Dalam tradisi Jawa, hari sangar dipahami sebagai bagian dari ilmu titen yang digunakan sebagai bentuk kehati-hatian, bukan sebagai penentu mutlak nasib seseorang. Perhitungan ini masih digunakan oleh sebagian masyarakat yang melestarikan adat dan budaya Jawa.
Terdapat dua sistem perhitungan yang dikenal dalam masyarakat, yakni Aboge dan Asapon. Keduanya memiliki daftar hari sangar yang berbeda sehingga masyarakat biasanya menyesuaikan dengan tradisi yang dianut.
Baca Juga: Bocoran HP Xiaomi Terbaru Siap Masuk Indonesia, Redmi 17 hingga Poco F9 Pro Sudah Muncul di TKDN
Berdasarkan perhitungan Aboge, hari sangar pertama disebut sebagai Galengan Tahun, yaitu hari kelahiran atau awal dimulainya Tahun Be yang jatuh pada Kamis Legi. Hari tersebut dipercaya kurang baik untuk melaksanakan berbagai kepentingan atau hajatan besar.
Selanjutnya terdapat Tali Wangke, yaitu tiga hari setelah 1 Sura yang pada perhitungan Aboge jatuh pada Sabtu Pon. Dalam tradisi Jawa, hari ini juga termasuk waktu yang dipantang untuk memulai kegiatan penting.
Selain itu terdapat Sangar Ing Tahun yang jatuh pada Rabu Kliwon, serta Jati Ngarang yang berada pada Sabtu Legi. Kedua hari tersebut juga termasuk dalam daftar hari yang dihindari oleh sebagian masyarakat yang masih menggunakan perhitungan Aboge.
Sementara menurut sistem Asapon, Galengan Tahun jatuh pada Rabu Kliwon, Tali Wangke pada Jumat Pahing, Sangar Ing Tahun pada Selasa Wage, dan Jati Ngarang pada Jumat Kliwon.
Hari-hari tersebut dipercaya kurang baik digunakan untuk berbagai keperluan penting, seperti menggelar pernikahan, lamaran, pindah rumah, memulai pembangunan rumah, hingga membuka usaha baru yang dianggap memiliki nilai besar.
Meski demikian, pantangan tersebut dipahami sebagai bentuk ikhtiar dan kehati-hatian menurut tradisi Jawa. Tujuannya bukan karena diyakini pasti mendatangkan musibah, melainkan sebagai upaya mengikuti kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Dalam penjelasan mengenai hari sangar, masyarakat juga diajak untuk menghormati keberagaman budaya yang berkembang di Indonesia. Tradisi Jawa dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dijaga oleh sebagian masyarakat hingga sekarang.
Tidak semua orang diwajibkan mengikuti perhitungan hari sangar. Bagi yang meyakininya, perhitungan tersebut dapat dijadikan pedoman dalam menentukan waktu pelaksanaan kegiatan penting, sedangkan bagi yang tidak menggunakannya tetap diharapkan saling menghormati perbedaan pandangan.
Pada akhirnya, hari sangar dalam primbon Jawa merupakan bagian dari warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Keberhasilan suatu rencana tetap ditentukan oleh persiapan yang matang, usaha, doa, serta kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Source: Fitka Channel
Editor : Carissa Emrys Fawnia