BLITAR KAWENTAR – Konten tarot di media sosial semakin akrab dengan keseharian Generasi Z. Mulai dari video bertema love reading, energy check, hingga ramalan harian, konten tersebut terus membanjiri beranda TikTok, Instagram, maupun platform digital lainnya.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan, apakah tarot hanya menjadi hiburan semata atau mulai memicu ketergantungan bagi sebagian anak muda.
Algoritma media sosial dinilai menjadi salah satu penyebab konten tarot semakin mudah menjangkau pengguna.
Sekali seseorang menonton video bertema tarot, sistem akan terus merekomendasikan konten serupa sehingga frekuensi kemunculannya di For You Page (FYP) semakin tinggi.
Kondisi ini membuat banyak pengguna, khususnya Gen Z, tanpa sadar semakin sering mengonsumsi konten ramalan.
Fenomena tersebut juga dirasakan Aisyah Tiara Nabila, seorang pelajar SMA di Kota Blitar. Ia mengaku awalnya hanya menonton video tarot karena penasaran.
Namun, setelah beberapa kali melihat konten serupa, algoritma media sosial terus menampilkan video bertema tarot di berandanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya hanya menganggap konten tersebut sebagai hiburan.
Menurut Aisyah, kemunculan konten tarot yang berulang membuat banyak pengguna akhirnya mengikuti akun kreator tarot.
Tidak sedikit dari mereka yang rutin mengunggah video ramalan maupun membuka sesi siaran langsung (live streaming) untuk berinteraksi dengan para pengikutnya.
Dalam sesi live, kreator tarot biasanya meminta penonton menuliskan nama serta tanggal lahir di kolom komentar sebagai bagian dari proses pembacaan kartu.
Bahkan, beberapa kreator memberikan prioritas kepada penonton yang mengirim hadiah virtual (gift), sehingga peluang mendapatkan giliran reading menjadi lebih besar.
Pola interaksi seperti itu dinilai mampu meningkatkan keterlibatan penonton. Selain membuat audiens bertahan lebih lama di siaran langsung, sistem tersebut juga mendorong sebagian pengguna rela mengeluarkan uang demi memperoleh kesempatan dibacakan kartunya.
Aisyah mengungkapkan, tidak sedikit anak muda yang rela menunggu hingga berjam-jam selama sesi siaran langsung berlangsung.
Mereka berharap namanya dipanggil dan memperoleh hasil pembacaan tarot secara langsung dari kreator favorit.
Menurutnya, fenomena tersebut bukan lagi sekadar menonton konten singkat. Sebagian pengguna bahkan rutin mengikuti siaran kreator tarot hampir setiap hari karena merasa penasaran dengan hasil reading yang berkaitan dengan hubungan asmara, pertemanan, hingga masa depan.
Rasa penasaran inilah yang kemudian membuat sebagian pengguna terus kembali menyaksikan konten serupa.
Meski tidak semua mengalami ketergantungan, kebiasaan tersebut menunjukkan bagaimana algoritma media sosial mampu membentuk pola konsumsi konten secara berulang.
Baca Juga: Dua Dekade Perjuangan Keras Rosidah Membesarkan Usaha Gula Merah di Kabupaten Sumenep, Ini Resepnya
Meski mengakui konten tarot menarik untuk ditonton, Aisyah mengingatkan agar masyarakat, khususnya kalangan Gen Z, tidak menjadikan hasil pembacaan tarot sebagai dasar dalam mengambil keputusan penting.
Menurutnya, setiap keputusan dalam kehidupan tetap harus didasarkan pada logika, pertimbangan yang matang, serta kondisi nyata, bukan semata-mata mengikuti hasil ramalan yang diperoleh melalui media sosial.
Ia menilai konten tarot masih dapat dinikmati sebagai hiburan selama pengguna mampu membatasi diri dan tidak menggantungkan arah hidup pada hasil reading yang diperoleh dari kreator digital.
Baca Juga: Honda Stylo 160 ABS Special Resmi Meluncur, Warna Burgundy Eksklusif Bikin Harga Tembus Rp33,93 Juta
Fenomena menjamurnya konten tarot di media sosial menjadi gambaran bagaimana algoritma digital mampu membentuk kebiasaan baru dalam mengonsumsi konten.
Karena itu, literasi digital menjadi penting agar pengguna mampu menikmati berbagai jenis konten secara bijak, tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dalam menentukan pilihan hidup. (bud/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari