PAMEKASAN - Melantunkan ayat suci Al-Qur'an secara rutin terbukti tidak hanya membawa ketenangan jiwa bagi pembacanya, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan melimpahkan rahmat bagi masyarakat di sekitarnya. Hal ini ditegaskan oleh Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam tausiahnya di hadapan ribuan santri dan jemaah Pondok Pesantren Nahdhatut Taklimiyah, Karang Miring, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.
Menurut UAS, keberadaan para santri yang konsisten mengaji dan mengkaji ilmu agama menjadi benteng spiritual penting bagi suatu daerah. Selama lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terus berkumandang, rahmat Allah SWT akan senantiasa tercurah melingkupi wilayah tersebut.
Rahmat dan Ketenangan Hati dari Al-Qur'an
Keutamaan membaca Al Quran merupakan pondasi utama dalam menjaga ketentraman hidup bermasyarakat. Mengutip perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an, umat Islam diminta untuk mendengarkan dan menyimak dengan tenang ketika ayat-ayat suci dibacakan agar memperoleh rahmat.
"Ketika Al-Qur'an dibacakan oleh para santri di pondok pesantren, satu kompleks, satu lingkungan, hingga satu kabupaten dan provinsi akan tetap mendapat rahmat Allah SWT. Hal ini berlaku selama masih ada santri yang melantunkan ayat-ayat suci," ujar Ustaz Abdul Somad.
Selain mendatangkan rahmat, berkumpul di rumah Allah untuk membaca Al-Qur'an, mempelajari hadis, serta mengkaji ilmu fikih bersama para ulama juga menghadirkan ketenangan hati (sakinah). Suasana majelis ilmu yang penuh keberkahan secara alami memberikan rasa damai mendalam bagi siapa saja yang menghadirinya.
Menjaga Tradisi Keilmuan dan Sanad Agama
Dalam tausiahnya, UAS juga menekankan pentingnya menjaga tradisi menuntut ilmu secara langsung kepada para guru dan ulama yang memiliki sanad keilmuan jelas. Belajar agama tidak cukup hanya mengandalkan media sosial atau pencarian digital tanpa bimbingan pengajar yang kredibel dan memiliki akhlak mulia.
"Sanad adalah bagian terpenting dalam agama. Menuntut ilmu harus memperhatikan dari siapa agama itu diambil, sehingga pemahaman yang diperoleh benar-benar bersambung hingga Rasulullah SAW," tutur ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Darul Hadits Maroko tersebut.
Penjagaan terhadap keaslian ajaran agama tercermin dari sejarah para perawi hadis ternama, seperti Imam Bukhari dan Imam Syafi'i. Mereka menempuh perjalanan jauh serta berguru kepada ulama-ulama besar demi memastikan keabsahan setiap ajaran yang disampaikan kepada umat.
Investasi Pahala Abadi Melalui Dukungan Pendidikan
Selain dorongan untuk giat mengaji, jemaah juga diajak untuk berinvestasi dalam amalan jariyah melalui dukungan terhadap pendidikan Al-Qur'an. Menyisihkan sebagian harta untuk pembangunan sarana belajar santri akan mengalirkan pahala yang kekal abadi, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Harta, pakaian, atau bangunan megah yang dimiliki di dunia pada akhirnya akan lapuk dan ditinggalkan. Sebaliknya, wakaf dan sedekah yang disalurkan untuk menunjang para penghafal Al-Qur'an akan menjadi simpanan pahala yang tak terputus.
Melalui sinergi antara ulama, santri, dan pemasyarakatan Al-Qur'an, keutamaan membaca Al Quran akan terus menyinari kehidupan masyarakat serta membawa kedamaian dan kesejahteraan lahir batin.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Ustadz Abdul Somad Official