BLITAR – Makanan sehat itu mahal masih menjadi anggapan yang melekat di masyarakat. Banyak orang mengira pola makan bergizi hanya bisa dijalani oleh kalangan berpenghasilan tinggi karena identik dengan granola, smoothie, salad, hingga berbagai produk impor yang dijual dengan harga premium.
Padahal, anggapan makanan sehat itu mahal tidak sepenuhnya benar. Persoalan utamanya justru terletak pada minimnya pengetahuan tentang gizi, kuatnya pengaruh iklan makanan cepat saji, hingga gaya hidup praktis yang membuat masyarakat lebih sering memilih junk food.
Perdebatan soal makanan sehat itu mahal semakin relevan di tengah meningkatnya konsumsi makanan cepat saji di Indonesia. Di balik kemudahan dan cita rasanya, makanan tinggi gula, garam, serta lemak dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas dan penyakit tidak menular.
Obesitas Kini Lebih Banyak Mengintai Kelompok Berpenghasilan Rendah
Pandangan bahwa tubuh gemuk identik dengan kemakmuran mulai berubah. Kini, obesitas justru lebih banyak ditemukan pada kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
Baca Juga: Manfaat Buah Papaya bagi Kesehatan dan Rahasia Pencernaan Sehat
Hal itu dipengaruhi akses terhadap makanan murah yang cenderung tinggi kalori tetapi rendah nutrisi. Mi instan, ayam goreng cepat saji, gorengan, hingga makanan kemasan menjadi pilihan karena praktis, mengenyangkan, dan mudah ditemukan.
Sayangnya, makanan tersebut umumnya memiliki kandungan gula, garam, atau lemak yang tinggi sehingga berisiko jika dikonsumsi secara berlebihan.
Junk Food Bukan Berarti Tidak Boleh Dimakan
Secara sederhana, makanan sehat merupakan makanan yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, mulai dari karbohidrat, protein, vitamin, mineral, hingga lemak dalam jumlah seimbang.
Baca Juga: Bersiap Bangun Usaha Produktif, BRI Bekali PMI di Taiwan dengan Kewirausahaan dan Literasi Keuangan
Sebaliknya, junk food merupakan makanan yang mengandung nutrisi tertentu secara berlebihan, terutama gula, garam, dan lemak jenuh.
Meski demikian, bukan berarti junk food harus dihindari sepenuhnya. Konsumsi sesekali masih diperbolehkan selama porsinya tidak berlebihan dan tetap diimbangi makanan bergizi.
Selain kandungan gizinya, proses pengolahan juga menjadi faktor penting. Makanan segar yang dimasak sendiri umumnya lebih sehat dibanding makanan olahan atau makanan cepat saji yang diproduksi secara massal.
Konsumsi Fast Food di Indonesia Terus Meningkat
Tren konsumsi makanan cepat saji di Indonesia menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Asupan kalori masyarakat dari makanan siap saji dan makanan kemasan disebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan beberapa dekade lalu. Restoran cepat saji pun semakin mudah ditemukan, baik dari merek internasional maupun lokal.
Fenomena tersebut membuat masyarakat semakin akrab dengan makanan yang digoreng, tinggi gula, serta tinggi garam.
Di sisi lain, jumlah masyarakat yang gemar makan di restoran cepat saji juga terus bertambah, terutama di kalangan usia produktif.
Branding Jadi Salah Satu Penyebab
Salah satu faktor yang membuat junk food semakin diminati adalah strategi pemasaran.
Iklan makanan cepat saji kerap menampilkan suasana keluarga bahagia, momen ulang tahun, hingga kebersamaan yang hangat. Tanpa disadari, citra tersebut membuat masyarakat mengaitkan makanan cepat saji dengan kebahagiaan.
Bagi sebagian keluarga, membeli ayam goreng cepat saji bahkan menjadi bentuk hadiah atau ungkapan kasih sayang kepada anak.
Strategi branding seperti inilah yang dinilai berhasil membangun persepsi bahwa makanan cepat saji memiliki nilai emosional lebih dibanding makanan rumahan.
Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Memicu Ketagihan
Selain faktor pemasaran, kandungan gula, garam, dan lemak juga berperan besar dalam membuat seseorang sulit berhenti mengonsumsi junk food.
Ketiga zat tersebut mampu merangsang pusat penghargaan di otak sehingga menimbulkan rasa senang. Bahkan tekstur renyah pada keripik atau ayam goreng tepung ikut memberikan sensasi yang membuat orang ingin terus makan.
Karena itu, banyak orang kesulitan menghentikan kebiasaan mengonsumsi makanan olahan meski sudah mengetahui dampaknya terhadap kesehatan.
Cara Makan Sehat Tanpa Harus Menguras Kantong
Pola makan sehat sebenarnya tidak selalu identik dengan makanan mahal.
Indonesia memiliki banyak pilihan menu bergizi dengan harga terjangkau, seperti gado-gado, lotek, sayur asem, sayur sop, tempe, tahu, hingga aneka sayuran yang dijual di pasar maupun warung makan.
Memasak sendiri juga menjadi cara efektif menghemat pengeluaran sekaligus mengontrol penggunaan minyak, gula, dan garam.
Selain itu, masyarakat disarankan mulai membiasakan membaca informasi nilai gizi pada kemasan makanan, membuat perencanaan menu mingguan, serta mengurangi kebiasaan makan sambil menonton agar lebih mudah mengenali rasa kenyang.
Pada akhirnya, hidup sehat memang membutuhkan komitmen, baik dalam bentuk waktu, pengetahuan, maupun kebiasaan. Namun investasi tersebut dinilai jauh lebih berharga dibanding biaya yang harus dikeluarkan ketika kesehatan mulai terganggu.
Editor : Maylanni Diana Fitri