BLITAR – Work life balance kini menjadi salah satu pertimbangan utama bagi para pencari kerja, khususnya generasi muda. Jika dulu bekerja keras hingga larut malam dianggap sebagai jalan menuju kesuksesan, kini semakin banyak pekerja yang justru mengutamakan keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi.
Perubahan pandangan terhadap work life balance tidak muncul tanpa alasan. Di berbagai negara Asia, budaya kerja dengan jam panjang masih menjadi hal yang lumrah. Banyak pekerja dituntut lembur, tetap merespons pekerjaan di luar jam kantor, hingga kehilangan waktu bersama keluarga maupun untuk diri sendiri.
Fenomena tersebut memunculkan kesadaran baru bahwa bekerja tanpa henti belum tentu memberikan hasil yang sepadan. Karena itu, work life balance kini dipandang sebagai salah satu indikator kesejahteraan, bukan sekadar tren di dunia kerja.
Asia Masih Dikenal Memiliki Jam Kerja Panjang
Sejumlah wilayah di Asia dikenal memiliki budaya kerja yang lebih berat dibanding kawasan lain. Jam kerja panjang, lembur, hingga tuntutan untuk selalu siap bekerja menjadi bagian dari rutinitas banyak pekerja.
Baca Juga: Jalan Rusak Kedawung–Sumberasri Dikeluhkan Warga, Pengendara Rawan Terperosok saat Melintas
Menurut berbagai studi yang dibahas dalam video, Asia Selatan menjadi kawasan dengan tingkat stres kerja tertinggi, disusul Asia Timur. Sementara Asia Tenggara memang memiliki tingkat stres yang relatif lebih rendah, tetapi masih menghadapi persoalan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Malaysia bahkan disebut sebagai negara dengan work life balance terburuk kedua di dunia berdasarkan studi Remote tahun 2024 terhadap 60 negara dengan PDB terbesar.
Singapura Tak Luput dari Masalah
Negara maju seperti Singapura juga menghadapi tantangan serupa. Meski dikenal sebagai salah satu negara paling produktif di dunia, banyak pekerjanya mengaku kesulitan menikmati waktu di luar pekerjaan.
Survei Randstad pada 2022 menunjukkan sekitar 70 persen karyawan di Singapura merasa beban kerja yang tinggi membuat mereka kehilangan keseimbangan hidup.
Sebagian responden mengaku masih sering menerima pekerjaan dari atasan atau rekan kerja setelah jam kantor berakhir. Bahkan akhir pekan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat kerap terganggu karena urusan pekerjaan.
Budaya Kerja Keras Dinilai Sudah Tidak Relevan
Menurut pandangan akademisi yang dikutip dalam video, budaya kerja keras di Asia berakar dari masa ketika pertumbuhan ekonomi sedang berkembang pesat.
Saat itu, bekerja lebih keras memang membuka peluang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup. Namun kondisi tersebut dinilai sudah berubah karena pertumbuhan ekonomi kini lebih stabil dan persaingan semakin ketat.
Akibatnya, bekerja lebih lama tidak selalu menghasilkan promosi maupun peningkatan kesejahteraan yang signifikan.
Meski peluang tersebut semakin kecil, budaya bekerja tanpa mengenal waktu masih terus diwariskan di banyak perusahaan.
Pekerja Kini Lebih Memilih Hidup Seimbang
Perubahan pola pikir mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pekerja lebih memilih pekerjaan yang memberikan waktu luang dibanding menawarkan gaji tinggi.
Laporan Salary and Recruiting Trends 2023 menunjukkan sebanyak 56 persen pekerja bersedia menerima pendapatan lebih rendah asalkan memperoleh work life balance yang lebih baik.
Di Singapura, sebanyak 95 persen pekerja menilai keseimbangan hidup merupakan faktor yang sangat penting ketika memilih pekerjaan. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding pekerja yang mengutamakan besaran gaji.
Kecenderungan serupa juga terlihat pada perempuan maupun mahasiswa pascasarjana yang mulai mempertimbangkan kualitas hidup sebelum menerima tawaran pekerjaan.
Risiko Burnout hingga Penyakit Serius
Buruknya work life balance bukan hanya memengaruhi kesehatan mental. Jam kerja yang terlalu panjang juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan fisik.
Harvard Health Publishing menyebut pekerja yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki risiko stroke 35 persen lebih tinggi dan risiko penyakit kardiovaskular meningkat 17 persen.
Selain itu, minimnya waktu bersama keluarga dapat memicu renggangnya hubungan sosial dan menurunkan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Perusahaan Didorong Lebih Fleksibel
Sejumlah ahli menilai perusahaan perlu mulai beralih pada sistem kerja yang lebih fleksibel, seperti hybrid maupun work from home, selama pekerjaan memungkinkan dilakukan secara jarak jauh.
Pendekatan tersebut diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan mental pekerja karena mereka memiliki waktu yang lebih seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Di sisi lain, masih ada kalangan yang beranggapan pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan sehingga konsep work life balance tidak perlu dipisahkan secara tegas. Namun, meningkatnya perhatian terhadap isu ini menunjukkan bahwa keseimbangan hidup kini menjadi salah satu faktor penting dalam dunia kerja modern.
Editor : Maylanni Diana Fitri