BLITAR - Salat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunah yang memiliki keutamaan luar biasa bagi setiap muslim yang rutin menjalankannya. Mulai dari mendatangkan ketenangan jiwa, menghapus dosa, hingga memperlancar limpahan rezeki, ibadah di pagi hari ini menjadi sarana mendekatkan diri yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Penjelasan mendalam mengenai keutamaan sholat Dhuha ini disampaikan oleh penceramah kenamaan Ustaz Adi Hidayat. Dalam kajiannya, beliau membeberkan pembagian waktu salat Dhuha beserta deretan keberkahan yang bisa diraih umat Islam sesuai dengan jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya.
Baca Juga: Keutamaan Membaca Al Quran dalam Kehidupan dan Keberkahan Kota
Tiga Pembagian Waktu Salat Dhuha dan Keutamaannya
Secara garis besar, waktu pelaksanaan Dhuha terbagi menjadi tiga fase utama, yaitu awal Dhuha (syuruq), pertengahan Dhuha, dan akhir Dhuha. Setiap fase memiliki keutamaan serta keindahan tersendiri bagi yang istikamah menunaikannya.
Awal Dhuha dimulai saat matahari terbit hingga naik setinggi satu tombak, atau sekitar satu jam setelah waktu subuh. Menjalankan dua rakaat salat syuruq diawali dengan salat Subuh berjamaah dan berzikir di tempat salat memberikan ganjaran pahala yang sangat besar. Pahala ibadah ini dinilai setara dengan menunaikan ibadah haji dan umrah secara sempurna.
Fase kedua adalah pertengahan Dhuha yang berlangsung sekitar pukul 07.30 hingga 10.30. Pada rentang waktu ini, Umat Islam disarankan menunaikan salat Dhuha sebanyak dua hingga empat rakaat. Keutamaan pada fase ini berfungsi sebagai sarana zikir bagi seluruh persendian tubuh sekaligus menjadi benteng pelindung diri dari berbagai musibah harian yang tidak terduga.
Fase ketiga merupakan akhir Dhuha yang membentang dari pukul 10.30 hingga menjelang datangnya waktu zuhur. Pada waktu ini, jumlah rakaat yang disunahkan dapat dikerjakan hingga delapan rakaat. Keutamaan utama dari salat di akhir Dhuha adalah mempermudah datangnya pintu rezeki serta menghadirkan ketentraman hidup.
Makna Rezeki yang Luas dan Keberkahan Hidup
Ustaz Adi Hidayat menekankan agar umat Islam tidak menyempitkan pemaknaan rezeki hanya sebatas materi atau uang belaka. Keberkahan rezeki dari ibadah Dhuha mencakup dimensi yang jauh lebih luas dan berharga dalam kehidupan sehari-hari.
"Jangan selalu menafsirkan rezeki dengan uang atau proyek semata. Kesehatan adalah rezeki yang sangat berharga. Ketenangan pikiran juga rezeki yang luar biasa mahal harganya di tengah kompleksitas kehidupan modern," jelas Ustaz Adi Hidayat.
Ia mengimbau agar niat menunaikan ibadah Dhuha murni ditujukan untuk berbakti dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan semata-mata menjadikan Dhuha sebagai 'alat' untuk mengejar urusan duniawi. Ketika seseorang ikhlas beribadah, Allah SWT secara otomatis akan mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
Baca Juga: Keutamaan Membaca Al Quran dalam Kehidupan dan Keberkahan Kota
Hukum Salat Dhuha Berjamaah untuk Edukasi
Mengenai hukum pelaksanaan salat Dhuha, pada dasarnya ibadah sunah ini dikerjakan secara mandiri atau munfarid. Namun, dalam kondisi tertentu, salat Dhuha diperbolehkan untuk dilaksanakan secara berjamaah.
Pelaksanaan berjamaah ini memiliki landasan syariat ketika bertujuan untuk pembelajaran atau edukasi. Contohnya seperti guru yang membimbing murid-murid di sekolah atau orang tua yang ingin melatih anak-anaknya di rumah agar terbiasa beribadah sejak dini.
"Dahulu Rasulullah SAW pernah salat Dhuha dan beberapa sahabat mengikutinya dari belakang sebagai makmum, dan beliau tidak melarangnya. Hal ini menjadi dasar dibolehkannya salat Dhuha berjamaah untuk tujuan pengajaran dan pembiasaan," pangkasnya.
Melalui konsistensi dalam menjaga ibadah sunah ini, keutamaan sholat Dhuha akan dirasakan secara nyata, membawa keberkahan rezeki, kesehatan, serta kedamaian lahir dan batin sepanjang hari.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Adi Hidayat Official