Bahaya Gula Berlebih Ternyata Tak Cuma Picu Diabetes, Ini Dampak yang Sering Tak Disadari

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Bahaya gula berlebih tak hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan otak, mata, dan mental. Simak dampak serta batas aman konsumsi gula.(pinterest)
Bahaya gula berlebih tak hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan otak, mata, dan mental. Simak dampak serta batas aman konsumsi gula.(pinterest)

BLITAR – Bahaya gula berlebih kembali menjadi perhatian setelah meningkatnya konsumsi makanan dan minuman manis di berbagai kalangan. Meski memberikan rasa nikmat dan energi instan, konsumsi gula secara berlebihan ternyata dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari obesitas hingga diabetes.

Bahaya gula berlebih bahkan disebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi gula yang tidak terkontrol juga dapat memengaruhi fungsi otak, kesehatan mata, hingga kondisi mental seseorang. Karena itu, para ahli mengingatkan masyarakat agar mulai memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi setiap hari.

Di Indonesia, kekhawatiran semakin meningkat karena kasus diabetes pada anak terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pola makan tinggi gula perlu mendapat perhatian lebih, baik dari keluarga maupun pemerintah.

Gula Dibutuhkan Tubuh, tetapi Ada Batasnya

Banyak orang menganggap gula sebagai penyebab utama berbagai penyakit. Padahal, tubuh manusia tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi agar organ dapat bekerja secara optimal.

Baca Juga: Universitas Terbuka Ungkap Rahasia Kuliah Jarak Jauh, Mahasiswa Tetap Bisa Karier Tanpa Tinggalkan Pendidikan

Masalah muncul ketika asupan gula dikonsumsi secara berlebihan. Makanan dan minuman manis memang mampu meningkatkan energi dengan cepat, tetapi efek tersebut hanya berlangsung sesaat.

Setelah kadar gula darah kembali turun, tubuh akan merasa lemas dan memunculkan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis lagi. Kebiasaan ini jika terus berulang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

Tak Hanya Diabetes, Mata dan Otak Juga Bisa Terdampak

Risiko konsumsi gula berlebih ternyata jauh lebih luas daripada sekadar diabetes.

Baca Juga: Inner Child Adalah Apa? Psikiater Ungkap Arti Sebenarnya, Ternyata Bukan Alasan Membenarkan Sikap Buruk

Asupan gula yang berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan peluang terjadinya obesitas, merusak kesehatan mata, hingga menurunkan kemampuan berpikir.

Bahkan, beberapa kajian juga mengaitkan pola konsumsi gula tinggi dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati seperti depresi.

Karena itu, mengurangi konsumsi gula bukan hanya untuk menjaga kadar gula darah tetap normal, tetapi juga melindungi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Mengapa Makanan Manis Sulit Ditinggalkan?

Tidak sedikit orang yang merasa sulit berhenti mengonsumsi makanan atau minuman manis.

Salah satu penyebabnya adalah gula mampu merangsang pelepasan hormon yang menimbulkan rasa senang. Lama-kelamaan otak terbiasa menerima sensasi tersebut sehingga muncul keinginan untuk terus mengonsumsi makanan manis.

Selain itu, makanan tinggi gula juga sangat mudah ditemukan di mana saja dengan harga yang relatif murah.

Kemudahan akses inilah yang membuat konsumsi gula berlebih menjadi kebiasaan yang sulit dihindari.

Gula Tidak Sama dengan Rokok

Meski sama-sama dikaitkan dengan berbagai penyakit, gula dan rokok memiliki perbedaan mendasar.

Tubuh membutuhkan gula sebagai sumber energi untuk menjalankan berbagai fungsi metabolisme. Sebaliknya, tubuh tidak memiliki kebutuhan terhadap zat adiktif yang terkandung dalam rokok.

Artinya, gula bukanlah musuh yang harus dihilangkan sepenuhnya dari pola makan. Yang perlu dilakukan adalah mengendalikan jumlah konsumsinya agar tidak berlebihan.

Berbagai Negara Mulai Mengendalikan Konsumsi Gula

Sejumlah negara telah mengambil langkah untuk menekan konsumsi gula di masyarakat.

Beberapa di antaranya mewajibkan pencantuman label kandungan gula yang mudah terlihat pada kemasan makanan dan minuman.

Ada pula yang membatasi iklan minuman tinggi gula, menerapkan pajak untuk produk bergula, hingga melarang penjualan makanan dan minuman manis di lingkungan sekolah.

Kebijakan tersebut dinilai efektif membantu masyarakat lebih sadar terhadap kandungan gula yang mereka konsumsi setiap hari.

Indonesia juga disebut tengah mengarah pada penerapan sejumlah kebijakan serupa sebagai upaya menekan peningkatan penyakit akibat konsumsi gula berlebihan.

Batasi Konsumsi Gula Sejak Sekarang

Dokter menyarankan orang dewasa mengonsumsi gula tidak lebih dari empat sendok makan per hari.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membaca informasi kandungan gizi pada kemasan makanan, mengurangi minuman manis, serta memperbanyak konsumsi makanan segar.

Mengonsumsi makanan manis sesekali masih diperbolehkan. Namun, menjaga porsinya tetap menjadi kunci agar tubuh terhindar dari berbagai penyakit yang dipicu oleh konsumsi gula berlebihan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
konsumsi gula bahaya gula berlebih makanan manis kesehatan diabetes