BLITAR KAWENTAR – Skincare abal-abal masih menjadi ancaman bagi kesehatan kulit, terutama di kalangan anak muda yang gemar mengikuti tren di media sosial. Banyak produk yang mendadak viral karena diklaim mampu memutihkan wajah atau menghilangkan jerawat dalam waktu singkat, padahal belum tentu aman digunakan.
Fenomena tersebut membuat banyak orang tergoda membeli produk hanya karena ramai diperbincangkan. Padahal, memilih skincare tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan ulasan di media sosial, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kulit masing-masing.
Menurut dr. Wiwi Rahayu, Dipl.CIBTAC, masyarakat perlu lebih bijak sebelum memutuskan menggunakan suatu produk perawatan kulit. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali jenis kulit, baik normal, berminyak, kering, kombinasi, maupun sensitif.
Baca Juga: Kulit Sehat Bukan Sekadar Tren: Analisis Mitos Kecantikan Populer di Kalangan Netizen
"Kenali dulu jenis dan kebutuhan kulit. Pilih produk yang memiliki izin edar resmi dan kandungannya sesuai dengan masalah kulit, bukan sekadar ikut tren," ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan skincare yang tidak sesuai justru dapat memicu berbagai gangguan kulit. Karena itu, masyarakat tidak disarankan mudah percaya pada klaim hasil instan yang banyak beredar di media sosial.
dr. Wiwi mengatakan, salah satu risiko terbesar dari penggunaan skincare abal-abal adalah adanya kandungan bahan berbahaya, seperti merkuri maupun steroid, yang dapat memberikan efek cepat tetapi berdampak buruk bagi kesehatan kulit.
Menurutnya, penggunaan bahan tersebut dalam jangka panjang dapat merusak skin barrier atau lapisan pelindung kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih tipis, mudah iritasi, berjerawat, kemerahan, hingga muncul flek hitam yang sulit diatasi.
Tidak sedikit masyarakat yang baru menyadari dampaknya setelah kondisi kulit mengalami kerusakan cukup parah. Padahal, proses pemulihan skin barrier umumnya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan efek instan yang ditawarkan produk ilegal.
dr. Wiwi menjelaskan bahwa kerusakan skin barrier biasanya ditandai dengan beberapa gejala, seperti kulit terasa perih saat menggunakan skincare, kemerahan, kering, mengelupas, hingga menjadi sangat sensitif terhadap berbagai produk maupun paparan sinar matahari.
Apabila gejala tersebut terus berlanjut atau semakin parah, ia menyarankan masyarakat segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Menurutnya, dokter dapat menilai kondisi kulit secara menyeluruh sehingga penyebab masalah dapat diketahui dan terapi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Selain memilih produk yang aman, dr. Wiwi juga mengingatkan pentingnya menjalankan perawatan kulit secara konsisten. Hasil yang sehat dan alami tidak dapat diperoleh secara instan, melainkan melalui proses yang tepat.
Ia menyarankan masyarakat menggunakan skincare sesuai kebutuhan kulit, rutin memakai sunscreen setiap hari, serta menghindari kebiasaan berganti-ganti produk tanpa alasan yang jelas.
Tak kalah penting, kesehatan kulit juga dipengaruhi oleh pola hidup. Konsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan air putih, tidur yang cukup, dan mengelola stres menjadi bagian dari upaya menjaga kulit tetap sehat dari dalam.
"Merawat kulit sehat itu butuh proses yang aman. Gunakan skincare sesuai kebutuhan, pakai sunscreen setiap hari, pilih produk yang aman, dan konsultasikan ke dokter jika muncul masalah kulit. Selain itu, tetap konsumsi nutrisi yang seimbang agar kesehatan kulit tetap terjaga," pungkas dr. Wiwi Rahayu, Dipl.CIBTAC. (bud/c1/sub)
Editor : Azahra Meilisani Salma