Penjelasan mengenai Jatingarang Nogo Tahun disampaikan sebagai pelengkap dari pembahasan sebelumnya tentang Dino Taliwangke. Jika Dino Taliwangke disebut masih dapat dipertimbangkan untuk dilanggar dengan risiko tertentu, maka Jatingarang Nogo Tahun disebut memiliki tingkat risiko yang lebih besar sehingga lebih dianjurkan untuk dihindari.
Menurut penjelasan dalam video, perhitungan Jatingarang Nogo Tahun berasal dari hitungan Pitung Jawa dan dikaitkan dengan catatan para leluhur. Meski demikian, pembicara menegaskan bahwa kebenaran mutlak tetap menjadi milik Tuhan, sedangkan hitungan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Asal-Usul Nama Blitar Terungkap, Ternyata Bukan dari Prasasti Balitar I, Ini Bukti Sejarahnya
Pembicara menjelaskan bahwa Jatingarang Nogo Tahun termasuk kategori hari yang disebut sebagai sengkala. Dalam kepercayaan Primbon Jawa, sengkala dipahami sebagai pertanda yang sebaiknya dijadikan pertimbangan sebelum melaksanakan kegiatan penting.
Menurutnya, hari tersebut tidak sama dengan Dino Taliwangke yang masih dianggap memiliki tingkat risiko lebih ringan. Karena itu, masyarakat yang masih mengikuti hitungan Primbon Jawa dianjurkan untuk menghindari Jatingarang Nogo Tahun apabila memungkinkan.
Sebagai ilustrasi, pembicara mengisahkan pengalaman ketika orang tuanya pernah mengingatkan seseorang agar tidak membongkar rumah pada hari yang termasuk Jatingarang Nogo Tahun. Namun, peringatan tersebut tidak diindahkan hingga akhirnya terjadi kecelakaan saat proses pembongkaran berlangsung.
Dari pengalaman tersebut, pembicara menyebut bahwa kecelakaan yang dikaitkan dengan Jatingarang Nogo Tahun dipercaya dapat menimbulkan akibat yang cukup serius, mulai dari cedera berat hingga cacat. Meski demikian, kisah tersebut merupakan pengalaman yang disampaikan dalam video dan bukan bukti ilmiah mengenai hubungan sebab akibat.
Berbeda dengan Dino Taliwangke yang disebut muncul setiap satu bulan sekali, Jatingarang Nogo Tahun dijelaskan hanya terjadi satu kali dalam setiap periode tiga bulan kalender Jawa.
Untuk kelompok bulan Suro, Safar, dan Mulud, hari yang termasuk Jatingarang Nogo Tahun adalah Minggu Legi. Hari tersebut disebut sebagai waktu yang sebaiknya dihindari apabila hendak memulai pekerjaan besar.
Baca Juga: Hari Jadi ke-702 Kabupaten Blitar, Mbangun Blitar Tak Sekadar Infrastruktur, tapi Juga Peradaban
Memasuki kelompok bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir, Jatingarang Nogo Tahun jatuh pada Sabtu Pahing.
Sementara itu, pada kelompok bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso, hari yang disebut sebagai Jatingarang Nogo Tahun adalah Rabu Pon.
Adapun tiga bulan terakhir, yakni Syawal, Apit, dan Besar, memiliki Jatingarang Nogo Tahun yang jatuh pada Senin Wage. Pola tersebut kemudian akan berulang mengikuti siklus kalender Jawa.
Baca Juga: Retribusi Wisata Ngreco Blitar Siap Kembali Dipungut, Akses Bendungan Lahor Dibuka untuk Mobil
Dalam video dijelaskan bahwa hari-hari Jatingarang Nogo Tahun sebaiknya tidak digunakan untuk memulai aktivitas penting, seperti membangun rumah, membongkar bangunan, maupun pekerjaan besar lainnya.
Pembicara menyampaikan anjuran tersebut berdasarkan ajaran yang diperoleh dari orang tua dan catatan para leluhur Jawa. Menurutnya, memilih hari lain dianggap sebagai bentuk kehati-hatian terhadap risiko yang dipercaya dapat muncul.
Meski demikian, pembicara kembali menegaskan bahwa seluruh ketentuan dan kebenaran pada akhirnya merupakan kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, hitungan Primbon Jawa diposisikan sebagai pedoman atau referensi bagi masyarakat yang masih mempercayainya, bukan sebagai kepastian yang mutlak terjadi.
Dengan memahami jadwal Jatingarang Nogo Tahun, masyarakat yang masih menggunakan hitungan Primbon Jawa dapat mengetahui hari-hari yang secara tradisi dianjurkan untuk dihindari ketika akan melaksanakan berbagai kegiatan penting.
Source : Sukisworo Channel
Editor : Carissa Emrys Fawnia