BLITAR – Berhenti konsumsi gula tambahan disebut dapat membawa berbagai perubahan positif bagi tubuh, mulai dari menurunnya kadar gula darah hingga berkurangnya risiko penyakit kronis. Meski begitu, prosesnya tidak selalu mudah karena pada hari-hari pertama seseorang bisa mengalami gejala mirip kecanduan.
Dalam sebuah pembahasan di kanal YouTube edukasi kesehatan, dijelaskan bahwa keinginan mengonsumsi makanan atau minuman manis merupakan hal yang wajar. Sejak lahir, otak manusia memang telah diprogram untuk menyukai rasa manis. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan membuat otak membutuhkan asupan yang semakin banyak agar menghasilkan sensasi menyenangkan.
Kondisi tersebut membuat banyak ilmuwan menilai gula memiliki mekanisme yang menyerupai zat adiktif. Walaupun hingga kini masih menjadi perdebatan ilmiah, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi gula dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan fisik maupun mental.
Hari-Hari Pertama Jadi Tantangan Terberat
Pada awal menghentikan gula tambahan, tubuh biasanya belum menunjukkan perubahan yang berarti. Namun memasuki hari kedua, keinginan mengonsumsi makanan manis mulai meningkat.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Akui Motor Honda Masih Punya Kekurangan, Akselerasi Jadi Evaluasi Jelang Moto3 2026
Puncak rasa ngidam umumnya terjadi sekitar hari kelima. Beberapa orang dapat mengalami sakit kepala, gelisah, sulit berkonsentrasi, hingga merasa ada sesuatu yang kurang dalam keseharian mereka.
Fenomena tersebut terjadi karena otak telah terbiasa memperoleh stimulasi dari gula. Semakin sering seseorang mengonsumsi makanan manis, semakin tinggi pula kebutuhan gula untuk mendapatkan efek yang sama.
Manfaat Mulai Terlihat Setelah 10 Hari
Jika berhasil melewati fase awal, manfaat mulai dirasakan sekitar hari ke-10.
Baca Juga: Perbandingan Motor Listrik dan Motor Bensin Mana Lebih Hemat Selama 5 Tahun Ini Hitungannya
Penelitian yang dikutip dalam video menyebutkan kadar gula darah dan lemak tubuh mulai menurun. Selain itu, keseimbangan hormon menjadi lebih baik sehingga tubuh terasa lebih stabil.
Kemampuan fokus juga disebut meningkat. Konsumsi gula berlebihan diduga dapat mengganggu fungsi konsentrasi sehingga pengurangannya membantu otak bekerja lebih optimal.
Perubahan lain terlihat pada indra pengecap. Lidah menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis sehingga makanan yang sebelumnya terasa hambar mulai terasa cukup manis tanpa tambahan gula berlebih.
Bagi sebagian orang yang memiliki masalah jerawat, peradangan pada kulit juga berpotensi berkurang karena gula diketahui berkaitan dengan peningkatan proses inflamasi dalam tubuh.
Setelah Enam Minggu, Tubuh Lebih Beradaptasi
Perubahan semakin terasa ketika seseorang mampu mempertahankan pola makan rendah gula hingga enam minggu.
Keinginan mengonsumsi makanan manis mulai menghilang karena lidah telah beradaptasi. Bahkan makanan yang sebelumnya dianggap biasa saja bisa terasa terlalu manis.
Selain itu, kualitas tidur disebut membaik, berat badan berpotensi turun, sistem pencernaan lebih lancar, dan rasa kembung berkurang.
Dalam jangka panjang, pola konsumsi gula yang lebih rendah juga dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit kronis. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan hubungan antara rendahnya konsumsi gula dengan perlambatan proses penuaan sel.
Waspadai Pemanis Buatan
Video tersebut juga menyoroti meningkatnya penggunaan pemanis buatan sebagai pengganti gula.
Meski rendah kalori, beberapa ahli mengingatkan bahwa rasa manis yang jauh lebih kuat berpotensi membuat otak semakin terbiasa dengan sensasi manis sehingga keinginan mengonsumsi gula tetap tinggi.
Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara konsumsi pemanis buatan dengan beberapa gangguan kesehatan. Meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti, masyarakat tetap disarankan mengonsumsinya secara bijak.
Di sisi lain, pemerintah mulai mendorong kebijakan pencantuman skor kandungan gula pada minuman kemasan agar masyarakat lebih mudah mengenali produk dengan kadar gula tinggi.
Pada akhirnya, pesan utama yang disampaikan bukanlah melarang konsumsi gula sepenuhnya, melainkan menghindari konsumsi berlebihan. Dengan pola makan yang lebih seimbang, tubuh berpeluang memperoleh manfaat kesehatan sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit di masa depan.
Editor : Maylanni Diana Fitri