JAKARTA – Cara menghitung hari baik pindah rumah menurut perhitungan neptu Jawa kembali menjadi perhatian masyarakat yang masih memegang tradisi weton. Salah satu metode yang dijelaskan dalam sebuah tayangan menyebutkan bahwa penentuan hari baik dilakukan melalui perhitungan neptu hari dan pasaran, yang hasilnya dipercaya menentukan baik atau buruknya waktu untuk boyongan.
Dalam penjelasan tersebut, perhitungan khusus untuk pindah rumah berbeda dengan neptu yang umum digunakan dalam penanggalan Jawa. Hari dan pasaran memiliki nilai tersendiri yang kemudian dijumlahkan untuk menentukan kategori hasil perhitungan.
Metode ini digunakan sebagai pedoman memilih waktu pindah rumah agar dinilai membawa keberuntungan atau menghindari berbagai kesulitan menurut tradisi Jawa.
Baca Juga: Perkuat Daya Saing UMKM Naik Kelas, BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026
Langkah pertama dalam perhitungan adalah menentukan nilai hari. Berbeda dengan neptu pada umumnya, metode ini menggunakan nilai Jumat = 1, Sabtu = 2, Minggu = 3, Senin = 4, Selasa = 5, Rabu = 6, dan Kamis = 7.
Selanjutnya, nilai pasaran juga dihitung dengan rumus tersendiri, yakni Kliwon = 1, Legi = 2, Pahing = 3, Pon = 4, dan Wage = 5.
Nilai hari dan pasaran kemudian dijumlahkan untuk memperoleh angka yang menjadi dasar penentuan kategori hasil.
Sebagai contoh, jika seseorang berencana pindah rumah pada Jumat Kliwon, maka nilai Jumat (1) ditambah Kliwon (1) menghasilkan angka 2.
Angka tersebut selanjutnya dicocokkan dengan kategori yang telah ditetapkan dalam metode perhitungan.
Dalam tayangan tersebut dijelaskan terdapat enam kategori hasil yang digunakan untuk menafsirkan waktu pindah rumah.
Kategori pertama adalah Pitutur, yang diartikan menemui banyak perkara.
Baca Juga: Kirab Bedhol Pusaka Awali Hari Jadi ke-702 Blitar, Pisowanan Agung Digelar Hari Ini
Kategori kedua adalah Demang Kanduwuran, yang dimaknai sakit-sakitan sehingga dianggap tidak baik.
Kategori ketiga adalah Satria Pinayungan, yang diartikan selamat, dihormati, dan disegani banyak orang.
Kategori keempat ialah Mantri Sinaroja, yang dimaknai disenangi atau dicintai banyak orang.
Sementara kategori kelima adalah Macan Ketawang, yang diartikan sering mengalami perselisihan atau banyak masalah.
Baca Juga: Asal-Usul Nama Blitar Terungkap, Ternyata Bukan dari Prasasti Balitar I, Ini Bukti Sejarahnya
Adapun kategori keenam ialah Nujupati, yang dimaknai mengalami banyak kesedihan dan kesengsaraan sehingga dianggap sebagai hasil yang paling tidak diharapkan.
Apabila hasil penjumlahan melebihi angka enam, maka perhitungan kembali diulang mulai dari angka satu hingga memperoleh kategori yang sesuai.
Berdasarkan daftar yang dipaparkan dalam video, beberapa kombinasi hari dan pasaran disebut masuk kategori baik.
Baca Juga: Gerhana Matahari: Pengertian, Jenis, Cara Terjadi, hingga Tips Aman Mengamatinya
Di antaranya Sabtu Legi yang menghasilkan angka empat atau Mantri Sinaroja, Kamis Legi dengan angka sembilan yang masuk kategori Satria Pinayungan, serta Jumat Pahing yang kembali menghasilkan kategori Mantri Sinaroja.
Selain itu, Sabtu Kliwon, Rabu Pahing, Selasa Pon, Jumat Legi, Senin Wage, Kamis Pahing, Rabu Pon, hingga Minggu Kliwon juga termasuk kombinasi yang disebut memiliki hasil baik menurut perhitungan tersebut.
Sebaliknya, Jumat Kliwon menghasilkan angka dua yang masuk kategori Demang Kanduwuran, sehingga dinilai kurang baik untuk pindah rumah.
Beberapa kombinasi lain seperti Minggu Pahing, Sabtu Pon, Jumat Wage, Selasa Kliwon, hingga Kamis Wage juga disebut berada pada kategori yang tidak dianjurkan karena masuk hasil Nujupati atau Demang Kanduwuran.
Metode ini merupakan salah satu bentuk perhitungan tradisional Jawa yang masih digunakan sebagian masyarakat sebagai acuan menentukan waktu boyongan.
Meski demikian, dalam tayangan tersebut dijelaskan bahwa seluruh hasil diperoleh berdasarkan sistem neptu khusus untuk pindah rumah, yang berbeda dari perhitungan neptu Jawa pada umumnya.
Editor : Brilian Syifa Almasih