Confirmation Bias Ancam Gen Z yang Percaya Ramalan, Psikolog Ingatkan Dampaknya bagi Pengambilan Keputusan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 13:15 WIB
Psikolog Cika Humaira.
Psikolog Cika Humaira.

 

BLITAR KAWENTAR – Fenomena ramalan melalui zodiak, tarot, hingga berbagai konten spiritual di media sosial semakin digemari kalangan generasi muda.

Di balik hiburan yang ditawarkan, psikolog mengingatkan adanya ancaman confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang hanya mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan atau harapannya sendiri.

Maraknya penggunaan platform video pendek membuat konten ramalan semakin mudah menjangkau pengguna.

Baca Juga: Slow Traveling Jadi Tren Liburan Gen Z, Nikmati Momen Tanpa Ribet Kejar Target dan Lebih Menenangkan Pikiran

Algoritma media sosial akan terus menampilkan konten serupa ketika seseorang pernah berinteraksi dengan video bertema zodiak atau tarot. Akibatnya, pengguna merasa informasi yang diterima sangat relevan dengan kehidupan mereka.

Psikolog Cika Humaira menilai fenomena tersebut sebenarnya bukan hal baru. Hanya saja, media penyebarannya kini bergeser dari majalah atau tabloid menjadi media sosial yang didukung algoritma digital. Kondisi inilah yang membuat paparan ramalan menjadi jauh lebih intens dibandingkan sebelumnya.

Algoritma Memperkuat Persepsi Ramalan

Menurut Cika, algoritma media sosial bekerja berdasarkan kebiasaan pengguna. Ketika seseorang menyukai atau menonton satu konten ramalan, sistem akan menganggap konten serupa sebagai hal yang menarik sehingga terus direkomendasikan.

Baca Juga: Bahasa Gen Z Jadi Kunci Konten Kebijakan Pemerintah Daerah Lebih Mudah Diterima Anak Muda

Paparan yang berulang dapat menciptakan kesan bahwa isi ramalan tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi seseorang. Padahal, kecocokan itu belum tentu menunjukkan kebenaran, melainkan hasil dari sistem algoritma yang membaca pola perilaku pengguna selama menggunakan media sosial.

Sebagai contoh, seseorang yang sedang mengalami kesedihan kemudian melihat ramalan zodiak yang menyebut pemilik zodiak tertentu sedang berada dalam fase emosional.

Karena kondisi tersebut terasa sesuai, pengguna akan menganggap ramalan itu akurat, meski sebenarnya narasi yang digunakan bersifat umum dan mudah dikaitkan dengan banyak orang.

Confirmation Bias Bisa Pengaruhi Cara Berpikir

Cika menjelaskan, salah satu dampak paling besar dari ketergantungan terhadap ramalan adalah munculnya confirmation bias.

Dalam kondisi ini, seseorang hanya akan menerima informasi yang mendukung keyakinannya, sementara fakta lain yang bertentangan cenderung diabaikan.

GEBaca Juga: Selera Musik Gen Z Berubah Total Algoritma Streaming Bikin Semua Genre Masuk Satu Playlist Tanpa Sekat

Kebiasaan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Jika terus dipelihara, individu berpotensi membuat pilihan berdasarkan ramalan, bukan atas pertimbangan logis maupun fakta yang tersedia.

Karena itu, penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami bahwa konten di media sosial belum tentu dapat dijadikan dasar dalam menentukan langkah hidup. Sikap kritis tetap diperlukan agar seseorang mampu memilah informasi yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Bangun Kemandirian dalam Mengambil Keputusan

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap ramalan, Cika mendorong generasi muda membangun kepribadian yang lebih mandiri. Setiap individu perlu belajar bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil tanpa bergantung pada prediksi yang belum tentu memiliki dasar ilmiah.

Baca Juga: Gen Z Lebih Suka Konten Visual, Tapi Kualitas Berita Tetap Jadi Kunci Lawan Hoaks

Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan maupun informasi. Namun, pengguna tetap perlu memahami cara kerja algoritma agar tidak mudah terjebak dalam pola konsumsi konten yang membentuk persepsi secara sepihak.

Dengan kemampuan berpikir kritis dan terbuka terhadap berbagai sudut pandang, masyarakat diharapkan mampu menghindari dampak negatif confirmation bias.

 Hal tersebut penting agar setiap keputusan yang diambil didasarkan pada pertimbangan rasional, bukan semata-mata karena konten yang terus muncul di lini masa media sosial. (jar/c1/sub)

Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan
confirmation bias ramalan media sosial Gen Z psikolog