JAKARTA - Alvius Aries Ahmad bersama istrinya, Malika Larasati, mengambil keputusan besar dengan meninggalkan karier dan gemerlap kehidupan Ibu Kota Jakarta. Pria yang akrab disapa Yus tersebut memilih pindah ke Dusun Kanci, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk menjalani gaya hidup slow living. Dari langkah berani tersebut, pasangan suami istri ini sukses mengelola usaha homestay bernama Omah Sebumi, menggarap lahan pertanian seluas 7.500 meter persegi, hingga meraih pendapatan setara standar Jakarta.
Keputusan melepas kehidupan perkotaan berawal dari kondisi kesehatan dan tingkat stres kerja yang dialami Yus saat menjadi financial analyst di Jakarta. Rutinitas lembur hingga tengah malam dan tekanan pekerjaan yang tinggi memicu gangguan tidur serta rasa nyeri pada dada sebelah kiri. Hasil pemeriksaan medis di salah satu rumah sakit Jakarta menyatakan kondisi jantungnya sehat dan rasa sakit tersebut murni akibat stres kerja. Hal tersebut mendorong Yus untuk mengevaluasi ulang kualitas hidup serta masa depan keluarganya.
Latar belakang masalah kesehatan tersebut memicu kesadaran Yus untuk berhenti mengorbankan waktu demi mengejar karier di kota besar. Pria yang memiliki pengalaman tinggal di daerah ini menilai bahwa dinamika transportasi, kemacetan, dan interaksi di Jakarta memberikan pertukaran energi negatif yang tinggi. Didukung sang istri yang berprofesi sebagai instruktur olahraga, keduanya mantap pindah ke desa setelah menyiapkan jaring pengaman finansial dan passive income yang dirintis sejak masih tinggal di Jakarta.
Langkah kepindahan ke Dusun Kanci diawali dengan proses adaptasi sosial yang santun melalui tradisi sowan kepada para sesepuh desa. Yus menyampaikan rencana tempat tinggal dan unit usaha yang akan dibangun agar tidak memunculkan stigma eksklusif sebagai warga pendatang. Pendekatan budaya tersebut membuat keluarga baru ini diterima dengan baik oleh masyarakat setempat tanpa mengalami praktik pungutan liar maupun konflik sosial.
Aktivitas harian Yus di desa dimulai sejak subuh dengan memberi makan ternak domba dan memotong rumput. Setelah urusan peternakan selesai, ia mengelola lahan pertanian cabe rawit merah serta merawat berbagai tanaman hortikultura. Yus juga membagi tugas dengan Laras untuk mengantar jemput anak mereka, Shima, sembari melibatkannya secara langsung dalam kegiatan bercocok tanam sebagai sarana edukasi kehidupan.
Dalam mengelola lahan pertaniannya, Yus menanam beberapa tumbuhan bernilai filosofis sebagai pedoman hidup. Pohon tebu ditanam sebagai simbol anteping kalbu atau kemantapan hati untuk menetap di desa. Tanaman pisang difungsikan sebagai simbol regenerasi serta kewajiban orang tua dalam mewariskan ilmu kepada anak. Sementara itu, tanaman padi digunakan sebagai pengingat untuk tetap rendah hati serta bijaksana dalam menghadapi lika-liku kehidupan.
Diversifikasi Usaha dan Sistem Pangan Mandiri
Usaha pertanian yang dijalankan Yus berkembang pesat hingga dipercaya menjadi pemasok sayuran segar untuk jaringan restoran. Di sisi lain, Laras membuka studio olahraga yang menyediakan kelas pole dan yoga dengan peserta yang didominasi oleh wisatawan serta warga perkotaan. Diversifikasi usaha tersebut dilengkapi dengan pengoperasian homestay Omah Sebumi yang menyasar segmen pelancong yang membutuhkan ruang ketenangan.
Kebutuhan pangan harian keluarga dipenuhi secara mandiri melalui pemanfaatan kebun rumah dan peternakan ayam. Pengalaman bercocok tanam mengajari keluarga ini untuk menghargai setiap piring makanan dan menjaga kesehatan dari paparan pestisida. Kemandirian pangan dari pekarangan rumah ini dirancang sebagai langkah antisipasi jangka panjang dalam menghadapi potensi krisis pangan global.
Pengelolaan sampah organik di lingkungan rumah dilakukan secara sirkular menggunakan metode kandang ayam (chicken composting). Seluruh sisa makanan dapur dan limbah organik dari tamu homestay dibuang ke area kandang beralas tanah. Kebiasaan alami ayam yang mengais tanah mempercepat proses penguraian sampah menjadi pupuk tanpa menimbulkan bau tidak sedap. Keberadaan ternak angsa di pintu masuk juga difungsikan sebagai alarm alami untuk menjaga keamanan area rumah.
Yus menerapkan strategi pengelolaan keuangan yang terencana agar usaha di desa tetap memberikan imbal hasil saat pemiliknya sedang beristirahat. Pengetahuan operasional dari hulu ke hilir dikuasai secara mandiri sebelum menyerahkan sebagian tata kelola kepada sistem. Pendekatan bisnis tersebut membuktikan bahwa tinggal di desa tetap dapat menghasilkan pendapatan yang kompetitif selama didukung dengan literasi investasi yang memadai.
Integrasi Sosial dan Efisiensi Biaya Hidup
Kehidupan di desa memberikan tingkat efisiensi biaya pengeluaran harian dan kebebasan dari tekanan gaya hidup konsumtif. Yus mengungkapkan bahwa masyarakat desa lebih menghargai nilai kebermanfaatan dan kebersihan diri ketimbang simbol status sosial berupa barang mewah. Pola hidup sederhana yang dijalankan bukan karena keterbatasan ekonomi, melainkan pilihan sadar untuk menghindari distraksi perkotaan.
Sistem iuran kemasyarakatan di Dusun Kanci diterapkan berdasarkan kualifikasi ekonomi yang terbagi dalam tiga tingkatan. Pelaku usaha yang ramai, PNS, TNI, dan Polri masuk dalam kategori tingkat pertama dengan iuran tertinggi. Sementara itu, warga lanjut usia dan janda mendapatkan pembebasan dari biaya iuran desa sebagai bentuk kepedulian sosial.
Tradisi gotong royong warga desa terlihat menonjol dalam penanganan peristiwa duka atau kematian warga. Masyarakat sekitar secara swadaya menyiapkan kain kafan, penggalian kubur, perlengkapan sembako, hingga bantuan dana tanpa membebani keluarga yang ditinggalkan. Biaya sosial rutin yang dikeluarkan pendatang umumnya hanya diperuntukkan bagi kegiatan adat seperti nyadran, suronan, sewawalan, kurban, dan peringatan kemerdekaan.
Yus menekankan pentingnya kesiapan finansial dan mental sebelum mengambil keputusan untuk berpindah tempat tinggal ke desa. Persiapan dana darurat dan instrumen investasi aktif di bank menjadi pondasi utama agar proses transisi berjalan lancar tanpa harus kembali ke kota. Melalui pengelolaan Omah Sebumi, pasangan ini berkomitmen menjadikan kediamannya sebagai ruang pemulihan diri yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Editor : Maylanni Diana FitriSumber : yt: OASIS