CIMAHI - Pembudidaya sekaligus pemilik Samurai Koi Center, Pak Kiki Sutarki, menerima kunjungan presenter Irfan Hakim dan Hartono di galeri budidaya koi miliknya di kawasan Cihanjuang, Cimahi, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, Pak Kiki memamerkan deretan koleksi koi kelas dunia yang berhasil memborong berbagai gelar kejuaraan bergengsi, termasuk predikat Grand Champion di berbagai ajang kontes nasional maupun internasional. Pertemuan ini mengungkap perjalanan karier Pak Kiki yang bertransformasi penuh dari pebisnis furnitur menjadi salah satu dealer koi terbesar di Indonesia.
Perjalanan Pak Kiki Sutarki di dunia ikan hias berawal dari hobi yang ditekuni secara sembunyi-sembunyi di sela kesibukannya mengelola bisnis furnitur. Seiring berjalannya waktu, kegemaran tersebut berkembang menjadi unit usaha profesional hingga dirinya resmi menjadi dealer resmi (official dealer) untuk berbagai farm koi legendaris asal Jepang, seperti Sakai Fish Farm, Momotaro Koi Farm, dan Narita. Keberhasilan Samurai Koi Center dalam mendatangkan serta merawat koi berkualitas super terbukti dari dominasi koleksinya yang pernah menyapu bersih seluruh gelar juara di puluhan kompetisi koi tanah air dalam satu tahun.
Di galeri Cihanjuang yang menjadi fasilitas keduanya setelah kediaman pribadi, Pak Kiki memelihara puluhan spesimen koi berukuran besar (big size) dengan kualitas kualifikasi kontes All Japan Class. Koleksi unggulannya mencakup varietas Sanke, Kohaku, hingga Kawarimono dengan ukuran panjang tubuh mencapai 70 sentimeter hingga 1 meter. Kehadiran koleksi koi berukuran raksasa tersebut menegaskan reputasi Samurai Koi Center sebagai pusat penangkar dan penyedia koi kelas atas bagi para kolektor nasional.
Rahasia Perawatan Koi Champion dan Manajemen Kolam
Dalam memelihara koi tingkat kompetisi, Pak Kiki Sutarki menerapkan manajemen pemeliharaan air dan pola pakan yang sangat terukur dan disiplin. Menjelang keikutsertaan dalam sebuah kontes, koi-koi unggulan wajib menjalani puasa guna mengatur sistem metabolisme tubuh agar tetap berada dalam kondisi prima. Selain pakan, pengaturan suhu air di area Cihanjuang dijaga pada rentang ideal 22 hingga 23 derajat Celsius yang sangat mendukung proses finishing atau pematangan warna kulit (skin quality).
Baca Juga: Cara Mengurus Surat Roya KPR Setelah Kredit Lunas, Ini Fungsi dan Manfaatnya bagi Pemilik Rumah
Pak Kiki juga memisahkan penampungan koi jantan dan betina ke dalam kolam yang berbeda untuk mencegah terjadinya proses perkawinan alami di luar rencana. Menurutnya, pencampuran koi jantan dan betina dalam satu kolam akan merangsang naluri produksi telur pada koi betina, sehingga nutrisi dari pakan berkualitas tidak terserap menjadi massa otot (muscle), melainkan terbuang untuk pembentukan telur. Penanganan terpisah ini menjaga postur tubuh koi betina tetap padat, tebal, dan proporsional (balky) menyerupai bentuk kapal selam tanpa mengalami pembengkakan perut.
Untuk menjaga kestabilan air kolam dari bahaya kontaminasi, area kolam Samurai Koi Center dilengkapi dengan atap peneduh khusus yang dirancang menahan paparan langsung air hujan pertama. Air hujan pertama dinilai berbahaya karena membawa polutan dan racun dari udara yang dapat menurunkan nilai pH air secara drastis (pH drop). Meski tertutup atap, konstruksi bangunan tetap memaksimalkan pencahayaan sinar matahari langsung (radiasi ultraviolet) yang sangat dibutuhkan untuk mempertajam pigmen warna merah (beni) dan kilau kulit (shining) pada koi.
Fasilitas Aerasi dan Dukungan Dokter Hewan Spesialis
Kualitas filtrasi dan ketersediaan oksigen terlarut (dissolved oxygen) menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan seluruh koleksi koi di Samurai Koi Center. Sistem filter biologis difungsikan secara optimal untuk mengurai senyawa amoniak dari kotoran dan sisa pakan menjadi nitrat yang aman bagi ekosistem kolam. Selain itu, penggunaan sistem filter trickle atau bakki shower diterapkan untuk memecah molekul air sehingga penyerapan oksigen ke dalam kolam berjalan jauh lebih maksimal.
Baca Juga: Program PTSL 2026 Dibuka Lagi: Ini Syarat, Manfaat, dan Target Pemerintah
Guna memastikan kondisi kesehatan fisik koi tetap terpelihara secara medis, Samurai Koi Center didukung oleh dokter hewan spesialis koi, drh. Handy. Kehadiran dokter hewan spesialis bertugas memantau dan menangani berbagai potensi penyakit spesifik pada koi, mulai dari serangan parasit kutu, cacingan, hingga kelainan kulit seperti hikui atau kanker kulit pemicu kerusakan pigmen warna merah. Pengawasan medis berkala ini menjamin seluruh koi yang siap bertanding berada dalam kondisi bebas stres dan bugar.
Selain pengawasan medis, aspek keselamatan fisik koi berukuran jumbo juga menjadi perhatian utama saat proses pemindahan atau transportasi menuju arena lomba. Penggunaan jaring khusus dan pemberian obat penenang (bius) dosis aman dilakukan untuk meminimalisir risiko luka pada sisik atau cedera akibat lompatan ikan. Penanganan ekstra hati-hati ini sangat penting mengingat hilangnya satu lembar sisik dapat menggugurkan peluang koi untuk meraih gelar juara di tingkat kualifikasi internasional.
Koleksi Unggulan dan Sajian Kuliner Istimewa
Di antara puluhan koleksi koi yang dipamerkan, salah satu koi varietas Sanke berukuran 70 sentimeter menjadi perhatian utama karena telah mencatatkan rekor delapan kali meraih gelar Grand Champion. Spesimen yang diperkirakan berusia 3,5 tahun tersebut memiliki keunggulan pada kualitas pola warna hitam (subosumi) yang letaknya berada sempurna di atas warna dasar putih yang sangat bersih (smooth). Rekor kemenangan yang konsisten membuat koi legendaris tersebut kerap diminta untuk tidak diturunkan dalam beberapa ajang kontes lokal demi memberikan kesempatan bagi kontestan lain.
Selain Sanke legendaris, Pak Kiki juga menunjukkan koi varietas Kawarimono berukuran panjang 1 meter yang telah dipelihara selama kurun waktu enam tahun di galerinya. Koi berukuran raksasa tersebut memiliki keunikan fisik pada struktur wajah dan pola di area hidung yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghobi. Tak hanya itu, sebuah spesimen koi berukuran mendekati 100 sentimeter yang telah mengantongi tiga gelar Grand Champion di Cibinong, Nusatik, dan PIK turut dipamerkan dalam kondisi kebugaran yang terjaga.
Kunjungan hangat Irfan Hakim dan Hartono di Samurai Koi Center ditutup dengan sesi santap bersama yang disajikan langsung oleh Chef Evi dari restoran seafood kawasan Pasteur, Bandung. Sederet hidangan laut segar diolah secara khusus di lokasi, mulai dari olahan kepiting bakau asal Papua berbobot 800 gram dengan saus butter, kepiting olahan shallot, ikan kerapu tim khas Hongkong, udang rebus segar, hingga mantau goreng. Jamuan kuliner spesial ini menjadi penutup rangkaian kegiatan peninjauan galeri koi kelas dunia di Cimahi.
Editor : Maylanni Diana FitriSumber : yt: deHakims Channel