JAKARTA - Cara menjaga hubungan sehat dengan pasangan tidak hanya soal komunikasi dan perhatian. Salah satu hal yang sering dilupakan adalah kemampuan menetapkan batasan atau boundaries. Batasan membantu setiap orang memahami bagaimana dirinya ingin diperlakukan sekaligus menjaga kenyamanan dalam hubungan.
Baca Juga: Hari Pantangan Tahun Be 2026 Menurut Primbon Jawa, Simak Daftar Hari Sangar Versi Aboge dan Asapon
Dalam hubungan, cara menjaga hubungan sehat dengan pasangan dapat dimulai dengan memahami kebutuhan pribadi. Setiap orang memiliki ruang fisik, emosional, dan waktu yang berbeda. Karena itu, pasangan perlu saling memahami batasan agar kedekatan tidak berubah menjadi rasa tertekan atau saling mengontrol.
Menentukan boundaries bukan berarti seseorang bersikap egois. Sebaliknya, batasan merupakan aturan yang dibuat untuk melindungi diri, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan batasan yang jelas, seseorang dapat menentukan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya.
Mengenal Jenis Batasan dalam Hubungan
Ada beberapa jenis batasan yang penting dipahami dalam hubungan dengan pasangan maupun orang-orang terdekat.
Pertama, batasan fisik. Batasan ini berkaitan dengan ruang pribadi dan kontak fisik. Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda terhadap sentuhan, pelukan, rangkulan, atau kedekatan jarak.
Dalam hubungan pasangan, batasan fisik tetap penting meskipun tingkat kedekatan sudah tinggi. Kedekatan bukan berarti semua tindakan otomatis diperbolehkan. Persetujuan dan kenyamanan tetap perlu diperhatikan.
Kedua, batasan emosional. Batasan ini berkaitan dengan seberapa jauh seseorang ingin membagikan perasaan, pikiran, maupun masalah pribadi kepada pasangan.
Hubungan yang sehat memang membutuhkan keterbukaan. Namun, keterbukaan bukan berarti seseorang wajib menceritakan seluruh hal tentang dirinya setiap saat. Ada kondisi tertentu yang membutuhkan waktu dan ruang pribadi.
Ketiga, batasan waktu. Pasangan juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki aktivitas lain, seperti pekerjaan, keluarga, pertemanan, hingga waktu untuk diri sendiri.
Memberikan waktu kepada pasangan memang penting, tetapi menghabiskan seluruh waktu bersama bukan satu-satunya tanda hubungan yang sehat.
Mengapa Menentukan Boundaries Terasa Sulit?
Salah satu penyebab seseorang kesulitan menetapkan batasan adalah pengaruh budaya dan keluarga. Dalam lingkungan yang mengutamakan kebersamaan, seseorang terkadang terbiasa menganggap kedekatan sebagai kewajiban untuk selalu terbuka dan melakukan berbagai hal bersama.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak enak ketika ingin menolak permintaan orang lain. Akibatnya, batasan pribadi menjadi sulit disampaikan.
Padahal, mengatakan tidak terhadap sesuatu yang membuat tidak nyaman bukan berarti tidak menyayangi pasangan. Batasan justru dapat membantu kedua pihak memahami kebutuhan masing-masing.
Komunikasikan Batasan dengan Jelas
Baca Juga: Hari Sangar Tahun Be 2026 Menurut Primbon Jawa, Ini Daftar Pantangan untuk Nikah hingga Buka Usaha
Cara menjaga hubungan sehat dengan pasangan berikutnya adalah membicarakan batasan secara asertif. Artinya, seseorang menyampaikan keinginan dan ketidaknyamanannya dengan jelas tanpa merendahkan atau menyalahkan pasangan.
Batasan juga perlu disampaikan secara konsisten. Jika seseorang meminta pasangannya menghormati ruang pribadi, ia juga harus menghormati ruang pribadi pasangannya.
Prinsipnya sederhana: jangan meminta sesuatu yang tidak sanggup kita berikan kepada orang lain.
Selain itu, setiap orang perlu siap menghadapi reaksi pasangan. Tidak semua orang langsung memahami atau menerima batasan yang dibuat. Namun, seseorang tetap memiliki hak untuk menjaga kenyamanan dirinya.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat membutuhkan rasa saling menghormati. Kejelasan dan konsistensi menjadi dua hal penting dalam membangun boundaries. Dengan memahami kebutuhan diri sendiri, berkomunikasi secara terbuka, serta menghormati batasan pasangan, hubungan dapat berjalan lebih nyaman tanpa kehilangan ruang pribadi masing-masing.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Nous Consulting Indonesia