BLITAR – Real food disebut sebagai salah satu kunci utama untuk menjaga kesehatan tubuh. Seorang dokter menjelaskan bahwa makanan alami tidak hanya berfungsi mengenyangkan, tetapi juga berperan sebagai "obat" yang membantu tubuh tetap sehat apabila dikonsumsi dengan pola yang benar.
Dalam sebuah perbincangan mengenai pola makan sehat, ia menekankan bahwa makanan seharusnya menjadi sumber kesehatan, bukan justru memicu berbagai penyakit. Karena itu, masyarakat dianjurkan lebih selektif dalam memilih makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Menurutnya, konsep real food sebenarnya sederhana, yakni makanan yang masih alami, minim proses pengolahan, dan tidak dipenuhi berbagai bahan tambahan. Pola makan seperti ini dinilai lebih baik dibanding terlalu sering mengonsumsi makanan olahan atau ultra processed food yang kini banyak beredar di pasaran.
Makanan Seharusnya Menjadi Obat
Dalam penjelasannya, ia mengutip pemikiran tokoh kedokteran Hipokrates yang menyatakan bahwa makanan seharusnya menjadi obat agar seseorang tidak terus bergantung pada obat-obatan.
Baca Juga: Ratusan Calon Siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar Jalani Cek Kesehatan, Cegah Penyakit Menular di Asrama serupa yang pernah disampaikan pendiri Apple, Steve Jobs, mengenai pentingnya menjaga pola makan. Menurutnya, ketika seseorang mampu mengatur makanan dengan baik, kebutuhan terhadap obat dapat diminimalkan. Sebaliknya, pola makan yang buruk berpotensi membuat seseorang harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang.
Karena itu, ia menilai menjaga pola makan merupakan investasi kesehatan yang paling sederhana namun sering diabaikan.
Ini Ciri-Ciri Real Food Menurut Dokter
Ia menjelaskan bahwa real food memiliki sejumlah karakteristik yang mudah dikenali. Pertama, makanan tersebut tidak mengandung banyak penyedap rasa, pengawet, pewarna, maupun bahan tambahan lainnya.
Baca Juga: Perbandingan Antara Kompor Listrik dan Kompor Gas Uji Efisiensi Biaya dan Keunggulan Penggunaannya
Selain itu, makanan alami umumnya tidak dipenuhi gula, garam, atau minyak dalam jumlah berlebihan. Semakin sederhana proses pengolahannya, semakin dekat makanan tersebut dengan kategori real food.
Cara mudah mengenalinya, kata dia, adalah membayangkan apakah makanan tersebut masih bisa dibuat oleh orang tua atau nenek di rumah menggunakan bahan-bahan sederhana.
"Bila makanan itu masih bisa dimasak oleh ibu atau nenek di rumah, kemungkinan besar itu termasuk real food," jelasnya.
Sebaliknya, jika makanan sudah berbentuk minuman kekinian atau produk yang sulit dibuat secara tradisional, besar kemungkinan makanan tersebut bukan lagi real food.
Pilih Belanja di Pinggir Supermarket, Bukan di Tengah
Dokter tersebut juga memberikan cara unik untuk membedakan makanan sehat dengan makanan olahan saat berbelanja di supermarket.
Menurutnya, bahan makanan alami umumnya berada di bagian pinggir supermarket. Di area tersebut biasanya tersedia buah-buahan, sayuran, ikan, ayam, telur, hingga daging segar.
Sementara itu, lorong-lorong di bagian tengah supermarket lebih banyak diisi makanan kemasan, makanan kaleng, minuman botol, camilan, serta berbagai produk ultra processed food.
Ia menyarankan masyarakat lebih banyak mengambil bahan makanan dari area pinggir supermarket dibanding memenuhi keranjang belanja dengan produk kemasan.
Hindari Makanan Drive Thru dan Serba Praktis
Ciri lain dari makanan yang bukan termasuk real food adalah makanan yang bisa dibeli dengan sangat cepat melalui layanan drive thru.
Menurutnya, makanan yang dapat langsung dibeli, dibawa, lalu dimakan sambil mengemudi umumnya merupakan junk food atau makanan olahan tinggi kalori.
Ia bahkan menyebut makanan yang dibeli di minimarket atau toko yang berada di sekitar SPBU umumnya juga termasuk makanan olahan yang praktis, tetapi bukan kategori real food.
Meski praktis, kebiasaan mengonsumsi makanan seperti itu secara terus-menerus dinilai kurang baik bagi kesehatan apabila tidak diimbangi pola makan yang lebih alami.
Berasal dari Alam, Bukan dari Pabrik
Ia menegaskan bahwa makanan yang berasal langsung dari pertanian, perkebunan, peternakan, maupun perikanan lebih layak disebut sebagai real food.
Bahan pangan tersebut merupakan hasil alam yang diperoleh dari tanah, air, dan sinar matahari tanpa melalui proses pengolahan yang berlebihan.
Sebagai contoh, pisang yang digoreng dengan proses sederhana masih dapat dikategorikan sebagai real food karena bahan utamanya tetap mudah dikenali. Namun ketika pisang sudah diolah menjadi berbagai produk makanan yang kompleks dan dipenuhi tambahan bahan lain, nilainya sebagai makanan alami mulai berkurang.
Di akhir penjelasannya, ia mengajak masyarakat kembali membiasakan mengonsumsi makanan yang sederhana, minim proses, dan berasal langsung dari alam. Menurutnya, langkah tersebut menjadi salah satu cara paling mudah untuk menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Editor : Maylanni Diana Fitri