Rahasia Slow Living di Desa ala Eks Engineer Pesawat: Pensiun Bebas Stres dan Mandiri Pangan

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:20 WIB
Kisah eks engineer pesawat jalani slow living di desa Purbalingga. Sulap lahan 2.000 meter jadi kebun organik dan rahasia hidup hematnya!(pinterest)
Kisah eks engineer pesawat jalani slow living di desa Purbalingga. Sulap lahan 2.000 meter jadi kebun organik dan rahasia hidup hematnya!(pinterest)

PURBALINGGA - Pasangan suami istri pensiunan kota besar, Handoko dan Erna, memilih jalan hidup baru dengan menjalani slow living di desa kawasan Dusun Pakejen, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Mantan engineer pesawat terbang PT GMF AeroAsia ini memutuskan tinggal di kaki Gunung Slamet bagian selatan demi menikmati udara segar serta kehidupan tanpa beban target pekerjaan. Mereka berhasil membangun kebun permakultur seluas 2.000 meter persegi yang menjadi sumber ketahanan pangan keluarga sekaligus ruang terapi kesehatan alami.

Langkah pensiun dan kepindahan ke Dusun Pakejen diawali dari keputusan Erna yang memilih mengundurkan diri sebagai konsultan sekolah alam di Bandung pada awal pandemi 2020. Status Erna sebagai penyintas kanker tiroid menuntutnya untuk menghindari perjalanan luar kota serta menjaga asupan makanan harian secara ketat. Handoko yang telah bekerja lebih dari 30 tahun mengurus bagian engine, landing gear, hingga auditor pesawat terbang kemudian menyusul langkah sang istri untuk menetap sepenuhnya di ujung desa.

Lahan seluas 2.000 meter persegi tersebut disulap menjadi kebun organik yang ditanami berbagai tumbuhan herbal, buah, dan sayuran perenial. Pasangan ini mengonsumsi hasil panen sendiri tanpa bergantung pada obat kimia atau pestisida sintetis. Berbagai jenis tanaman pangan langka didatangkan dari luar daerah untuk dibudidayakan di pekarangan rumah mereka.

Di kebun permakultur tersebut, Erna membudidayakan tanaman pohpohan, buas-buas asal Sumatera, pegagan, krokot, daun adas, hingga parijoto dari Gunung Muria. Tanaman krokot sengaja diperbanyak karena kaya kandungan omega-3 dan menarik kedatangan lebah madu. Sementara buah parijoto kaya antioksidan dikonsumsi langsung saat berwarna hitam manis untuk menjaga kondisi fisik penyintas kanker.

Filosofi Bercocok Tanam Tanpa Beban

Prinsip slow living di desa dialami pasangan ini dengan mengubah pola pikir dari mengejar hasil panen menjadi menikmati proses bercocok tanam. Handoko mengungkapkan bahwa berkebun mengajarinya rasa sabar saat tanaman tidak tumbuh optimal serta sikap legowo ketika pohon buah belum menghasilkan. Tidak ada target komersial yang dibebankan pada lahan pertanian pekarangan rumah tersebut.

Baca Juga: Karanganyar Coffee Plantation Blitar Tawarkan Wisata Sejarah dan Edukasi, Ada Rumah Loji hingga Pabrik Kopi

Selain tanaman obat, kebun bagian bawah yang terpapar sinar matahari penuh dimanfaatkan untuk budidaya bayam Brazil, cabai, tomat, dan daun bawang. Erna juga membudidayakan rosella merah yang dimanfaatkan bagian daun, tangkai, hingga bunganya sebagai bahan minuman kaya vitamin C. Seluruh sisa potongan tanaman dipangkas dan ditancapkan kembali ke tanah untuk perbanyakan mandiri.

Manfaat lingkungan dari metode organik terlihat dari hadirnya keanekaragaman hayati seperti burung liar, kupu-kupu, dan tonggeret di sekitar pekarangan. Kehadiran satwa pendukung menciptakan ekosistem alami yang seimbang dan memberikan kenyamanan bagi penghuni rumah. Pasangan ini juga aktif membagikan bibit dan mengedukasi warga lokal mengenai manfaat konsumsi sayuran non-populer.

Pengabdian Sosial dan Edukasi Pendidikan

Di luar aktivitas pertanian, Handoko dan Erna mendedikasikan waktu mereka untuk mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) milik Griya Petualang Indonesia. Mereka menjadi tenaga pengajar relawan untuk program Paket B dan Paket C yang diikuti oleh warga putus sekolah, termasuk kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu lokal.

Baca Juga: Wisata Karanganyar Coffee Plantation Blitar, Jelajahi Rumah Loji, Pabrik Kopi hingga Jejak Bung Karno

Pengabdian di bidang pendidikan ini didasari oleh keprihatinan mereka terhadap rendahnya kesadaran sekolah di wilayah pedesaan. Banyak warga usia produktif yang hanya mengandalkan tenaga fisik dengan upah minim saat merantau ke kota besar sebagai buruh bangunan. Kehadiran kelas kejar paket ini diharapkan mampu membuka wawasan warga akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka.

Melalui interaksi sosial ini, keberadaan pendatang di kawasan Pakejen memberikan dampak positif nyata bagi penguatan kualitas sumber daya manusia lokal. Kehadiran mereka diterima dengan baik oleh komunitas desa karena mampu berbaur tanpa membedakan status sosial.

Menepis Mitos Financial Freedom di Desa

Menjawab pandangan publik mengenai tingginya biaya untuk memulai slow living di desa, Handoko menepis anggapan bahwa seseorang harus mencapai financial freedom atau memiliki tabungan besar terlebih dahulu. Kunci utama bertahan hidup di desa terletak pada kesediaan untuk menurunkan standar keinginan serta memilah kebutuhan yang benar-benar penting.

Penghematan pengeluaran dilakukan dengan menekan konsumsi barang-barang sekunder seperti pakaian, sepatu, maupun makanan impor yang mahal. Kebutuhan gizi harian dipenuhi dari hasil pekarangan seperti buah pepaya dan sayuran segar tanpa perlu membeli ke pasar. Dalam kondisi produksi cabai melimpah, Erna bahkan menerapkan sistem barter dengan warung tetangga untuk ditukarkan dengan beras dan telur.

Pola hidup sederhana yang diterapkan terbukti mampu menekan biaya hidup harian secara signifikan tanpa menurunkan kualitas kesehatan. Pasangan ini membuktikan bahwa kesiapan mental untuk mengurangi keinginan jauh lebih penting daripada jumlah tabungan saat memutuskan pindah ke desa. Melalui pemanfaatan lahan secara optimal, kehidupan pensiun di desa dapat dijalankan dengan tenang, sehat, dan mandiri.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Sumber : yt: Bumiku Satu
kebun organik pekarangan slow living di desa pensiunan berkebun permakultur cara hidup hemat di desa ketahanan pangan keluarga