbaru: Strategi Potong Generasi Dimulai, Targetkan Papan Atas dengan Fondasi Pemain Muda!

Novitasari mengajak perempuan muda untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai pesan yang diterima melalui media sosial.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tujuan utama iklan adalah membangun kebutuhan agar suatu produk dapat terjual, sehingga tidak semua pesan yang disampaikan harus dipercaya begitu saja.

Ia juga mendorong generasi muda bergabung dengan komunitas yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.

Baca Juga: Reforma Agraria Adalah Redistribusi Tanah, Bukan Sekadar Sertifikat, Ini Definisi hingga Indikator Keberhasilannya

Lingkungan yang sehat dinilai mampu membantu seseorang membangun rasa percaya diri tanpa harus mengikuti standar kecantikan yang sempit.

"Definisi cantik itu bisa diubah. Kuncinya pada rasa percaya diri yang kuat. Tanpa itu, kita tidak bisa menonjolkan karakter, kemampuan, dan prestasi. Sebab, kecantikan sejati tidak hanya bersumber dari penampilan," tegasnya.

Menurut Novitasari, kepercayaan diri menjadi modal utama bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri.

Baca Juga: DPRD Kota Blitar Apresiasi Bazaar Blitar Djadoel 2026, Dinilai Mampu Gerakkan Ekonomi UMKM Lokal dan Lestarikan Budaya

 Ketika seseorang mampu menerima dirinya sendiri, maka ia akan lebih mudah menunjukkan kualitas, kompetensi, serta prestasi yang dimiliki.

Karena itu, ia berharap masyarakat mulai meninggalkan anggapan bahwa kecantikan hanya diukur dari warna kulit.

Setiap perempuan memiliki karakteristik yang berbeda, dan keberagaman tersebut justru menjadi bagian dari nilai kecantikan itu sendiri.

Baca Juga: Sinergi Modern! Strategi Cerdas Dewa United Terbaru Terapkan Data-Driven Rekrutmen untuk Skuad Bintang

Di tengah pesatnya perkembangan industri kecantikan dan media sosial, kesadaran untuk lebih mencintai diri sendiri menjadi langkah penting agar perempuan tidak mudah terjebak pada standar kecantikan yang dibentuk oleh tekanan sosial.

 Dengan rasa percaya diri yang kuat, perempuan dapat tampil apa adanya tanpa harus merasa kurang hanya karena warna kulit yang dimilik.(mg1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#skin positivity #cantik tak harus putih #skincare pemutih #standar kecantikan #percaya diri