Quiet Luxury Mulai Ditinggalkan? Maximalism Disebut Jadi Tren Fashion Baru yang Makin Mendominasi

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 17:40 WIB
Quiet luxury disebut mulai tergeser oleh tren maximalism. Simak alasan perubahan tren fashion serta faktor yang memicu pergeseran gaya berpakaian.(pinterest)
Quiet luxury disebut mulai tergeser oleh tren maximalism. Simak alasan perubahan tren fashion serta faktor yang memicu pergeseran gaya berpakaian.(pinterest)

JAKARTA - Quiet luxury yang selama tiga tahun terakhir mendominasi dunia fashion disebut mulai kehilangan pamornya. Dalam sebuah video YouTube, kreator konten fashion mewah Cass menjelaskan bahwa tren yang identik dengan gaya minimalis, warna netral, dan kemewahan tanpa logo kini mulai tergeser oleh kebangkitan gaya maksimalis atau maximalism yang lebih berani dalam warna, motif, tekstur, dan aksesori.

Menurut Cass, quiet luxury bukan hanya memengaruhi dunia fashion, tetapi juga merambah berbagai aspek gaya hidup, termasuk desain interior. Selama tren ini berkembang, masyarakat lebih banyak memilih busana bernuansa netral, siluet sederhana, dan investasi pada item klasik yang dianggap memiliki nilai pakai jangka panjang.

Namun, setelah menjadi tren yang begitu besar, quiet luxury dinilai mengalami kejenuhan. Kini, berbagai rumah mode hingga selebritas mulai menunjukkan arah baru yang berlawanan dengan konsep tersebut.

Quiet Luxury Pernah Mendominasi Dunia Fashion

Cass menjelaskan bahwa quiet luxury berkembang sangat cepat hingga menjadi istilah yang hampir selalu muncul dalam pembahasan fashion beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: My Melody Strawberry Nails Jadi Tren, YouTuber JOUNAIL Bagikan Cara Ganti Nail Art Tanpa Lepas Extensions

Konsep ini identik dengan istilah stealth wealth, yaitu gaya berpakaian yang menampilkan kesan mewah tanpa memperlihatkan logo besar atau identitas merek secara mencolok.

Warna-warna netral seperti krem, hitam, putih, abu-abu, hingga cokelat menjadi fondasi utama. Siluet pakaian dibuat sederhana dengan fokus pada kualitas material dan potongan yang rapi.

Menurutnya, tren tersebut bahkan meluas ke berbagai bidang lain, termasuk desain interior, sehingga dunia visual secara umum dipenuhi nuansa yang lebih tenang dan minimalis.

Tiga Momen yang Memicu Popularitas Quiet Luxury

Dalam video tersebut, Cass menyebut ada tiga peristiwa budaya populer yang mempercepat popularitas quiet luxury pada 2023.

Baca Juga: Keseharian Pemilik Salon Kuku Jelang Melahirkan: Bagi Tips Nail Art Hingga Cerita Kehamilan

Peristiwa pertama terjadi pada Maret 2023 melalui serial televisi Succession musim keempat.

Salah satu adegan menampilkan dialog mengenai ludicrously capacious bag, yaitu tas Burberry berukuran besar yang dikritik karena dianggap tidak sesuai dengan lingkungan kalangan elite.

Adegan tersebut memicu diskusi luas mengenai stealth wealth, gaya berpakaian kalangan old money, serta bagaimana karakter dalam serial tersebut menggunakan busana sebagai simbol status sosial.

Pembahasan mengenai kostum para tokohnya kemudian berkembang menjadi percakapan tentang fashion mewah tanpa logo yang dianggap lebih eksklusif.

Pernikahan Sofia Richie Ikut Memperkuat Tren

Momen kedua datang pada April 2023 ketika pernikahan Sofia Richie menjadi perhatian publik.

Cass menilai busana yang dikenakan Sofia Richie memperlihatkan karakter quiet luxury yang sangat kuat.

Gaun berleher tinggi, siluet sederhana, warna lembut, hingga minimnya penggunaan logo menjadi ciri utama yang kemudian banyak ditiru.

Seluruh penampilan Sofia selama rangkaian acara pernikahan juga disebut konsisten menggunakan gaya yang tenang tanpa detail berlebihan.

The Row Margaux Jadi Simbol Quiet Luxury

Momen ketiga adalah meningkatnya popularitas tas The Row Margaux pada pertengahan hingga akhir 2023.

Tas tersebut menjadi salah satu ikon quiet luxury karena tampil sederhana tanpa logo mencolok.

Identitas mereknya hanya berupa cap kecil di salah satu sisi tas sehingga hampir tidak terlihat.

Cass menyebut popularitas The Row Margaux turut mendorong pertumbuhan produk tiruan atau dupe.

Karena desainnya sederhana, banyak produsen menghadirkan versi serupa yang mudah ditemukan di berbagai platform belanja daring.

Fenomena tersebut semakin memperluas penyebaran estetika quiet luxury ke berbagai kalangan.

Quiet Luxury Memicu Perdebatan

Popularitas quiet luxury ternyata juga menimbulkan berbagai diskusi.

Salah satunya mengenai istilah old money aesthetic yang sering disamakan dengan quiet luxury.

Menurut Cass, muncul perdebatan mengenai makna sebenarnya dari old money dan apakah gaya berpakaian tertentu benar-benar dapat mewakili kelompok sosial tertentu.

Selain itu, berkembang pula pandangan bahwa kalangan old money dianggap lebih elegan dibanding new money yang identik dengan kemewahan mencolok.

Cass menilai cara pandang tersebut memicu pembahasan mengenai kelas sosial dalam dunia fashion.

Kondisi Ekonomi Ikut Mendukung Quiet Luxury

Faktor ekonomi juga disebut berperan dalam meningkatnya popularitas quiet luxury.

Saat kondisi ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja, banyak orang memilih membeli item klasik yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Konsep investasi fashion menjadi lebih menarik dibanding mengikuti tren yang cepat berubah.

Cass bahkan mengaku sempat mempertimbangkan membeli The Row Margaux meski mengakui gaya tersebut sebenarnya bukan selera pribadinya.

Ia menyebut paparan yang terus-menerus terhadap sebuah tren mampu memengaruhi cara seseorang memandang suatu produk.

Selebritas Turut Mendorong Tren

Popularitas quiet luxury juga diperkuat oleh banyak figur publik.

Cass menyebut Hailey Bieber sebagai salah satu selebritas yang identik dengan gaya tersebut.

Menurutnya, ketika Kylie Jenner yang sebelumnya dikenal dengan gaya lebih mencolok juga mulai mengenakan busana quiet luxury, tren tersebut semakin menguat.

Fenomena itu memperlihatkan bagaimana pengaruh selebritas mampu mempercepat penyebaran gaya berpakaian kepada masyarakat luas.

Maximalism Mulai Menggantikan Quiet Luxury

Setelah beberapa tahun mendominasi, Cass menilai kini dunia fashion mulai bergerak menuju arah yang berlawanan.

Ia menyebut era maximalism telah dimulai.

Berbagai rumah mode besar mulai kembali menghadirkan warna-warna cerah, aksesori berukuran besar, tekstur kompleks, hingga siluet yang lebih berani.

Sebagai contoh, Cass menyinggung penampilan karakter Miranda Priestly dalam film The Devil Wears Prada 2 yang mengenakan jaket Dries Van Noten dengan detail rumbai besar.

Menurutnya, tampilan tersebut menjadi simbol perubahan dari estetika minimal menuju gaya yang lebih ekspresif.

Rumah Mode Besar Mulai Menampilkan Gaya Berani

Cass juga menyoroti sejumlah koleksi terbaru dari berbagai rumah mode.

Saint Laurent disebut mulai menghadirkan volume besar, warna lebih berani, kalung dan anting berukuran besar, hingga sepatu dengan desain mencolok.

Loewe melalui koleksi resort juga menampilkan kombinasi warna merah muda, oranye, dan biru yang jauh lebih ekspresif dibanding tren sebelumnya.

Sementara Chanel Métiers d'Art disebut menghadirkan tampilan yang sangat kaya warna dan tekstur.

Menurut Cass, seluruh koleksi tersebut menunjukkan bahwa industri fashion sedang bergerak menjauhi kesederhanaan quiet luxury.

Data Penjualan Dinilai Mendukung Perubahan Tren

Cass juga mengamati daftar produk terlaris Net-a-Porter.

Menurutnya, daftar tersebut kini dipenuhi item yang tidak akan muncul ketika quiet luxury berada di puncak popularitas.

Beberapa di antaranya adalah koleksi Pucci dengan motif mencolok, Valentino Rockstud Pump berwarna biru, tas Loewe Paula Ibiza dengan detail stroberi, hingga sneakers berhias ornamen.

Selain itu, penggunaan payet, kristal, bulu, manik-manik, motif besar, dan tekstur kompleks juga semakin sering terlihat.

Karpet Merah Kembali Dipenuhi Perhiasan

Perubahan tren juga tampak pada berbagai acara karpet merah.

Cass menilai tren tanpa kalung yang sempat populer kini mulai ditinggalkan.

Sebaliknya, para selebritas kembali mengenakan perhiasan besar saat menghadiri Festival Film Cannes, Oscar, maupun berbagai acara lain.

Menurutnya, kemunculan kembali aksesori mencolok memperkuat kebangkitan maximalism.

Y2K Ikut Kembali Populer

Pasar barang preloved juga disebut menunjukkan arah serupa.

Koleksi era Y2K kembali diminati.

Periode tersebut identik dengan logo besar, motif mencolok, slogan, serta gaya berpakaian yang jauh dari konsep quiet luxury.

Fenomena itu dinilai semakin mempertegas perubahan selera konsumen.

Cass: Ikuti Gaya Pribadi, Bukan Sekadar Tren

Meski membahas kebangkitan maximalism, Cass menegaskan bahwa quiet luxury bukanlah gaya yang buruk.

Menurutnya, seseorang tetap dapat mengenakan quiet luxury apabila memang sesuai dengan karakter pribadi.

Ia menilai tren seharusnya menjadi sarana mengeksplorasi gaya berpakaian, bukan menggantikan identitas seseorang.

Sebagai inspirasi bagi mereka yang ingin mencoba maximalism, Cass menyarankan penggunaan sepatu dengan desain unik, perhiasan kostum berukuran besar, pakaian bertekstur, motif mencolok, hingga aksesori berlogo.

Sebaliknya, ia menyarankan agar konsumen lebih selektif membeli produk mewah yang terlalu sederhana apabila menginginkan item yang terasa lebih istimewa.

Di akhir video, Cass kembali menekankan bahwa berpakaian sesuai kepribadian akan memberikan kenyamanan sekaligus membuat seseorang lebih percaya diri dibanding sekadar mengikuti tren yang sedang populer.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Sumber : yt: Cassie Thorpe
Quiet Luxury Maximalism tren fashion 2026 old money aesthetic stealth wealth