Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Usaha Burung Kicau JSPF Jogja: Rahasia Anggit Sukses Kuliah S2 dari Beternak Murai Batu hingga Cucak Rowo

Muhammad Rusdian Nuzula • Selasa, 14 Juli 2026 | 11:30 WIB
Ingin sukses bisnis burung? Simak kisah Anggit bangun JSPF Sleman dari hobi memelihara kura-kura hingga ternak murai batu beromset melimpah di sini. (PINTEREST)
Ingin sukses bisnis burung? Simak kisah Anggit bangun JSPF Sleman dari hobi memelihara kura-kura hingga ternak murai batu beromset melimpah di sini. (PINTEREST)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Anggit Mas Arifudin, pemilik JSPF Jogja di Sleman, membuktikan bahwa hobi memelihara satwa berkicau mampu membiayai studinya hingga jenjang S2 Teknik Sipil. Di tengah ramainya tren hobi memelihara kura-kura yang tenang, Anggit justru sukses meraup omset melimpah dari bisnis penangkaran burung berkicau sejak tahun 2011.

Melalui bendera JSP Farm (JSPF) Jogja yang berlokasi di Tempel, Sleman, Yogyakarta, pria yang akrab disapa Anggit Kacer ini berhasil mengelola delapan jenis burung tangkaran. Berawal dari modal nekat uang saku karya wisata saat SMA, kini usahanya terus berkembang pesat dan menjadi rujukan para kolektor burung nasional.

"Enaknya usaha burung kicau ini dia itu setiap bulan produksi," ujar Anggit saat menceritakan konsistensi bisnisnya di Sleman. Perputaran uang yang cepat dari penjualan anakan membuat operasional peternakan mandiri ini terus berputar tanpa hambatan modal.

Baca Juga: Polisi Edukasi Bahaya Bullying di SD Saat MPLS, Tanamkan Kesadaran Hukum dan Keberanian Melapor Sejak Dini

Perjalanan Merintis JSPF Jogja dari Nol

Anggit mengawali langkahnya pada tahun 2011 dengan memelihara satu pasang burung kacer Jawa di belakang rumahnya. Keputusannya menggunakan uang jatah piknik SMA ke Bali untuk membeli burung sempat membuat orang tuanya heran, meski akhirnya mendukung penuh.

Pada tahun 2014, ia resmi memakai nama JSP Farm yang diambil dari nama sang ayah, Jumarlan Siswo Pranjono. Nama tersebut kemudian dipatenkan menjadi CV pada tahun 2022 dengan kepanjangan Jalaran Senang Peksi yang berarti "karena menyukai burung".

Berbekal latar belakang pendidikan Teknik Sipil UGM, Anggit mendesain sendiri master plan kandang penangkarannya agar memiliki tata ruang yang rapi dan nyaman. Kegigihannya teruji saat ia tidak malu membawa kardus berisi burung untuk COD di sela-sela waktu kuliahnya di kampus.

Mengenal Jenis Burung di JSPF Sleman

Saat ini, JSPF Sleman mengelola delapan jenis burung kicauan yang diminati pasar hobi tanah air. Jenis tersebut meliputi kacer Jawa, murai batu, jalak Bali, cucak hijau, cucak rowo, kenari, gould amadin, sulingan (tledekan gunung), serta uji coba penangkaran anis merah.

Untuk burung yang dilindungi seperti jalak Bali, JSPF sudah mengantongi izin penangkaran resmi dari instansi terkait. Setiap transaksi anakan burung dilindungi di tempat ini dilengkapi dengan dokumen legalitas sertifikat resmi demi keamanan pembeli.

Khusus untuk kura-kura, Anggit menyebut trennya berbeda karena hobi seperti hobi memelihara kura-kura membutuhkan ketenangan, sedangkan burung kicau sangat bergantung pada tren kontes dan isian suara. Di JSPF, burung seperti murai batu dipersiapkan dengan indukan prestasi agar menghasilkan anakan trah juara yang bernilai tinggi.

Tips Penjodohan Burung dan Manajemen Pakan

Menurut Anggit, kunci kesuksesan cara ternak murai batu dan jenis burung lainnya terletak pada proses penjodohan burung yang tepat sebelum disatukan. Memasukkan jantan dan betina secara langsung ke kandang ternak sangat berisiko memicu perkelahian fisik akibat salah satu burung terlalu dominan.

Proses penjodohan ideal dilakukan dengan mendekatkan sangkar kecil masing-masing burung selama satu hingga dua minggu hingga terlihat kecocokan. Setelah akur, burung betina dimasukkan terlebih dahulu ke kandang besar, sementara burung jantan tetap digantung di dalam sangkar kecil sebelum dilepas bebas.

Kebutuhan kandang bervariasi mulai dari ukuran kecil 40x60x40 cm untuk kenari, hingga kandang aviary minimal 1x1x2 meter untuk jenis pemakan serangga. Keberhasilan produksi rata-rata berkisar 8 kali dalam setahun, dengan proses penetasan alami selama 14 hari sebelum anakan diambil untuk diloloh manual pada usia satu minggu.

Menghadapi Tantangan Cuaca dan Pasar

Baca Juga: Polisi Edukasi Bahaya Bullying di SD Saat MPLS, Tanamkan Kesadaran Hukum dan Keberanian Melapor Sejak Dini

Salah satu tantangan ternak burung yang paling sering dihadapi oleh para penangkar adalah perubahan cuaca ekstrem, terutama musim panas yang terlalu gerah. Kondisi udara panas dapat membuat burung mengalami stres dan mengalami macet produksi hingga jangka waktu tiga bulan berturut-turut.

Antisipasi yang dilakukan JSPF adalah melakukan penyemprotan air secara berkala pada kandang guna menjaga kelembapan udara di area penangkaran. Selain itu, porsi pakan tinggi protein seperti jangkrik dan ulat hongkong wajib ditambah untuk mendongkrak birahi dan stamina burung saat musim dingin.

Dari sisi pemasaran, Anggit memanfaatkan media sosial secara aktif guna menjangkau pembeli di luar Pulau Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Ia juga bekerja sama dengan jaringan pedagang (bakul) dengan memberikan harga grosir khusus agar rantai distribusi hasil penangkaran tetap berjalan lancar setiap bulan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
hobi memelihara kura-kura kisah sukses usaha burung kicau JSP Farm Sleman cara ternak murai batu penangkaran burung berkicau tantangan ternak burung