BLITAR - Istilah inner child belakangan semakin sering diperbincangkan di media sosial. Tidak sedikit orang mengaitkan berbagai emosi, seperti mudah marah, merasa kesepian, hingga sulit mengendalikan diri, dengan kondisi inner child yang terluka. Namun, benarkah konsep tersebut bisa dijadikan alasan untuk membenarkan perilaku negatif?
Psikiater dr. Jinny Ardian, Sp.KJ menjelaskan bahwa inner child bukan sekadar istilah populer di internet. Konsep ini merupakan bagian dari teori psikologi yang menjelaskan adanya berbagai "bagian diri" atau ego state yang membentuk kepribadian seseorang.
Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai inner child justru dapat membantu seseorang mengenali luka emosional dan mencari pertolongan yang tepat, bukan menjadi pembenaran atas tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Mengenal Konsep Ego State dalam Psikologi
Dr. Jinny menerangkan bahwa banyak orang menganggap diri manusia adalah satu kesatuan yang utuh. Padahal, dalam sejumlah teori psikologi, seseorang memiliki berbagai bagian diri atau ego state yang bergantian mengambil peran sesuai situasi.
Baca Juga: Panahan Junior Jawa Tengah Kembali Juara Umum, Raih 26 Emas di Milk Life Archery Challenge 2026
Ia memberikan contoh sederhana ketika seseorang bangun pagi. Di satu sisi muncul keinginan untuk tetap tidur, sementara di sisi lain ada dorongan untuk bangkit dan menyelesaikan pekerjaan yang telah direncanakan.
Kedua dorongan tersebut sebenarnya berasal dari bagian diri yang berbeda. Meski tampak saling bertentangan, keduanya memiliki tujuan yang sama-sama baik.
Bagian diri yang ingin beristirahat bertujuan menjaga kondisi tubuh agar tetap bugar. Sementara bagian diri yang mendorong bekerja berusaha menjaga komitmen dan tanggung jawab.
"Semua bagian diri pada dasarnya memiliki niat baik. Yang berbeda hanyalah cara mereka mencapai tujuan tersebut," jelasnya.
Inner Child Adalah Bagian Diri yang Terjebak Masa Lalu
Dalam penjelasannya, dr. Jinny mengatakan bahwa inner child merupakan salah satu bentuk ego state yang masih berada pada usia anak-anak.
Bagian diri ini terbentuk dari pengalaman masa kecil, terutama pengalaman yang meninggalkan luka emosional atau trauma. Akibatnya, bagian tersebut seolah tetap "terjebak" pada usia ketika pengalaman itu terjadi.
Konsep ini banyak digunakan dalam pendekatan terapi psikologi, salah satunya Internal Family Systems (IFS).
Melalui pendekatan tersebut ditemukan bahwa seseorang yang mengalami gangguan makan seperti bulimia atau memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri (self-harm) sering kali memiliki bagian diri tertentu yang berusaha melindungi mereka dari rasa sakit emosional.
Menariknya, ketika bagian diri tersebut didekati dengan rasa ingin tahu, penerimaan, dan kasih sayang, tujuan sebenarnya mulai terlihat.
Bagian diri yang tampak keras ternyata bukan ingin menghancurkan individu tersebut, melainkan berusaha melindunginya dengan cara yang keliru.
Inner Child Bukan Pembenaran Perilaku Negatif
Dr. Jinny menegaskan bahwa pemahaman mengenai inner child kerap disalahartikan.
Banyak orang menggunakan istilah tersebut untuk membenarkan kemarahan, perilaku kasar, atau tindakan yang menyakiti orang lain.
Padahal, konsep psikologi ini justru mengajarkan bahwa seseorang perlu mengenali bagian diri yang terluka agar dapat dipulihkan.
Menurutnya, setiap manusia secara normal memiliki berbagai bagian diri. Tidak hanya inner child, tetapi juga bagian diri yang lebih dewasa, bijaksana, penuh kasih sayang, bahkan sosok "orang tua" di dalam diri atau inner parent.
Bagian diri yang lebih matang inilah yang seharusnya membantu merawat anak kecil yang masih membawa luka emosional.
Sayangnya, banyak orang justru lebih sering menghakimi dirinya sendiri ketika bagian diri yang terluka sedang muncul.
Akibatnya, luka emosional tidak benar-benar sembuh dan justru terus memengaruhi perilaku sehari-hari.
Pentingnya Bersikap Ramah kepada Diri Sendiri
Dr. Jinny mengajak masyarakat untuk mulai memahami dirinya sendiri dengan lebih penuh empati.
Alih-alih terus menyalahkan diri, seseorang perlu belajar menerima bahwa setiap bagian diri memiliki fungsi dan tujuan masing-masing.
Dengan mengenali sumber luka emosional, proses penyembuhan akan menjadi lebih mudah dilakukan.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila seseorang merasa kesulitan mengendalikan emosi, mengalami trauma berkepanjangan, atau memiliki dorongan menyakiti diri sendiri, sebaiknya segera mencari bantuan profesional.
Pendampingan dari psikolog maupun psikiater dapat membantu memahami kondisi tersebut secara lebih tepat sekaligus memberikan penanganan yang sesuai.
Melalui pemahaman yang benar, konsep inner child tidak lagi menjadi sekadar istilah viral di media sosial, melainkan menjadi pintu untuk mengenali diri, memulihkan luka masa lalu, dan membangun kesehatan mental yang lebih baik.
Editor : Maylanni Diana Fitri