JAKARTA - Arah mencari rezeki hari Senin dalam tradisi Primbon Jawa memiliki perhitungan tersendiri. Berdasarkan konsep mati uriping dina atau hidup dan matinya hari, setiap hari dipercaya mempunyai arah tertentu yang dianggap membawa keberuntungan, sekaligus arah yang sebaiknya dihindari.
Konsep tersebut disebut dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna nomor 154. Perhitungan ini menjadi salah satu pedoman tradisional untuk menentukan arah perjalanan ketika seseorang hendak mencari nafkah, pekerjaan, sandang pangan, karunia, hingga jodoh.
Untuk arah mencari rezeki hari Senin, arah selatan atau ngidul disebut sebagai arah yang memiliki nilai baik. Sementara itu, arah timur dan barat masuk dalam kategori yang sebaiknya dihindari, sedangkan utara disebut sebagai patining dina atau matinya hari.
Selatan Disebut sebagai Arah Baik Hari Senin
Dalam perhitungan yang dibahas pada video, selatan menjadi arah yang disebut sebagai uriping dina atau hidupnya hari untuk Senin.
Artinya, seseorang yang hendak bepergian untuk mencari nafkah atau pekerjaan pada hari Senin dalam kepercayaan primbon disarankan menuju arah selatan. Arah tersebut dipercaya dapat membuka jalan menuju kelancaran rezeki, keberuntungan, kesuksesan, serta kemudahan dalam menghadapi persoalan.
Dalam istilah Jawa, arah selatan dikenal sebagai ngidul. Perhitungan semacam ini menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Arah Mencari Rezeki Menurut Weton Jawa, Benarkah Menentukan Kelancaran Rezeki? Ini Daftar Lengkapnya
Bagi masyarakat yang masih menjalankan tradisi tersebut, arah selatan dapat dijadikan salah satu pertimbangan sebelum berangkat bekerja atau menjalankan aktivitas usaha pada hari Senin.
Timur dan Barat Masuk Pantangan
Selain menentukan arah yang dianggap baik, Primbon Jawa juga mengenal laranganing dina atau pantangan hari.
Untuk hari Senin, arah yang masuk kategori tersebut adalah timur atau ngetan dan barat atau ngulon. Dalam kepercayaan yang dibahas, kedua arah tersebut sebaiknya tidak dijadikan tujuan utama ketika seseorang bepergian untuk mencari rezeki.
Meski bukan berarti setiap perjalanan ke timur atau barat pasti mendatangkan masalah, perhitungan primbon menempatkannya sebagai arah yang kurang disarankan untuk aktivitas mencari nafkah pada hari Senin.
Konsep ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Jawa, arah perjalanan tidak hanya dipandang berdasarkan lokasi geografis, tetapi juga dikaitkan dengan perhitungan hari.
Utara Disebut sebagai Matinya Hari
Sementara itu, utara atau ngalor disebut sebagai patining dina, yang berarti matinya hari untuk Senin.
Posisi ini menjadi bagian yang paling dihindari dalam perhitungan tersebut. Seseorang yang hendak mencari pekerjaan atau rezeki pada hari Senin disebut sebaiknya tidak memilih arah utara sebagai tujuan utama.
Dalam kepercayaan primbon, arah tersebut dikaitkan dengan kemungkinan munculnya ketidakselarasan, hambatan, maupun kegagalan dalam upaya mencari nafkah.
Karena itu, jika mengikuti perhitungan mati uriping dina, arah selatan menjadi pilihan utama, sedangkan timur dan barat termasuk pantangan, serta utara menjadi arah yang paling tidak disarankan.
Tradisi Primbon Jawa dan Kehidupan Modern
Arah mencari rezeki hari Senin merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan Primbon Jawa. Perhitungan tersebut tidak dapat dianggap sebagai metode ilmiah untuk memastikan seseorang memperoleh rezeki atau mengalami kegagalan.
Dalam kehidupan nyata, keberhasilan mencari nafkah tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kesempatan kerja, kondisi ekonomi, kemampuan, strategi usaha, hingga keputusan seseorang dalam mengelola penghasilan.
Namun, sebagai warisan budaya, konsep mati uriping dina menarik untuk dipelajari karena memperlihatkan cara masyarakat Jawa terdahulu memaknai hari dan arah perjalanan.
Bagi masyarakat yang masih mempercayainya, perhitungan tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar sebelum beraktivitas. Sementara itu, keputusan penting terkait pekerjaan dan usaha tetap perlu mempertimbangkan kondisi nyata agar tidak semata-mata bergantung pada perhitungan tradisional.
Editor : Rangga Rizki SaputraSumber : @KITABPRIMBON