Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Kisah dr. Wiwi Rahayu, Dokter Aesthetic Muda Asal Blitar yang Padukan Seni dan Ilmu Medis

Fajar Rahmad Ali Wardana • Minggu, 12 Juli 2026 | 21:34 WIB
dr. Wiwi Rahayu UNTUK RADAR BLITAR
ANGGUN: dr. Wiwi Rahayu berupaya tampil maksimal demi pelayanan terbaik kepada pasien.
dr. Wiwi Rahayu UNTUK RADAR BLITAR ANGGUN: dr. Wiwi Rahayu berupaya tampil maksimal demi pelayanan terbaik kepada pasien.

BLITAR KAWENTAR - Tidak terbayangkan menjadi dokter kecantikan, bagi perempuan 37 tahun warga Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan. Saat masih duduk di bangku SMA, dia hanya berpikir untuk memasuki jurusan kuliah yang peluang kerjanya luas dan berdampak pada masyarakat.

dr Wiwi Rahayu memilih kedokteran dari pertimbangan yang matang. Bahkan, setelah menjalani pendidikan hingga bertemu banyak pasien, dia justru jatuh cinta dengan pekerjaanya. Baginya, memilih menjadi dokter merupakan keputusan terbaik dalam hidupnya.

"Saya sudah menjadi dokter sejak 2014. Beberapa tahun kemudian, ambil bidang khusus aestetik. Lalu, menjadi dokter aestetik baru 2020. Saat ini saya juga sedang menempuh S-2 magister anti aging," ujarnya, Minggu (12/7/2026).

Baca Juga: Antisipasi Jukir Liar Beraksi, Sebar Personel di Sejumlah Titik Parkir Bazaar Blitar Djadoel 2026 

Dia mengaku alasannya memilih menjadi dokter aestetik karena bidang yang unik. Sebab, selain berpegang pada ilmu kedokteran, pada sisi lain ada unsur art atau seni. Maka dari itu, harus memahami kebutuhan wajah pasien yang berbeda-beda, memahami anatomi wajah, proses penuaan, dan metode membuat hasil yang terlihat alami.

Dari profesi dokter kecantikan ini, Wiwi paling menyukai ketika melihat pasien menjadi lebih percaya diri usai datang ke kliniknya. Kadang mereka datang dengan rasa minder, lalu pulang dengan senyum yang berbeda. Hal itu menjadi kepuasan dan kebahagiaan baginya.

”Untuk tantangannya cukup besar. Dunia estetika berkembang sangat cepat, jadi saya sebagai dokter tidak boleh berhenti belajar. Hampir setiap tahun selalu ada teknologi baru, teknik baru, dan penelitian baru. Jadi, saya memang rutin mengikuti seminar, workshop, dan pelatihan supaya ilmu yang diaplikasikan ke pasien selalu yang terbaru dan paling aman," ungkapnya.

Baca Juga: Capaian CKG di Kota Blitar Tembus 61 Persen, Dinkes Terus Ingatkan Pola Hidup Sehat Setiap Hari

Tidak hanya itu, dokter estetika juga dituntut untuk merawat diri sendiri. Bukan berarti harus cantik sempurna, namun harus tampil sehat, segar, serta profesional. Menurutnya itu juga bagian dari membangun kepercayaan pasien. ”Pasien biasanya akan lebih yakin ketika melihat dokternya juga menerapkan yang dianjurkannya,” imbuhnya.

Bagu Wiwi, menjadi dokter aestetik tidak harus cantik. Namun paling penting tetap berkompeten, beretika, dan hasil perawatannya maksimal. Meskipun begitu, dia juga perlu menjaga penampilan. Bukan demi pencitraan, melainkan sebagai bentuk profesionalisme.

”Saya selalu bilang ke pasien, tujuan estetika bukan mengubah wajah menjadi orang lain, tetapi menjadi versi terbaik dari diri sendiri," tuturnya.

Baca Juga: Warga Desa Serang Blitar Tolak LHP Inspektorat Buntut Sengketa Keuangan BUMDes

Wiwi memiliki kesan menarik saat menjadi dokter aestetik yang sampai sekarang masih diingat. Ketika punya seorang pasien WNI yang sudah lama tinggal di luar negeri. Namun, setiap pulang ke Indonesia, pasien tersebut selalu menyempatkan datang ke kliniknya untuk melakukan perawatan.

Suatu saat pasien itu melakukan beberapa treatment yang hasilnya memang cukup signifikan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, lebih muda, dan tetap natural.

“Lucunya, setelah kembali ke luar negeri, bercerita kalau suaminya sampai tidak mengizinkannya keluar rumah selama sekitar satu minggu.  Suaminya benar-benar mengira beliau menjalani operasi plastik karena perubahan wajahnya terlihat sangat berbeda,” bebernya.  

Baca Juga: Pemkot Blitar Ajak Calon Siswa-Orang Tua Lihat Sekolah Rakyat, Wali Kota: Mereka Berminat Sekolah di Sini

Saat itu, pasiennya sampai harus berkali-kali menjelaskan bahwa yang dilakukan hanyalah tindakan estetika non-bedah, bukan operasi. Setelah dijelaskan mendalam, akhirnya suaminya percaya.

Baginya, kepercayaan seperti itu jauh lebih berharga daripada apa pun. Hal itu menjadi pengingat bahwa hubungan dokter dan pasien dibangun bukan hanya dari hasil tindakan, tetapi juga dari kejujuran, komunikasi, dan rasa percaya.

Baca Juga: 21 Titik Wilayah di Kota Blitar Rawan Kesulitan Air Bersih, BPBD Mulai Tingkatkan Langkah Antisipatif

”Dari momen itu yang membuat saya paling terharu adalah setiap kali beliau merasa membutuhkan perawatan atau ingin memperbaiki kondisi wajahnya, beliau selalu memilih pulang ke Indonesia untuk bertemu saya. Padahal di negara tempat beliau tinggal tentu banyak klinik estetika yang bagus," pungkasnya.(jar/c1/sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#dr Wiwi Rahayu #dokter aesthetic Blitar #dokter kecantikan Blitar #klinik estetika Blitar #dokter anti aging