JAKARTA - Pembawa acara kondang Irfan Hakim kembali menambah koleksi ikan koi berukuran jumbo di kolam pameran area Pendopo deHakims. Langkah penambahan koleksi ini dilakukan melalui penyerahan tiga ekor koi super dari rekan sesama pencinta koi, Hartono, yang dipindahkan secara khusus menuju fasilitas penangkaran milik Irfan Hakim. Salah satu koi yang ditransfer merupakan varietas Cagoi Ginrin Tembaga berukuran raksasa dengan panjang tubuh mencapai 105 sentimeter.
Prosesi penyerahan dan pemindahan tiga ekor koi unggulan tersebut dilakukan dengan penanganan tingkat tinggi guna memastikan kondisi fisik ikan tetap prima. Selain Cagoi Ginrin Tembaga berukuran 105 sentimeter, Hartono menyerahkan satu ekor koi varietas Showa koleksi Omosako Koi Farm serta satu ekor varietas Yellow Monkey hasil penangkar Dainichi Koi Farm. Seluruh koi yang baru dipindahkan wajib menjalani prosedur penyesuaian lingkungan (aklimatisasi) serta pemantauan ketat sebelum dilepas penuh ke kolam utama.
Kehadiran tiga koleksi baru ini melengkapi keberadaan spesimen koi yang telah dipelihara sebelumnya di fasilitas Pendopo deHakims sehingga total populasi di kolam tersebut kini menjadi 10 ekor. Pengawasan medis yang ketat serta dukungan fasilitas air mengalir menjadi faktor utama yang meyakinkan Hartono untuk mempercayakan perawatan seluruh koi kesayangannya kepada Irfan Hakim dan tim.
Rekam Medis Pengobatan Infeksi Bibir Koi Omosako Showa
Sebelum resmi dipindahkan ke fasilitas Irfan Hakim, salah satu koi varietas Showa asal penangkar Omosako Koi Farm sempat mengalami infeksi serius di bagian mulut. Penyakit yang dikenal dengan istilah mouth rubbing tersebut memicu luka bekas berbulan-bulan yang membusuk hingga menggerogoti jaringan daging di sekitar bibir ikan. Penyakit infeksi bakteri ini pertama kali ditemukan oleh tim medis khusus, drh. Roy, saat melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di kolam milik Hartono.
Baca Juga: Tahun 2026 Girik, Petuk, dan Letter C Tidak Berlaku Lagi: Daftar Sertipikat via PTSL Sekarang
Guna mengatasi infeksi bakteri yang sudah mengikis jaringan daging tersebut, drh. Roy melakukan tindakan medis darurat dengan memberikan pembius khusus (sedasi) pada koi. Pemberian obat penenang ber dosis aman berfungsi untuk meminimalkan tingkat stres serta memudahkan proses pembersihan dan pemberian obat luka secara langsung pada bibir ikan. Selain infeksi bibir, tim medis turut mendeteksi adanya serangan parasit kutu koi pada area sirip ekor yang memicu penurunan daya tahan tubuh (imunitas) ikan.
Usai menjalani perawatan medis serta penanganan intensif dari drh. Roy, kondisi kesehatan fisik koi Showa Omosako tersebut berangsur pulih dan dinyatakan sembuh total dari luka infeksi. Keberhasilan tindakan medis ini menjadi jaminan utama bagi Hartono sebelum menyerahkan koi kesayangannya untuk dirawat berdampingan dengan koleksi jumbo milik Irfan Hakim.
Profil Varietas Yellow Monkey Dainichi dan Cagoi Ginrin Tembaga
Koleksi lain yang menyita perhatian dalam proses pemindahan ini adalah varietas Yellow Monkey asal penangkar legendaris Jepang, Dainichi Koi Farm. Spesimen ini dibawa langsung sebagai oleh-oleh dari Jepang saat Irfan Hakim dan Hartono melakukan kunjungan ke pameran Futoshi Mano. Varietas Yellow Monkey ini sengaja dititipkan untuk dipopulerkan di pasar internasional, khususnya di Indonesia, dengan capaian pertumbuhan panjang tubuh dari 35 sentimeter menjadi 57 sentimeter hanya dalam waktu satu bulan.
Baca Juga: Balik Nama Sertifikat Tanah Tanpa Notaris Bisa Dilakukan, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
koi varietas Cagoi Ginrin Tembaga yang dipelihara Hartono selama dua tahun dari ukuran awal 80 hingga 85 sentimeter. Spesimen berusia enam tahun dari penangkar Marudo Koi Farm ini memiliki ciri khas warna kulit tembaga yang sangat langka serta kilau sisik berlian (ginrin). Rangka tubuhnya yang sangat tebal pada bagian pangkal ekor menandakan potensi pertumbuhan fisik yang masih dapat bertambah hingga menembus ukuran panjang ekstrem.
Proses pelepasan Cagoi Ginrin Tembaga berukuran 105 sentimeter ini wajib diangkat oleh dua orang petugas menggunakan kantong plastik penampungan khusus. Penggunaan metode angkut dua orang ini diterapkan guna menghindari risiko pembengkokan atau cedera pada struktur tulang belakang koi saat dipindahkan. Meski memiliki ukuran tubuh raksasa, spesimen Cagoi tersebut terbukti sangat aktif berenang dan mampu bermanuver mengelilingi sudut kolam.
Racikan Pakan Pasta Khusus untuk Pertumbuhan Ekstrem
Guna menjaga pola konsumsi nutrisi koi berukuran raksasa, Hartono memberikan pelatihan khusus kepada tim perawat kolam Irfan Hakim mengenai tata cara pembuatan pakan berbentuk pasta. Makanan bertekstur pasta sangat disukai oleh koi berukuran jumbo karena posisi anatomi mulut koi berada di bagian bawah kepala (ventral). Pemberian pakan pasta yang tenggelam ke dasar kolam memudahkan koi mengonsumsi makanan tanpa perlu membuang energi untuk muncul ke permukaan air.
Komposisi pakan pasta racikan Hartono memanfaatkan campuran pakan high grow berbasis oatmeal (wejem) yang terinspirasi dari metode pakan pabrikan Sakai Fish Farm. Formulasi pakan ini dikombinasikan dengan tambahan pakan pematang warna merah (color booster) sebanyak 20 persen, pakan pertumbuhan biasa, serta dua butir vitamin B kompleks. Penambahan vitamin B kompleks berfungsi untuk menjaga kesehatan organ hati (liver) sekaligus merangsang nafsu makan ikan.
Sistem pemberian pakan pasta ini disuapkan secara perlahan ke dasar air untuk memastikan seluruh nutrisi terserap sempurna oleh sistem pencernaan koi. Penggunaan pakan bergizi tinggi yang dipadukan dengan kualitas sirkulasi air mengalir di kolam Pendopo deHakims diyakini dapat mempertahankan tingkat kecerahan warna kulit (shiroji) serta kesehatan fisik seluruh koleksi koi.
Komitmen Edukasi Pelepasan Satwa dan Filosofi Fangseng
Di sela kegiatan penanganan koi, Irfan Hakim dan Hartono turut memberikan klarifikasi mengenai aksi pelepasan ribuan ekor koi di objek wisata mata air Situ Cipanten beberapa waktu lalu. Langkah penyebaran ikan koi berukuran 30 sentimeter hingga 80 sentimeter tersebut sempat memicu kekhawatirkan masyarakat terkait potensi spesies invasif di ekosistem perairan terbuka. Irfan menegaskan bahwa area Situ Cipanten merupakan kolam bendungan mata air yang tertutup saringan dan tidak memiliki populasi ikan endemik asli.
Pelepasan koi berukuran besar di Situ Cipanten bertujuan agar ikan tidak terdorong masuk ke dalam saluran saringan air mengalir. Aksi pelepasan tersebut terbukti memberikan dampak ekonomi positif bagi pengelola BUMDes serta warga sekitar melalui peningkatan volume wisatawan dan pendapatan sektor parkir hingga puluhan juta rupiah. Masyarakat serta pengunjung kini dapat berinteraksi langsung memberi makan ribuan koi yang terawat di area objek wisata tersebut.
Hartono menambahkan bahwa tindakan pelepasan satwa ke habitat yang aman sejalan dengan filosofi fangseng atau tradisi memberikan kehidupan demi kehidupan. Filosofi ini diterapkan melalui aksi nyata seperti melepaskan burung ke alam bebas, menyelamatkan satwa dari pemotongan, hingga merawat koi sakit sampai sembuh total. Edukasi pemeliharaan lingkungan dan satwa ini diharapkan dapat terus menginspirasi para pecinta hewan di seluruh Indonesia.
Editor : Maylanni Diana FitriSumber : yt: deHakims Channel