JAKARTA – Cara mencari hari baik pindah rumah menurut Primbon Jawa masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai pedoman sebelum melakukan boyongan ke rumah baru. Dalam tradisi Jawa, penentuan hari baik tidak hanya memperhatikan weton, tetapi juga hari naas, Nogo Bulan, hingga Nogo Dino yang diyakini memengaruhi keselamatan, rezeki, dan keberuntungan penghuni rumah.
Metode tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui sejumlah perhitungan dan penyesuaian arah perpindahan rumah, masyarakat diharapkan dapat memilih waktu yang dianggap paling baik untuk memulai kehidupan di tempat tinggal baru.
Dalam penjelasan pada video, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui hari-hari yang tidak dianjurkan untuk pindah rumah.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Moto3 Siapkan Kejutan Hadapi Ketatnya Persaingan di Sirkuit Silverstone
Hari pertama yang harus dihindari ialah hari naas, yaitu hari wafat orang tua kandung. Hari tersebut dipercaya kurang baik apabila dijadikan waktu untuk melakukan boyongan.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menghindari hari keempat dan kelima yang dihitung berdasarkan weton kelahiran masing-masing.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah tanggal 1 Suro atau hari lahir bulan Suro. Karena penanggalan Jawa berubah setiap tahun, masyarakat diminta menyesuaikan kembali hari tersebut sebelum menentukan jadwal pindah rumah.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Agustus 2026 Libra Diminta Berani Move On, Peluang Kebahagiaan Baru Mulai Terbuka
Menurut penjelasan dalam video, menghindari hari-hari tersebut merupakan langkah awal sebelum melakukan perhitungan lainnya.
Tahap berikutnya adalah memperhatikan Nogo Bulan atau yang juga disebut Nogosasi dalam tradisi Jawa.
Perhitungan ini menghubungkan arah rumah lama menuju rumah baru dengan bulan dalam kalender Jawa. Setiap arah memiliki bulan tertentu yang dianggap baik maupun kurang baik untuk melakukan perpindahan.
Sebagai contoh, apabila rumah lama berada di sebelah timur dan rumah baru berada di arah barat, maka waktu yang dianggap baik adalah pada bulan Suro, Safar, dan Mulud.
Baca Juga: Ini Wilayah Indonesia yang Bisa Menyaksikan Gerhana Total, Cincin, hingga Sebagian
Sebaliknya, apabila arah perpindahan tidak sesuai dengan ketentuan Nogo Bulan, perpindahan dipercaya dapat membawa kesialan, seperti sering mengalami sakit, muncul berbagai persoalan dalam keluarga, hingga terganggunya kehidupan rumah tangga.
Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa arah perpindahan sebaiknya disesuaikan dengan posisi "mulut naga" agar perjalanan menuju rumah baru dianggap lebih membawa keberuntungan.
Selain bulan, masyarakat juga dianjurkan memperhatikan Nogo Dino, yaitu penentuan hari berdasarkan arah perpindahan rumah.
Menurut penjelasan dalam video, setiap arah memiliki hari yang dianggap membawa keberuntungan maupun hari yang sebaiknya dihindari.
Misalnya, apabila berpindah dari rumah di sebelah timur menuju rumah di sebelah barat, salah satu hari yang dianjurkan adalah Jumat Legi.
Sementara bagi masyarakat yang berpindah dari selatan menuju utara, disarankan menggunakan Sabtu Pahing dan menghindari Senin karena dipercaya dapat menghambat rezeki.
Baca Juga: Kirab Bedhol Pusaka Awali Hari Jadi ke-702 Blitar, Pisowanan Agung Digelar Hari Ini
Contoh lain yang disebutkan ialah perpindahan ke arah barat sebaiknya tidak dilakukan pada Rabu Pon karena dianggap berhadapan dengan posisi Nogo Dino yang dipercaya membawa dampak kurang baik terhadap keberuntungan.
Pemaparan tersebut menegaskan bahwa penentuan hari pindah rumah dalam tradisi Jawa tidak hanya mempertimbangkan tanggal, tetapi juga arah perpindahan, bulan, dan hari pasaran.
Di akhir penjelasannya, narasumber mengajak masyarakat mengambil sisi positif dari tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian adat Jawa. Ia berharap siapa pun yang akan pindah rumah memperoleh kemudahan, kesehatan, kelancaran rezeki, serta kehidupan yang lebih bahagia.
Meski demikian, seluruh perhitungan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi budaya Jawa yang masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat hingga kini.
Editor : Brilian Syifa Almasih