BLITAR KAWENTAR – Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi.
Hanya melalui telepon genggam, berbagai peristiwa dapat diketahui dalam hitungan detik lewat media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga X.
Meski menawarkan kecepatan, akses berita melalui media sosial tetap harus disertai sikap kritis agar pengguna tidak mudah terjebak hoaks maupun disinformasi.
Bagi kalangan Gen Z, media sosial kini menjadi salah satu sumber utama untuk mengikuti perkembangan berita.
Kecepatan penyebaran informasi menjadi daya tarik tersendiri karena berbagai peristiwa dapat langsung diketahui tanpa harus menunggu tayangan televisi atau media cetak.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Banyak pengguna internet yang hanya membaca judul, cuplikan video, atau unggahan yang sedang viral tanpa menelusuri isi berita secara utuh.
Kondisi inilah yang dinilai menjadi salah satu penyebab cepatnya penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Blitar, Khoiriyatus Sholikhah, menilai media sosial memang memberikan kemudahan luar biasa dalam memperoleh informasi.
Berbagai peristiwa dapat diakses kapan saja dan di mana saja hanya melalui ponsel.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari berita.
Jika dahulu masyarakat mengandalkan televisi, radio, atau surat kabar, kini informasi lebih banyak diperoleh dari platform digital yang menyajikan berita secara cepat.
Kecepatan tersebut menjadi keuntungan karena masyarakat dapat mengetahui perkembangan situasi secara real time. Namun, di balik kemudahan itu terdapat risiko apabila pengguna tidak memiliki kemampuan memilah informasi.
Khoiriyatus mengingatkan bahwa tidak sedikit pengguna media sosial yang hanya membaca judul berita atau menonton potongan video tanpa memahami konteks secara utuh.
Kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bahkan membuat informasi yang belum terverifikasi dipercaya begitu saja.
Lebih berbahaya lagi, informasi tersebut kemudian dibagikan kembali sehingga memperluas penyebaran hoaks dan disinformasi di ruang digital.
Fenomena ini menjadi tantangan besar di era digital ketika siapa pun dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi dalam waktu yang sangat singkat.
Meski demikian, Khoiriyatus melihat adanya perubahan positif di kalangan sebagian Gen Z.
Kini mulai banyak anak muda yang tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial.
Mereka memilih membandingkan berita dari beberapa media yang kredibel, memeriksa sumber informasi, hingga memastikan kebenarannya sebelum membagikan kepada orang lain.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi digital yang sehat.
Dengan melakukan verifikasi terlebih dahulu, risiko penyebaran informasi palsu dapat ditekan sehingga ruang digital menjadi lebih berkualitas.
Baca Juga: Rencana Pemungutan Suara Undang-Undang Kripto Clarity Act Segera Digelar di Senat AS
Di era digital, kemampuan mengakses informasi dengan cepat memang menjadi sebuah keuntungan. Namun, kecepatan tidak boleh mengalahkan ketelitian dalam memahami isi berita.
Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu membiasakan diri membaca informasi secara utuh, memastikan sumbernya berasal dari media yang terpercaya, serta tidak mudah terpancing judul sensasional yang beredar di media sosial.
Dengan meningkatnya kesadaran untuk melakukan verifikasi informasi, masyarakat diharapkan mampu menjadi pengguna media digital yang lebih bijak.
Baca Juga: Alfeandra Dewangga Ungkap Cerita Unik Selalu Berseragam Biru usai Resmi Gabung Arema FC
Tidak hanya cepat memperoleh berita, tetapi juga mampu memilah fakta dari informasi yang menyesatkan sehingga penyebaran hoaks dapat diminimalkan. (kho/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari