BLITAR – Work life balance semakin menjadi perhatian di berbagai negara Asia. Budaya kerja keras yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kunci kesuksesan kini mulai dipertanyakan, terutama oleh generasi muda yang lebih mengutamakan kualitas hidup dibanding bekerja tanpa henti.
Pembahasan mengenai work life balance mencuat karena banyak negara di Asia masih memiliki jam kerja yang panjang. Tidak sedikit pekerja yang harus lembur, tetap menerima pekerjaan di luar jam kantor, hingga sulit menikmati waktu bersama keluarga. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu penyebab meningkatnya stres dan burnout di kalangan pekerja.
Fenomena tersebut memicu perubahan pola pikir. Kini, semakin banyak pekerja yang rela menerima gaji lebih rendah asalkan memiliki work life balance yang lebih baik dan waktu luang yang cukup untuk kehidupan pribadi.
Budaya Kerja Keras Sudah Mengakar di Asia
Budaya bekerja tanpa mengenal waktu bukanlah hal baru di kawasan Asia. Sejak masa pertumbuhan ekonomi yang pesat, bekerja lebih lama dipercaya mampu meningkatkan peluang memperoleh penghasilan lebih besar dan kehidupan yang lebih baik.
Baca Juga: Dinsos Kota Blitar Percepat Penyaluran Rastrada Nontunai, 7.401 KPM Ditarget Terima Tepat Waktu
Namun, menurut sejumlah pengamat, kondisi ekonomi saat ini telah berubah. Persaingan semakin ketat dan pertumbuhan ekonomi tidak lagi secepat beberapa dekade lalu. Akibatnya, bekerja lebih lama tidak selalu memberikan hasil yang sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan.
Meski demikian, pola pikir bahwa bekerja keras adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan masih bertahan di banyak perusahaan.
Malaysia dan Singapura Hadapi Masalah Serius
Laporan Remote tahun 2024 menempatkan Malaysia sebagai negara dengan work life balance terburuk kedua di dunia dari 60 negara dengan PDB terbesar. Posisi tersebut sekaligus menjadikan Malaysia sebagai negara dengan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan terburuk di Asia.
Sementara itu, Singapura juga menghadapi persoalan serupa. Survei Randstad tahun 2022 menunjukkan sekitar 70 persen pekerja mengaku memiliki work life balance yang buruk akibat tingginya beban pekerjaan.
Sebanyak 33 persen responden bahkan mengatakan masih sering menerima pesan atau tugas dari atasan setelah jam kerja berakhir maupun saat akhir pekan. Akibatnya, waktu untuk beristirahat maupun berkumpul bersama keluarga menjadi berkurang.
Jepang dan Korea Selatan Masih Bergulat dengan Overwork
Budaya kerja ekstrem juga masih ditemukan di Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara dikenal memiliki jam kerja yang panjang hingga memunculkan berbagai persoalan kesehatan.
Di Jepang, istilah karoshi digunakan untuk menggambarkan kematian akibat bekerja berlebihan. Kasus tersebut berkaitan dengan penyakit seperti stroke maupun gangguan jantung yang dipicu tekanan pekerjaan dalam jangka panjang.
Sementara di Korea Selatan, tingginya jam kerja membuat burnout menjadi masalah yang terus mendapat perhatian.
Prioritas Pekerja Mulai Berubah
Perubahan paling besar terlihat pada cara generasi muda menentukan pekerjaan. Kini, keseimbangan hidup dianggap lebih penting dibanding sekadar mengejar pendapatan tinggi.
Laporan Salary and Recruiting Trends 2023 mencatat sebanyak 56 persen pekerja bersedia menerima gaji lebih kecil apabila pekerjaan tersebut memberikan work life balance yang lebih baik.
Survei Randstad juga menemukan 95 persen pekerja di Singapura menganggap work life balance merupakan faktor penting dalam memilih pekerjaan. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding responden yang menjadikan besaran gaji sebagai prioritas utama.
Selain itu, sebanyak 42 persen mahasiswa pascasarjana menyatakan akan menolak tawaran kerja apabila pekerjaan tersebut berpotensi mengganggu kehidupan pribadi mereka.
Dampaknya Tidak Hanya pada Mental
Jam kerja yang terlalu panjang tidak hanya meningkatkan risiko stres, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik.
Harvard Health Publishing menyebut pekerja yang bekerja lebih dari 55 jam setiap minggu memiliki risiko stroke 35 persen lebih tinggi serta risiko penyakit kardiovaskular meningkat hingga 17 persen.
Kurangnya waktu bersama keluarga juga disebut dapat merusak hubungan sosial dan menurunkan kualitas hidup pekerja dalam jangka panjang.
Perusahaan Mulai Mencari Pola Kerja Baru
Sejumlah ahli ekonomi dan akademisi mendorong perusahaan agar lebih mengutamakan kualitas hasil kerja dibanding lamanya waktu berada di kantor. Sistem kerja hybrid maupun work from home dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan mental pekerja.
Meski begitu, tidak semua pihak sepakat. Sebagian pelaku bisnis beranggapan pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan sehingga konsep work life balance dinilai tidak perlu dipisahkan secara tegas. Mereka lebih memilih menyediakan fasilitas penunjang di lingkungan kerja agar karyawan tetap nyaman.
Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, perubahan preferensi pekerja menunjukkan bahwa work life balance kini menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan karier. Di tengah budaya kerja keras yang masih kuat di Asia, kualitas hidup mulai menjadi nilai yang semakin diperhitungkan.
Editor : Maylanni Diana Fitri