BLITAR – Berhenti gula tambahan bukan hanya membantu mengurangi asupan kalori, tetapi juga memicu berbagai perubahan positif pada tubuh. Meski begitu, proses adaptasinya tidak instan. Pada beberapa hari pertama, tubuh justru bisa memberikan reaksi yang membuat banyak orang menyerah.
Dalam sebuah video edukasi kesehatan dijelaskan bahwa konsumsi gula berlebih telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari kerusakan gigi, peradangan, obesitas, hingga meningkatnya risiko penyakit metabolik.
Karena itu, mengurangi bahkan menghentikan konsumsi gula tambahan menjadi salah satu langkah yang dinilai efektif untuk memperbaiki kesehatan. Menariknya, perubahan tersebut sudah bisa dirasakan hanya dalam hitungan hari.
Hari Kedua, Rasa Ingin Makan Manis Mulai Muncul
Memasuki hari kedua tanpa gula tambahan, banyak orang mulai merasakan keinginan kuat untuk kembali mengonsumsi makanan atau minuman manis.
Baca Juga: Cara Membuat Brownies Cokelat Kukus yang Moist, Lembut, Anti Gagal dan Super Nyoklat
Keinginan tersebut biasanya meningkat hingga hari kelima dan dapat disertai gejala seperti sakit kepala, mudah marah, gelisah, hingga sulit berkonsentrasi.
Kondisi ini terjadi karena otak telah terbiasa menerima rangsangan dari gula. Saat asupannya dihentikan, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi sehingga muncul rasa tidak nyaman.
Beberapa peneliti bahkan menyebut mekanisme tersebut menyerupai proses kecanduan, meski status gula sebagai zat adiktif masih menjadi perdebatan ilmiah.
Hari ke-10, Tubuh Mulai Beradaptasi
Jika berhasil melewati fase awal, manfaat mulai terlihat sekitar hari kesepuluh.
Baca Juga: Integritas Pemimpin Jadi Kunci Suksesi Bisnis, Sandiaga Uno Ungkap Cara Memilih Penerus Perusahaan
Kadar gula darah dan lemak tubuh mulai membaik, sementara keseimbangan hormon menjadi lebih stabil. Tubuh pun terasa lebih bertenaga dan tidak mudah mengalami perubahan suasana hati.
Kemampuan fokus juga berpotensi meningkat karena konsumsi gula berlebihan diduga dapat mengganggu fungsi otak dalam menjaga konsentrasi.
Selain itu, lidah mulai terbiasa dengan rasa alami makanan sehingga buah-buahan atau makanan tanpa tambahan gula terasa lebih manis dibanding sebelumnya.
Bagi yang memiliki masalah kulit, peradangan akibat konsumsi gula tinggi juga dapat berkurang sehingga jerawat berangsur membaik.
Minggu Keenam, Tubuh Terbiasa Tanpa Gula Berlebih
Setelah enam minggu, rasa ingin mengonsumsi makanan manis umumnya sudah jauh berkurang.
Makanan yang dulu terasa biasa kini justru terasa sangat manis. Adaptasi ini menunjukkan sensitivitas indra pengecap telah kembali normal.
Tak hanya itu, kualitas tidur disebut lebih baik, sistem pencernaan menjadi lebih lancar, berat badan lebih mudah terkontrol, dan tubuh terasa lebih ringan.
Dalam jangka panjang, pola makan rendah gula juga dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit kronis serta kemungkinan memperlambat proses penuaan sel.
Pemanis Buatan Bukan Berarti Bebas Risiko
Video tersebut juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap pemanis buatan sebagai solusi terbaik.
Walaupun rendah kalori, rasa manis yang dihasilkan justru lebih kuat dibanding gula biasa. Kondisi itu dikhawatirkan membuat otak tetap terbiasa mencari sensasi manis sehingga keinginan mengonsumsi gula tidak benar-benar hilang.
Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara pemanis buatan dengan sejumlah gangguan kesehatan, meski hingga kini belum ada bukti pasti mengenai hubungan sebab-akibatnya.
Karena itu, para ahli lebih menyarankan mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis secara keseluruhan dibanding hanya mengganti jenis pemanisnya. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menjaga kesehatan sekaligus menurunkan risiko penyakit di masa mendatang.
Editor : Maylanni Diana Fitri