Bangun Personal Branding Lewat Broadcasting, Muhammad Syarif Thayib Ungkap Cara Jadi Penyiar yang Bertahan di Era Digital

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 19:45 WIB
Muhammad Syarif Thayib membagikan tips membangun personal branding melalui broadcasting, pentingnya berani berbeda, dan adaptasi penyiar di era digital. (Pinterest)
Muhammad Syarif Thayib membagikan tips membangun personal branding melalui broadcasting, pentingnya berani berbeda, dan adaptasi penyiar di era digital. (Pinterest)

TULUNGAGUNG - Personal branding menjadi salah satu keterampilan yang dinilai semakin penting di era digital, terutama bagi mereka yang ingin berkarier di dunia broadcasting. Praktisi penyiaran sekaligus dosen Komunikasi Penyiaran Islam, Muhammad Syarif Thayib, menilai seorang broadcaster harus mampu membangun karakter yang kuat agar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan media digital.

Pandangan tersebut disampaikannya dalam sebuah podcast yang membahas perjalanan kariernya di dunia penyiaran, strategi membangun personal branding, hingga tantangan yang dihadapi penyiar di era modern. Menurutnya, menjadi penyiar bukan sekadar memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga mampu menghadirkan identitas yang membedakan diri dari orang lain.

Ia mengatakan perkembangan teknologi tidak membuat radio kehilangan perannya. Sebaliknya, radio terus berkembang dengan memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Baca Juga: Warren Buffett Jadi Acuan, Ini 6 Cara Evaluasi Bisnis agar Tetap Bertahan dan Tumbuh pada 2026

Awal Ketertarikan Berasal dari Dunia Teknik

Muhammad Syarif Thayib mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia broadcasting dimulai sejak masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Namun, saat itu fokus utamanya bukan menjadi penyiar, melainkan mempelajari teknik elektronika.

Ia mengaku senang merakit perangkat elektronik, termasuk membuat pemancar radio FM sederhana. Setelah berhasil membuat pemancar, ia mulai memutar kaset musik untuk disiarkan di lingkungan sekitar.

Dari pengalaman tersebut muncul kebutuhan akan seorang penyiar. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkannya untuk mencoba siaran sendiri.

Kemampuan berbicara di depan umum semakin terasah karena rutin mengikuti kegiatan khitobah atau latihan pidato saat masih belajar di pesantren.

Kesempatan Menjadi Penyiar Datang Saat Kuliah

Saat melanjutkan pendidikan di Malang, Muhammad Syarif Thayib aktif di radio kampus. Awalnya ia lebih sering menangani pekerjaan teknis dibandingkan menjadi penyiar.

Kesempatan akhirnya datang ketika tidak ada penyiar yang bertugas. Saat itu ia dipercaya mewawancarai tamu dari Timur Tengah menggunakan bahasa Arab.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang membuat kemampuannya mulai dikenal hingga akhirnya diperbolehkan menjadi penyiar tetap di radio kampus.

Setelah lulus kuliah, ia sempat mengajar sebelum akhirnya bergabung dengan industri radio pada 2003.

Penyiar Adalah Guru Bagi Pendengar

Muhammad Syarif Thayib mengaku sempat mendapat pilihan antara tetap menjadi guru atau berkarier penuh sebagai penyiar radio.

Menurutnya, sebuah kalimat dari pihak manajemen radio menjadi alasan kuat untuk menekuni dunia broadcasting.

Ia mengingat pesan bahwa seorang penyiar pada dasarnya merupakan guru bagi para pendengarnya. Melalui siaran, penyiar dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tanpa harus berada di ruang kelas.

Sejak saat itu ia semakin yakin menjadikan dunia broadcasting sebagai profesi yang ingin terus ditekuninya.

Baca Juga: Jadwal Indonesia vs Vietnam di Semifinal SEA V Cup 2026: Bagan, Klasemen Akhir, dan Jam Tayang

Personal Branding Harus Dimulai dari Meniru

Dalam membangun personal branding, Muhammad Syarif Thayib menilai tidak ada salahnya belajar dari sosok yang diidolakan.

Ia mengaku pernah mengamati gaya penyiar favoritnya, mulai dari cara berbicara, pembukaan acara, hingga intonasi suara.

Namun, proses tersebut tidak berhenti pada tahap meniru.

Menurutnya, seseorang harus menambahkan ciri khas sendiri agar memiliki identitas yang berbeda dari penyiar lainnya.

Ia mengenalkan konsep "3N", yaitu niteni (mengamati), nerokke (meniru), dan nambahi (menambahkan). Tahapan tersebut dinilai efektif untuk membentuk karakter penyiar yang autentik.

Penyiar Harus Menemukan Bidang yang Disukai

Muhammad Syarif Thayib menjelaskan dunia broadcasting memiliki banyak bidang yang dapat dipilih.

Seorang broadcaster bisa fokus pada musik, berita, politik, ekonomi, gaya hidup, hingga pariwisata.

Karena itu, ia menyarankan setiap penyiar menemukan bidang yang benar-benar disukai agar dapat menikmati pekerjaannya.

Menurutnya, rasa nyaman terhadap topik yang dibawakan akan membuat penyiar terus berkembang dan memiliki ciri khas yang kuat.

Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri

Ia juga menyoroti persoalan kurang percaya diri yang sering dialami penyiar pemula.

Menurutnya, cara terbaik mengurangi rasa gugup adalah menguasai materi sebelum tampil.

Ia menilai penguasaan materi menjadi modal utama agar penyiar lebih percaya diri saat berbicara di depan publik.

Selain itu, seseorang tidak perlu terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Muhammad Syarif Thayib meyakini setiap orang memiliki kelebihan yang berbeda sehingga tidak perlu merasa rendah diri.

Radio Terus Berkembang Bersama Teknologi

Menanggapi anggapan bahwa radio mulai ditinggalkan, Muhammad Syarif Thayib memiliki pandangan berbeda.

Menurutnya, radio tidak akan mati karena selalu mengikuti perkembangan zaman.

Kini radio tidak hanya mengandalkan siaran konvensional, tetapi juga hadir melalui layanan streaming, media sosial, hingga berbagai aktivitas digital lainnya.

Ia menyebut perkembangan tersebut membuat penyiar tidak cukup hanya memiliki suara yang baik.

Di era digital, penyiar juga harus mampu membangun citra melalui penampilan di depan kamera dan media sosial.

Kesalahan Penyiar Pemula

Muhammad Syarif Thayib menilai salah satu kesalahan terbesar penyiar pemula adalah mudah menyerah.

Ia juga mengingatkan agar penyiar tetap profesional meski menghadapi persoalan pribadi.

Menurutnya, profesionalisme menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas siaran.

Selain itu, ia mendorong penyiar untuk terus belajar, bergabung dengan komunitas positif, dan mencari mentor yang dapat membantu meningkatkan kemampuan.

Sebaliknya, ia mengingatkan penyiar yang mulai dikenal publik agar tidak cepat merasa puas.

Menurutnya, semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Berani Berbeda Menjadi Kunci

Di akhir perbincangan, Muhammad Syarif Thayib menyampaikan sejumlah pesan bagi generasi muda yang ingin membangun personal branding melalui broadcasting.

Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah berjalan datar sehingga setiap tantangan harus dijadikan peluang untuk berkembang.

Selain itu, ia mengajak generasi muda berani keluar dari zona nyaman dan memperluas lingkungan pergaulan dengan orang-orang yang mampu memberikan inspirasi.

Menurutnya, keberanian untuk tampil berbeda menjadi salah satu faktor penting dalam membangun personal branding yang kuat.

Ia menegaskan seseorang tidak cukup hanya mengikuti orang lain, tetapi juga harus mampu menghadirkan identitas yang menjadi ciri khasnya sendiri agar tetap diingat oleh publik.

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : GeniusFM
Muhammad Syarif Thayib penyiar radio personal branding era digital broadcasting