Inner Child Ternyata Bukan Luka Masa Kecil Semata, Psikiater Jelaskan Arti Sebenarnya yang Sering Disalahpahami

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 16:10 WIB
Inner child sering disalahartikan sebagai alasan perilaku buruk. Psikiater dr. Jinny Ardian menjelaskan arti sebenarnya, kaitannya dengan trauma masa kecil, dan proses penyembuhannya.(pinterest)
Inner child sering disalahartikan sebagai alasan perilaku buruk. Psikiater dr. Jinny Ardian menjelaskan arti sebenarnya, kaitannya dengan trauma masa kecil, dan proses penyembuhannya.(pinterest)

BLITAR - Inner child menjadi salah satu istilah psikologi yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Tak sedikit orang mengaitkannya dengan trauma masa kecil, rasa kesepian, hingga perilaku mudah marah. Namun, benarkah semua tindakan tersebut disebabkan oleh inner child yang terluka?

Psikiater dr. Jinny Ardian, Sp.KJ, menilai masih banyak kesalahpahaman mengenai makna inner child. Ia menegaskan bahwa istilah tersebut bukan sekadar label untuk menjelaskan kondisi emosional seseorang, apalagi dijadikan pembenaran atas perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Melalui penjelasannya, dr. Jinny mengungkap bahwa inner child merupakan bagian dari konsep psikologi yang lebih luas, yakni ego state atau bagian-bagian diri yang membentuk kepribadian manusia.

Manusia Memiliki Banyak Bagian Diri

Menurut dr. Jinny, banyak orang menganggap diri manusia hanya terdiri dari satu identitas yang utuh. Padahal, dalam teori ego state, seseorang memiliki beberapa bagian diri yang dapat bergantian mengambil peran sesuai situasi yang dihadapi.

Baca Juga: Universitas Terbuka Ungkap Rahasia Kuliah Jarak Jauh, Mahasiswa Tetap Bisa Karier Tanpa Tinggalkan Pendidikan

Ia memberi contoh sederhana saat seseorang bangun pagi. Ada bagian diri yang ingin kembali tidur karena merasa lelah, tetapi ada pula bagian lain yang mengingatkan untuk bangun dan menyelesaikan pekerjaan.

Dialog batin seperti itu, kata dia, menunjukkan bahwa di dalam diri terdapat beberapa bagian yang memiliki tujuan berbeda. Meski demikian, semua bagian tersebut pada dasarnya memiliki niat yang baik.

Bagian yang ingin beristirahat sebenarnya berusaha menjaga tubuh agar tidak kelelahan. Sementara bagian yang mendorong untuk bekerja bertujuan membantu seseorang memenuhi tanggung jawabnya.

"Semua bagian diri itu tidak ada yang jahat. Tujuannya baik, hanya saja cara yang digunakan terkadang kurang tepat," jelasnya.

Inner Child Adalah Bagian Diri yang Terjebak di Masa Lalu

Dr. Jinny menjelaskan bahwa konsep inner child berkembang dalam pendekatan terapi trauma, salah satunya melalui teori Internal Family Systems (IFS).

Baca Juga: BINUS Online Jadi Solusi Kuliah Sambil Kerja, Nasya Marcella Ungkap Pengalaman Belajar Fleksibel

Dalam praktiknya, para terapis menemukan bahwa seseorang yang mengalami gangguan seperti bulimia atau kebiasaan menyakiti diri sendiri ternyata tidak sepenuhnya ingin melakukan tindakan tersebut.

Ada bagian diri tertentu yang mendorong perilaku itu sebagai bentuk perlindungan dari rasa sakit emosional yang belum terselesaikan.

Saat bagian diri tersebut diajak berdialog dengan pendekatan yang penuh empati, ditemukan bahwa sosok itu sering kali terasa seperti anak kecil yang ketakutan dan masih terjebak dalam pengalaman traumatis di masa lalu.

Bagian inilah yang kemudian dikenal sebagai inner child, yakni bagian diri yang membawa luka emosional dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Jangan Jadikan Inner Child Sebagai Alasan

Menurut dr. Jinny, fenomena media sosial membuat istilah inner child kerap digunakan secara berlebihan. Banyak orang mengaitkan berbagai perilaku negatif dengan alasan memiliki inner child yang terluka.

Padahal, memahami inner child bukan bertujuan mencari pembenaran atas kemarahan, sikap kasar, atau tindakan yang merugikan orang lain.

Sebaliknya, konsep tersebut membantu seseorang mengenali bahwa ada bagian diri yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan proses penyembuhan.

"Inner child adalah konteks untuk memahami diri, bukan alasan untuk membenarkan perilaku yang salah," ujarnya.

Proses Penyembuhan Dimulai dari Menerima Diri

Selain memiliki inner child, setiap orang juga mempunyai bagian diri lain yang lebih dewasa, lebih tenang, dan mampu memberikan rasa aman.

Bagian diri inilah yang berperan membantu merawat sisi anak yang masih terluka akibat pengalaman masa lalu.

Sayangnya, banyak orang justru memilih menghakimi dirinya sendiri ketika emosi negatif muncul. Ucapan seperti merasa bodoh, gagal, atau tidak berharga hanya membuat luka emosional semakin dalam.

Karena itu, dr. Jinny mengajak masyarakat untuk mulai memperlakukan diri sendiri dengan lebih ramah. Memahami bahwa setiap bagian diri memiliki tujuan baik akan membantu proses pemulihan berlangsung lebih sehat.

Apabila luka emosional terasa mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang sesuai.

Menurutnya, mengenali inner child bukan berarti terjebak pada masa lalu, melainkan menjadi langkah awal memahami diri dan membangun kehidupan yang lebih sehat secara emosional.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Ego State Inner Child kesehatan mental trauma masa kecil psikiater