TULUNGAGUNG – Personal branding menjadi salah satu kemampuan penting bagi siapa saja yang ingin berkarier di dunia broadcasting. Hal itu disampaikan dosen sekaligus praktisi penyiaran Muhammad Syarif Thayib dalam sebuah podcast yang membahas perjalanan karier serta strategi membangun identitas diri di era digital.
Menurut Muhammad Syarif Thayib, personal branding tidak hanya dibangun dari kemampuan berbicara, tetapi juga dari karakter, konsistensi, dan keberanian untuk tampil berbeda. Ia menilai perkembangan teknologi membuat penyiar harus mampu beradaptasi dengan berbagai platform digital tanpa meninggalkan kualitas komunikasi.
Baca Juga: Warren Buffett Jadi Acuan, Ini 6 Cara Evaluasi Bisnis agar Tetap Bertahan dan Tumbuh pada 2026
Perjalanan Memulai Karier di Dunia Broadcasting
Muhammad Syarif Thayib mengungkapkan ketertarikannya pada dunia broadcasting bermula sejak masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Saat itu, ia justru lebih menyukai bidang teknik elektro dan belajar merakit pemancar radio FM secara mandiri.
Setelah berhasil membuat pemancar sederhana, ia mulai memutar kaset musik untuk disiarkan. Namun, ia menyadari sebuah radio tidak cukup hanya memiliki perangkat siaran. Diperlukan sosok penyiar yang mampu berkomunikasi dengan pendengar.
Keberanian untuk menjadi penyiar muncul setelah pengalaman mengikuti latihan pidato atau khitobah di lingkungan pesantren. Kegiatan tersebut menjadi bekal awal dalam melatih kemampuan berbicara di depan publik.
Ketika melanjutkan kuliah di Malang, Muhammad Syarif Thayib bergabung dengan radio kampus. Awalnya ia lebih banyak membantu sebagai teknisi, mulai dari memperbaiki perangkat hingga merakit antena.
Kesempatan menjadi penyiar datang ketika tidak ada penyiar yang bertugas. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk menunjukkan kemampuannya berbicara di udara. Pengalaman mewawancarai tamu dari Timur Tengah menggunakan bahasa Arab menjadi salah satu titik balik yang membuatnya dipercaya menjadi penyiar radio kampus.
Menjadi Penyiar Profesional
Setelah lulus kuliah, Muhammad Syarif Thayib sempat mengajar di sekolah. Namun, pada 2003 ia memutuskan bergabung dengan industri radio di bawah Mayangkara Group.
Ia mengaku sempat mendapat penolakan dari keluarga karena profesi penyiar saat itu belum dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan.
Meski demikian, ia tetap memilih dunia penyiaran setelah mendapatkan pandangan bahwa seorang penyiar memiliki peran layaknya guru yang memberikan edukasi kepada masyarakat melalui siaran radio.
Baginya, penyiar bukan sekadar membawakan acara, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan informasi, wawasan, dan nilai-nilai positif kepada pendengar.
Menemukan Personal Branding
Muhammad Syarif Thayib mengatakan personal branding tidak muncul secara instan. Ia mengawali proses tersebut dengan mengidolakan seorang penyiar senior dari Radio Suara Surabaya.
Ia mengaku sering merekam siaran penyiar tersebut untuk mempelajari gaya berbicara, intonasi, cara membuka acara, hingga teknik berkomunikasi dengan pendengar.
Menurutnya, meniru bukan sesuatu yang salah selama dilakukan sebagai proses belajar. Setelah memahami dasar-dasarnya, seseorang perlu menambahkan karakter pribadi agar memiliki identitas sendiri.
Ia memperkenalkan konsep 3N, yakni Niteni (mengamati), Nerokke (meniru), dan Nambahi (mengembangkan).
Melalui proses itu, seseorang tidak hanya menjadi peniru, tetapi mampu menciptakan ciri khas yang membedakannya dari penyiar lain.
Baca Juga: Jadwal Indonesia vs Vietnam di Semifinal SEA V Cup 2026: Bagan, Klasemen Akhir, dan Jam Tayang
Berani Berbeda Menjadi Nilai Tambah
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Syarif Thayib juga mengutip pepatah Arab "Khalif tu'raf", yang berarti berbedalah maka engkau akan dikenal.
Menurutnya, menjadi populer bukan berarti harus mencari sensasi. Yang lebih penting adalah memiliki karakter, gaya komunikasi, dan keahlian yang membedakan diri dari orang lain.
Ia menilai setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa rendah diri hanya karena melihat kemampuan orang lain.
Kepercayaan diri, katanya, akan tumbuh ketika seseorang memahami potensi yang dimiliki dan terus mengembangkannya.
Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri
Muhammad Syarif Thayib mengakui rasa gugup merupakan hal yang wajar dialami penyiar pemula.
Namun, ia menegaskan rasa percaya diri dapat dibangun melalui persiapan yang matang.
Menurutnya, menguasai materi sebelum tampil menjadi salah satu kunci utama keberhasilan seorang penyiar.
Selain itu, ia mengingatkan agar tidak terus membandingkan diri dengan orang lain.
Ia menilai setiap individu memiliki kemampuan berbeda sehingga fokus utama seharusnya adalah meningkatkan kualitas diri, bukan mengejar standar orang lain.
Radio Tetap Relevan di Era Digital
Muhammad Syarif Thayib menepis anggapan bahwa radio telah kehilangan peminat akibat perkembangan media sosial dan platform digital.
Menurutnya, radio justru terus berkembang mengikuti perubahan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa kini radio tidak hanya mengandalkan siaran melalui frekuensi FM, tetapi juga memanfaatkan layanan streaming, media sosial, hingga berbagai platform digital lainnya.
Dengan cara itu, interaksi dengan pendengar menjadi semakin luas dan tidak lagi dibatasi wilayah siaran.
Ia juga menilai penyiar masa kini harus memiliki kemampuan tampil di depan kamera, bukan hanya memiliki suara yang baik.
Jika sebelumnya penyiar cukup dikenal lewat suara, kini mereka juga dituntut mampu membangun citra visual melalui berbagai platform digital.
Kesalahan Penyiar Pemula
Muhammad Syarif Thayib menyebut salah satu kesalahan yang sering dilakukan penyiar pemula adalah mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Selain itu, ada pula penyiar yang terlalu cepat merasa puas setelah mulai dikenal publik.
Menurutnya, sikap tersebut justru menghambat proses belajar.
Ia menekankan bahwa penyiar profesional harus terus meningkatkan kemampuan, membuka diri terhadap kritik, serta mencari mentor yang dapat membantu proses pengembangan diri.
Ia juga mengingatkan pentingnya bergabung dengan lingkungan yang positif agar semangat belajar tetap terjaga.
Pesan untuk Generasi Muda
Di akhir perbincangan, Muhammad Syarif Thayib membagikan sejumlah pesan kepada generasi muda yang ingin menekuni dunia broadcasting.
Ia mengingatkan bahwa hidup tidak pernah berjalan datar. Tantangan yang datang setiap hari harus dipandang sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Ia juga mengajak generasi muda keluar dari zona nyaman serta memperluas lingkungan pergaulan dengan orang-orang yang mampu memberikan inspirasi.
Menurutnya, berada di lingkungan yang sama terus-menerus akan membuat seseorang sulit berkembang.
Karena itu, ia mendorong calon penyiar maupun siapa pun yang ingin membangun personal branding agar terus belajar, berani mencoba hal baru, serta tidak takut tampil berbeda.
Baginya, kombinasi antara kemampuan komunikasi, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi bekal utama untuk tetap relevan di tengah perubahan dunia broadcasting yang semakin dinamis.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : GeniusFM