BLITAR - Menjaga kesehatan organ vital seperti jantung tidak selalu membutuhkan biaya mahal atau obat-obatan rumit. Langkah awal yang paling efektif justru bisa dimulai dari pilihan makanan sehari-hari di atas meja makan. Banyak orang belum menyadari bahwa pemilihan buah yang cocok untuk jantung secara tepat mampu memberikan perlindungan optimal bagi sistem kardiovaskular. Nutrisi alami berupa serat, vitamin, mineral, serta ragam antioksidan dalam buah segar berperan penting menjaga kelancaran aliran darah dan memperkuat fungsi otot jantung secara menyeluruh.
Spesialis Gizi Klinik, dr. Evania Estela, Sp.GK, mengungkapkan bahwa hampir semua jenis buah segar pada dasarnya memberikan manfaat baik. Namun, terdapat tiga jenis buah yang memiliki kandungan paling menonjol dan sangat direkomendasikan untuk menunjang kesehatan pembuluh darah. Menurutnya, mengonsumsi buah yang cocok untuk jantung seperti alpukat, buah bit, dan mengkudu secara teratur dapat meminimalisasi risiko serangan jantung maupun stroke secara signifikan jika dikombinasikan dengan pola hidup sehat.
Alpukat menjadi salah satu pilihan utama karena kaya akan asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid atau MUFA) serta kalium. Lemak baik ini berfungsi membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan mengontrol gula darah, sementara kalium menjaga elastisitas pembuluh darah. Porsi yang disarankan cukup setengah hingga satu buah alpukat atau sekitar 200 gram per hari. Selain alpukat, buah bit juga memiliki efektivitas tinggi berkat kandungan nitrat alaminya. Senyawa nitrat di dalam tubuh akan diubah menjadi nitric oxide yang bekerja melebarkan pembuluh darah, sehingga sangat ampuh membantu menurunkan tekanan darah tinggi.
Tak kalah berkhasiat, buah mengkudu mengandung senyawa bioaktif penting seperti fenol dan flavonoid. Flavonoid pada mengkudu bekerja unik dengan menghambat kerja enzim HMG-CoA reductase, yaitu enzim yang memicu sintesis kolesterol dalam tubuh. Efek anti-dislipidemia ini secara langsung menekan penumpukan plak di dinding pembuluh darah. Di samping tiga buah unggulan tersebut, buah-buahan populer seperti pepaya, apel, stroberi, dan tomat juga sangat dianjurkan karena tinggi serat serta likopen yang ampuh menangkal radikal bebas pembawa kerusakan sel.
Buah yang Perlu Dibatasi Penderita Jantung
Meski kaya vitamin, ternyata tidak semua buah aman dikonsumsi dalam jumlah bebas, terutama bagi seseorang yang sudah memiliki riwayat gangguan kardiovaskular. dr. Evania mengimbau masyarakat untuk mewaspadai tiga kategori buah yang justru dapat memperberat kerja organ jantung. Pertama adalah buah dengan indeks glikemik tinggi seperti semangka, mangga, anggur, kelengkeng, dan leci. Konsumsi berlebihan jenis buah manis ini dapat memicu fenomena glucose spike atau lonjakan gula darah secara mendadak yang berisiko memicu diabetes melitus serta obesitas.
Kategori kedua yang patut dihindari dalam porsi besar adalah buah pemicu gas seperti durian, nanas, dan nangka. Pembentukan gas berlebih di dalam lambung dapat memicu sensasi kembung yang sangat mengganggu. Kondisi perut kembung ini tidak hanya memperberat gejala sesak atau ketidaknyamanan dada, tetapi juga dapat menyamarkan gejala klinis dari serangan jantung. Ketiga, hindari konsumsi buah kalengan secara rutin. Buah olahan dalam kemasan umumnya telah ditambahi pemanis buatan dan natrium tinggi yang sangat berbahaya bagi penderita hipertensi.
Aturan Porsi dan Cara Konsumsi yang Benar
Untuk mendapatkan manfaat maksimal tanpa risiko efek samping, Kementerian Kesehatan RI melalui pedoman Tumpeng Gizi Seimbang menganjurkan asupan buah sebanyak 2 hingga 3 porsi per hari, atau setara dengan 200 sampai 300 gram. Sebagai gambaran porsi harian, masyarakat dapat membaginya menjadi 100 gram pepaya, 100 gram apel, dan 100 gram stroberi. Variasi jenis buah setiap hari sangat disarankan agar tubuh memperoleh asupan makronutrisi, vitamin, dan mineral secara seimbang.
Cara mengonsumsi buah juga memegang peranan kunci bagi metabolisme. Para ahli gizi sangat merekomendasikan untuk mengonsumsi buah segar secara langsung dengan cara dikunyah, ketimbang diolah menjadi jus. Proses mengunyah makanan terbukti meningkatkan Diet-Induced Thermogenesis (DIT) serta merangsang motilitas usus. Aktivitas mekanik saat mengunyah bahkan mampu meningkatkan Basal Metabolic Rate (BMR) atau kecepatan metabolisme tubuh hingga 10 sampai 15 persen. Peningkatan metabolisme ini membantu mencegah kegemukan yang menjadi pemicu utama timbulnya gangguan kardiovaskular.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Hidup Sehat tvOne